MASAKINI.CO – Dua helai kain putih bergelantung vertikal di atas lengkungan rotan, diapit rangkaian bunga putih di sebelahnya. Melambai-lambai. Seolah menyambut para tetamu yang datang dari jauh menuju sudut Gampong Punti, Syamtalira Bayu, Aceh Utara.
Di bawahnya, susunan aksara indah terpampang, menyapa setiap langkah yang merapat ke kediaman Paula Isa.
“Rindu tentu tak hanya terbentang di antara;
Asrama dan asrama, Bayu dan Gandapura
Bireuen dan Aceh Utara, Bandung dan Banda
Sigi dan Maluku Barat Daya, Jogja dan Jakarta
Namun terbentang antara ketidakpastian berdiorama”
Bait itu mengalir syahdu, seakan merangkum perjalanan panjang yang akhirnya berlabuh. Dan di situlah Haikal Riza berdiri. Pemilik puisi itu melangkah pasti ke kediaman sang mempelai wanita. Perempuan yang baru saja sah ia ikrarkan dalam satu lafaz akad.
Hari bahagia itu lama dinanti. Bayu dan Gandapura bukan pelengkap rima, tapi penanda ibu kota kecamatan; asal kedua mempelai.
Jarak dan waktu menguji kesetiaan mereka dalam lembaran kisah yang panjang. Haikal menimba ilmu sastra di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, sementara Paula menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Cinta dan pengabdian terus menguji langkah. Program Indonesia Mengajar membawa Haikal mengabdi di Maluku Barat Daya, sedangkan Paula bertugas ke Sigi, Sulawesi Tengah. Selepas pengabdian, jarak kembali membentang saat Haikal melanjutkan studi Magister Sastra di UGM, Jogja, dan Paula bekerja di Jakarta.
Rasa yang dirawat dan rindu yang diperam waktu itu kemudian tergubah dalam bait lain pada batang tubuh puisi serupa:
“Sekalipun aku seorang pujangga
Sulit diri ini untuk menggambarkan kata-kata
Malam-malam pekat berselimut gigil tapa
Aku hanya mampu melangitkan doa-doa”
Puisi itu sudah dinukil lama, tapi Haikal mengaku tak kunjung selesai. Entah mengapa, katanya, jelang hari H, barulah puisinya sempurna.
Rekam jejak sastranya juga terus matang; puisinya sempat hadir di koran Serambi dan pernah dipamerkan di Museum Tsunami Aceh pada acara Pertemuan Penyair Nusantara XIV 2026 dengan judul Deforestasi Depresi. Hari itu, doa yang lama dipanjatkan, maqbul jua.
Berbalut dress putih, Paula tampak sumringah. Walau sempat sungkan, kini ia tampak lebih percaya diri menggandeng tangan Haikal. Berdiri keduanya di depan dekorasi menyerupai instalasi seni.
“Hampir sebulan konsep begini terpikirkan. Pembuatannya kalau dihitung ulang, mungkin seminggu jadi,” ungkap Paula.
Instalasi seni dengan helai kain puisi hadir tidak lepas dari kegemaran Paula terhadap dunia seni. Latar belakangnya memang lekat dengan gerakan sosial dan ruang kreatif. Ia aktif di Taman Edukasi Aceh sebagai penggerak pendidikan sejak 2016 hingga 2022, serta sempat mengelola Malam Puisi Aceh (MPA) pada 2018–2020.
Dari dunia sastra dan komunitas itu, Paula melangkah memperdalam seni rupa. Mulai dari coffee painting pada 2019 hingga watercolour painting, di mana karyanya bertajuk Cermin Diri sempat mejeng di ajang Aceh Art Peace Camp 2022.
Berbekal rasa seni itu, Paula ingin menghadirkan konsep yang sederhana namun beda.
“Sejujurnya kami ingin konsep pernikahan yang beda dari Gen Z lainnya. Terus memang bukan tipe yang suka post-wed konsep mainstream,” jelasnya.
Itulah mengapa, Paula dan Haikal mencoba menyatukan seni dan sastra keduanya, lalu diwujudkan dalam sebuah karya instalasi.
Prosesnya pun unik; bait puisi Haikal mulanya dilukis di tab terlebih dahulu, baru kemudian dicetak dengan teknik DTF pada medium kain, karena bahannya memakan waktu pengerjaan yang tidak mudah.
Tak hanya kain puisi di area dekorasi utama, satu karya lukisan bingkai milik Paula juga turut dipajang di sudut ruang lain.
“Sempat bahas bersama juga, karena awalnya kurang berminat untuk buat photo booth yang sudah ramai orang pakai. Maka hadirlah puisi itu, lantaran fotografer juga sudah disewa. Sayang kalau cuma foto-foto akad dan jamuan keluarga saja,” jelas Haikal.
Hari bahagia itu, Senin (26/10/2026) menjadi langkah mula Haikal-Paula menapaki babak baru dalam hidup. Keduanya berharap, bisa langgeng hingga maut memisahkan. Sebagaimana kokohnya rumah tangga kedua pihak orangtua. Doa itu, terpatri pada pada helai kain puisi pendamping:
“Pada akhirnya kita hanya mampu berterima kasih
Pada dua pasang manusia
Yang telah:
Melahirkan
Membesarkan
Membasuh
Segala jiwa lara;
Mak dan Ayah
Dan, kelak kita
Semoga mampu menyandang tanggung jawab itu jua;
Selamanya”
Di sudut Punti, kisah panjang yang diuji jarak dan waktu itu menemukan rumahnya yang paling tenang. Berbalut sastra dan seni rupa, hari itu cinta yang dirawat dengan sabar, tahu bagaimana cara berlabuh paling indah.







Discussion about this post