MASAKINI.CO – Menikmati senja sambil menyeruput kopi Aceh tak harus dari tepi pantai. Di Desa Wisata Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh pengunjung bisa naik perahu, bergerak mendekati kawasan kapal tongkang, lalu menikmati matahari perlahan tenggelam di cakrawala laut.
Pengalaman ini ditawarkan melalui paket coffee sunset, salah satu wisata bahari yang dikembangkan masyarakat setempat.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Ulee Lheue, Dara Mastura, mengatakan pengunjung tak hanya diajak menikmati pemandangan laut, tetapi juga merasakan suasana senja dari sudut yang berbeda. Kopi Aceh dan kesempatan mengabadikan momen dengan latar laut menjadi bagian dari pengalaman tersebut.
“Yang paling menarik itu sunset dan coffee sunset. Kita naik perahu ke dekat kapal tongkang, lalu bisa melihat sunset lebih dekat sambil menikmati kopi Aceh,” kata Dara, Kamis (22/10/2026).
Bagi yang ingin mencoba wisata bahari ini, pengelola menawarkan paket berkeliling menggunakan perahu dengan tarif Rp50.000 per orang. Harganya sudah termasuk minuman dan makanan ringan, seperti kopi serta aneka kue khas Aceh.

Pilihan lainnya adalah banana boat dengan tarif Rp50.000 per orang. Pengunjung yang ingin menjelajahi keindahan bawah laut juga bisa mengikuti aktivitas snorkeling. Namun, kegiatan ini perlu dipesan terlebih dahulu agar pengelola dapat menyiapkan pemandu dan peralatan sesuai waktu kunjungan.
Urusan kuliner pun tak ketinggalan. Dengan tarif Rp100.000 per orang, pengunjung dapat menikmati paket makan yang menyajikan hidangan laut, seperti ikan bakar, masakan berkuah, hingga lobster dengan saus asam manis atau saus Padang. Menu juga bisa disesuaikan dengan permintaan, termasuk masakan khas Aceh.
Layanan wisata bahari mulai tersedia sekitar pukul 10.00 WIB. Pengunjung dapat menghubungi Dara sebagai ketua Pokdarwis, mengakses Instagram @desawisatauleelheu, atau berkoordinasi dengan perangkat desa untuk mengatur kunjungan.
Namun, pengalaman di atas perahu bukan satu-satunya alasan untuk singgah ke Ulee Lheue. Desa wisata yang berada di Kecamatan Meuraxa ini juga terdapat Masjid Baiturrahim dan situs sejarah tsunami yang membawa pengunjung mengenal sisi religi dan sejarah perjalanan masyarakat Aceh.
Dara mengatakan, kegiatan wisata di kawasan tersebut telah berjalan sejak 2016 dengan pengelola yang berbeda. Pokdarwis sendiri mulai mengelolanya pada 2019 dan terus mengembangkan potensi alam yang tersedia menjadi beragam pilihan aktivitas wisata.
Dalam prosesnya, pengelola mendapatkan binaan dari Bank Indonesia serta dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Meski pilihan aktivitas terus dikembangkan, pengelola masih menghadapi tantangan dalam mengajak lebih banyak warga terlibat. Dara mengatakan, jumlah sumber daya manusia yang aktif masih terbatas sehingga operasional wisata kerap ditangani oleh orang-orang yang sama.
“Kami merangkul orang-orang yang mau terlibat. Kalau hanya menunggu semua orang ikut, wisata ini tidak akan berkembang,” ujarnya.
Selama ini, pengunjung yang datang didominasi anak muda Aceh. Wisatawan mancanegara, termasuk dari Malaysia, juga pernah singgah untuk menikmati kawasan tersebut.
Dara berharap wisata Ulee Lheue semakin dikenal luas dan menarik lebih banyak pengunjung, baik dari berbagai daerah di Indonesia maupun dari luar negeri. Dengan potensi laut, senja, kuliner, serta jejak sejarah yang dimiliki, Ulee Lheue menawarkan pengalaman wisata yang bisa dinikmati dalam satu kawasan.








Discussion about this post