MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Jumat, Mei 15, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Ie Bu Peudah Warisan yang Eksis di Bulan Puasa

Riska Zulfira by Riska Zulfira
13 Maret 2025
in Cerita
0
Ie Bu Peudah Warisan yang Eksis di Bulan Puasa

Proses pembuatan Ie Bu Peudah di Desa Limpok, Aceh Besar. (foto: Riska Zulfira/masakini.co)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Asap tipis mengepul dari belanga besar berisi ramuan khas berwarna cokelat kehitaman. Aromanya mengeluarkan perpaduan dedaunan dan rempah.

Hari itu halaman meunasah di Desa Limpok, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar tampak ramai.

RelatedPosts

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

Dari Kuli Panggul ke Pencerita Visual, Perjalanan Sunyi Yulzi di Balik Lensa

Warga datang ramai-ramai membawa wadah. Wadah itu untuk membawa pulang sajian tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Ie Bu Peudah (bubur pedas) namanya.

Sajian kuliner unik ini hanya ditemui saat Ramadan tiba, dan hanya ada di Aceh Besar.

Tradisi ini bukan sekadar memasak makanan biasa. Bagi masyarakat Limpok, Ie Bu Peudah adalah warisan berharga.

“Saya tidak tahu persis kapan tradisi ini dimulai. Tapi yang jelas, sebelum saya lahir pun sudah ada,” ujar pembuat Ie Bu Peudah, Safrizal, Rabu (12/3/2025).

Persiapan memasak Ie Bu Peudah dimulai sejak awal bulan Rajab, dua bulan sebelum Ramadan. Saat itulah warga mulai berburu dedaunan khas yang menjadi bahan utama ramuan ini.

Perjalanan mencari dedaunan tidak mudah. Terkadang, mereka harus menjelajah hingga ke kawasan Lamteuba, wilayah yang dikenal memiliki hutan lebat dan berbukit.

Laki-laki dan perempuan turun tangan, menyusuri hutan demi mengumpulkan dedaunan yang dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh.

44 jenis daun menjadi bahan utama dalam pembuatan Ie Bu Peudah. Bukan daun utuh, melainkan daun yang telah dihancurkan.

“44 jenis daun ini adanya di hutan. Kami berbagi tugas di setiap dusun, jadi seluruh masyarakat di desa ini ikut terlibat,” kata Afrizal.

Setelah dedaunan terkumpul, proses panjang lainnya menanti. Daun-daun itu harus dijemur hingga benar-benar kering. Tangkainya pun ikut dihaluskan saat digiling, agar khasiatnya menyatu sempurna dalam ramuan.

Selain dedaunan, bahan lain yang tak kalah penting adalah beras dan singkong. Setiap harinya, mereka memasak dengan menggunakan 10 muk (takaran kaleng susu) beras yang dibeli dengan dana gampong.

Saling membantu jadi komitmen masyarakat Limpok. Dulu beras yang digunakan untuk pembuatan Ie Bu Peudah dibeli dari petani sawah dengan kondisi ekonomi kurang mampu.

“Supaya mereka mendapatkan tambahan pendapatan sekaligus saling membantu. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” kenang Afrizal.

Usai zuhur, dua pemuda mulai memasak. Meski ini ramuan leluhur, para anak muda di desa tersebut sudah sangat paham untuk memasak Ie Bu Peudah.

Ramuan ini dimasak selama kurang lebih 1,5 jam, dengan pengadukan yang terus-menerus agar teksturnya merata dan tidak gosong. Pada pukul 15.00 WIB, ramuan mulai matang dan siap dibagikan.

Biasanya mereka hanya masak satu belanga besar yang cukup untuk 1.500 warga. Meski semua dapat, tak jarang ada sebagian warga yang memilih tidak mengambil penganan ini.

Namun warga yang percaya ie Bu Peudah bukan hanya sekadar tradisi, melainkan ramuan mujarab yang berkhasiat bagi kesehatan tubuh tak pernah absen.

Masyarakat Limpok meyakini Ie Bu Peudah memiliki manfaat kesehatan. Misalnya, membuat tubuh lebih sehat dan bugar, memperkuat daya tahan tubuh hingga mengatasi berbagai keluhan kesehatan ringan seperti masuk angin, sakit perut, dan pegal-pegal.

“Ini seperti obat tradisional. Khasiatnya bagus untuk kesehatan dalam tubuh,” jelas Afrizal.

Tags: Aceh BesarBulan PuasaIe Bu PeudahKuliner Khas AcehRamadan 2025
Previous Post

Imam dari Mesir akan Isi Qiyamullail di Banda Aceh, Ini Lokasi Masjidnya

Next Post

Hasil Uji BPOM, Takjil di Banda Aceh Aman Dikonsumsi

Related Posts

Jalan Kajhu Dinilai Kian Padat, Bupati Aceh Besar Usul Pelebaran Ruas

by Redaksi
14 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Bupati Aceh Besar, Muharram Idris mengusulkan pelebaran ruas Jalan Kajhu hingga pintu Tol Baitussalam sebagai langkah mengatasi kepadatan...

Aceh Besar Percepat Pembangunan SPAM Regional untuk Atasi Krisis Air Bersih

by Riska Zulfira
9 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menegaskan komitmennya mendukung pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Aceh Besar–Banda Aceh sebagai...

Kabel PLN Dipotong Pencuri, Satu Jalur Listrik di Lambaro Sempat Padam

by Riska Zulfira
9 Mei 2026
0

MASAKINI.CO – Aksi pencurian di kawasan Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, semakin nekat. Setelah meteran air dan mesin pompa,...

Next Post
Hasil Uji BPOM, Takjil di Banda Aceh Aman Dikonsumsi

Hasil Uji BPOM, Takjil di Banda Aceh Aman Dikonsumsi

Wajah Baru Lini Depan Timnas Indonesia

Wajah Baru Lini Depan Timnas Indonesia

Discussion about this post

CERITA

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

Dari Kuli Panggul ke Pencerita Visual, Perjalanan Sunyi Yulzi di Balik Lensa

1 Mei 2026

Berawal dari Angka Impor, Lahir Tempe Koro dari Dapur Aceh

1 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co