MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Juni 10, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Perjuangan Agus Menyeka Lumpur dan Luka Pascabencana

Riska Zulfira by Riska Zulfira
22 Desember 2025
in Cerita, Headline
0

Agus Juanda (26) warga desa Pante Baro Gle Sibla, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen membersihkan lumpur di rumahnya | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Lumpur setebal satu setengah meter menutupi halaman rumah Agus Juanda. Setiap langkahnya terasa berat, terseret tanah basah yang membeku di antara kaki. 

Cangkul dan tangan yang berlumur tanah menjadi alat satu-satunya untuk menyingkirkan sisa-sisa banjir bandang yang masih menempel di setiap sudut rumah. Debu, bau tanah, dan air yang menggenang di lantai menyatu menjadi aroma bencana yang belum hilang.

RelatedPosts

Tujuh Dapur MBG di Banda Aceh Tutup Sementara Akibat Dana Operasional Belum Cair

Karhutla di Nagan Raya Meluas 95 Hektar, Pemadaman Terkendala Angin Kencang

Satpol PP-WH Banda Aceh Awasi Aktivitas Media Sosial yang Dinilai Tak Wajar

Di desa Pante Baro Gle Sibla, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, rumah Agus satu dari ratusan rumah yang parah tertimbun longsor. Ia bersama keluarga bergotong royong membersihkan gunungan tanah yang mengeras. 

“Tanah setinggi satu setengah meter harus kami kerok. Kita kerok sendiri pakai tangan dan cangkul, tapi hasilnya minim,” kata Agus sambil menyeka keringat di dahinya, Senin (22/12/2025).

Bagi Agus, membersihkan rumah pascabanjir bukan sekadar urusan kenyamanan. Tapi untuk kebutuhan mendesak agar bisa kembali menempati rumah sendiri. Pria 26 tahun ini rela menyewa alat berat jenis eskavator agar kendaraan yang terperangkap dalam lumpur bisa dikeluarkan. 

Agus menyewa beko, seharga Rp700 ribu per jam. Dua jam pengerjaan saja, artinya Rp1,4 juta hanya untuk halaman depan.

“Mau tidak mau kita harus mengeluarkan biaya besar, karena kalau lakuin sendiri tidak sanggup,” ujarnya. 

Di bagian dalam rumah, lumpur menutupi lantai hingga beberapa sentimeter. Agus menyewa beberapa tenaga tambahan untuk membantu membersihkan, karena sendirian ia tidak mampu. Belum lagi halaman samping dan belakang rumah yang masih menunggu giliran dibersihkan.

Rasa berat tidak hanya datang dari fisik. Agus memikirkan tetangganya yang kurang mampu, yang tidak bisa menyewa alat atau tenaga tambahan. Mereka harus mulai dari nol, mengerahkan seluruh tenaga untuk membersihkan rumah sendiri.

“Gimana dengan keluarga lain yang tidak mampu? Mereka harus kerja sendiri dari awal. Itu yang bikin kita prihatin,” kata Agus, lirih.

Meski lelah dan biaya yang dikeluarkan cukup besar, Agus dan keluarganya tetap bertahan dengan harapan sederhana, kembali pulang ke rumah sendiri. Bisa tidur di tempat yang menjadi rumah, bukan hanya ruang yang terselubung lumpur dan debu.

“Kami hanya ingin kembali ke rumah masing-masing. Bisa tidur di rumah sendiri sudah membuat nyaman. Semua warga di sini terdampak,”ujarnya dengan mata yang terlihat letih namun penuh tekad.

Di sela-sela bunyi beko yang membelah lumpur dan debu yang beterbangan, perjuangan Agus menggambarkan keteguhan hati ribuan warga Aceh yang terdampak banjir. Di balik keringat dan lumpur yang menempel di tubuhnya, Agus tetap menatap halaman rumah dengan keyakinan bahwa suatu hari, rumah itu akan kembali menjadi tempat yang hangat dan nyaman untuk pulang. 

Tags: Banjir AcehBireuenKisah WargaLumpur BanjirPascabencanaPerjuangan Hidup
Previous Post

Banjir Putus Akses, Ahmad Handoko Tempuh 136 Kilometer Demi Akad Nikah

Next Post

Baju Donasi Tak Layak, Pengungsi Pidie Jaya Masih Kekurangan Pakaian

Related Posts

Enam Bulan Pascabencana, Gubernur Minta Prioritas Pemulihan Sawah dan Irigasi Terdampak

by Redaksi
10 Juni 2026
0

MASAKINI.CO - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menegaskan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam pemulihan dampak banjir dan longsor...

Jemaah Haji Aceh yang Wafat di Tanah Suci Bertambah Jadi Lima Orang, Terbaru Asal Bireuen

by Riska Zulfira
31 Mei 2026
0

MASAKINI.CO - Jumlah jemaah haji Embarkasi Banda Aceh yang meninggal dunia di Tanah Suci kembali bertambah. Hingga 31 Mei 2026,...

Di Antara Barak dan Doa

by Hendra Syamhari
28 Mei 2026
0

MASAKINI.CO - Gema takbir dari Masjid Darussalam memecah subuh di kompleks Hunian Sementara (Huntara) Kampung Simpang Empat Opak, Kecamatan Karang...

Next Post
Pakaian hasil donasi untuk korban bencana di Pidie Jaya | Foto: Riska Zulfira/masakini.co

Baju Donasi Tak Layak, Pengungsi Pidie Jaya Masih Kekurangan Pakaian

Menggapai Desa yang Terputus

31 Korban Bencana di Aceh Masih Dalam Pencarian

Discussion about this post

CERITA

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

24 Mei 2026

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co