MASAKINI.CO – Di pinggir jalan belakang Mal Pelayanan Publik Aceh Besar, sebuah lapak reparasi sepatu berdiri di bawah naungan terpal. Meja kayu yang mulai usang menjadi tempat Abdul Majid bekerja. Di atasnya, sejumlah sepatu dan sandal menunggu diperbaiki.
Pria berusia 51 tahun itu duduk dengan jarum dan benang di tangan. Ia memeriksa bagian sepatu yang rusak, lalu mulai menjahitnya dengan teliti. Pekerjaan tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya sejak 2005.
Selama 21 tahun, Abdul mengandalkan keterampilan memperbaiki alas kaki untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pekerjaan itu bermula setelah tsunami Aceh pada 2004, ketika ia mencoba mencari jalan untuk membangun usaha sendiri.
Sebelumnya, Abdul bekerja sebagai kuli bangunan. Keinginannya membuka usaha terkendala modal. Ia kemudian memilih belajar memperbaiki sepatu, pekerjaan yang bisa dimulai dengan peralatan sederhana.
“Awalnya saya mau buka usaha, tapi belum punya modal. Akhirnya saya belajar perbaiki sepatu ini, dan terus bekerja sampai sekarang,” ujarnya, Rabu (14/10/2026).
Dari keterampilan yang dipelajarinya itu, Abdul membangun sumber penghasilan untuk menghidupi istri dan empat anaknya. Ia menerima berbagai jenis alas kaki untuk diperbaiki, mulai dari sepatu yang jahitannya lepas hingga sandal yang rusak.
Tarif reparasi berkisar Rp25.000 hingga Rp35.000 per pasang, bergantung pada bahan dan tingkat kesulitan. Sepatu berbahan lebih tebal atau membutuhkan pengerjaan lebih rumit biasanya dikenakan biaya lebih tinggi.
Untuk menyelesaikan satu pasang sepatu, Abdul membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga satu jam. Ia memperkirakan penghasilannya mencapai Rp300.000 sampai Rp500.000 per hari, bergantung pada jumlah pekerjaan yang diterima.
Penghasilan tersebut menjadi penopang kebutuhan rumah tangganya. Anak tertuanya kini berusia 24 tahun, sedangkan anak bungsunya masih duduk di kelas V sekolah dasar. Dengan rentang usia anak yang cukup jauh, kebutuhan keluarga pun terus berjalan.
Abdul mengakui penghasilannya belum selalu membuat keadaan ekonomi keluarga terasa lapang. Namun, ia berusaha menerima hasil kerjanya dengan rasa syukur.
“Untuk dikatakan cukup, ya harus disyukuri. Dicukup-cukupkan meskipun terasa pas-pasan. Terasa sedikit ringan ketika Lebaran datang. Di waktu itu ada banyak ibu-ibu yang datang memperbaiki sepatu untuk hari Lebaran,” tuturnya.
Menurut Abdul, jumlah pelanggan saat ini tidak seramai dahulu. Perubahan itu ia rasakan di tengah rutinitas yang telah dijalani selama lebih dari dua dekade. Meski begitu, ia tetap membuka lapaknya dan mengerjakan sepatu yang datang satu per satu.
Baginya, pekerjaan tersebut masih bisa dijalani meski usia terus bertambah. Reparasi sepatu tidak menuntut tenaga sebesar pekerjaan yang pernah dilakukannya sebagai kuli bangunan. Selama masih mampu bekerja, ia memilih bertahan dengan keterampilan yang dimilikinya.
Pilihan itu juga berkaitan dengan keterbatasan untuk memulai pekerjaan lain. Beralih profesi membutuhkan modal, sementara mencari pekerjaan sebagai pegawai pada usia yang tidak lagi muda bukan perkara mudah baginya.
“Mau beralih profesi, modal saya masih belum cukup. Untuk menjadi pegawai di usia tua enggak mudah kalau enggak ada orang dalam. Jadi, namanya kita manusia, harus tetap berusaha apa pun keadaannya,” katanya.
Abdul tidak banyak menuntut dari pekerjaan yang telah dijalaninya. Selama masih ada pelanggan dan tubuhnya sanggup bekerja, ia akan terus memperbaiki sepatu di lapak sederhananya. Setiap jahitan yang selesai menjadi bagian dari upayanya memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun, ia tidak ingin anak-anaknya harus menjalani pekerjaan yang sama. Ia berharap mereka kelak memiliki pekerjaan atau usaha sendiri yang dapat menopang kehidupan mereka.
Harapan itu bukan berarti Abdul memandang rendah pekerjaannya. Selama 21 tahun, reparasi sepatu telah menjadi jalan yang ia tempuh untuk bertahan dan menjalankan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ia hanya ingin anak-anaknya memiliki kesempatan untuk memilih jalan hidup yang berbeda.
Penulis: Alya Ulfa









Discussion about this post