MASAKINI.CO – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, tampil sebagai pembicara di ajang INACRAFT 2025, Jakarta Convention Center (JCC), memaparkan potensi nilam Aceh sebagai komoditas unggulan yang mampu mendunia. Dalam talkshow bertema “Nilam Aceh Harumkan Dunia, Teguhkan Identitas”, Illiza menekankan pentingnya nilam dalam memperkenalkan identitas baru Banda Aceh sebagai Kota Parfum Indonesia.
Talkshow tersebut juga menghadirkan Ketua ARC Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Saiful, dan Wakil Ketua II Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI), Hj. Baby Jurmawati Djuri. Mereka membahas strategi pengembangan industri nilam Aceh dari hulu ke hilir, menarik perhatian para buyer internasional, perajin, pelaku UMKM, dan akademisi.
Illiza menyatakan bahwa partisipasi Banda Aceh di INACRAFT bukan sekadar pameran produk, melainkan upaya memperkenalkan identitas baru kota. “Banda Aceh datang dengan identitas baru: Kota Parfum Indonesia. Nilam adalah bintang utamanya,” ujarnya, menekankan bahwa nilam adalah anugerah yang dapat mengharumkan Aceh di seluruh dunia.
Nilam Aceh telah lama dikenal berkualitas tinggi, menarik minat negara-negara pusat industri parfum seperti Prancis. Illiza menyebutkan bahwa kebutuhan pasar dunia mencapai 2 hingga 5 ton per bulan, sementara produksi nilam Aceh mulai bangkit dengan capaian lebih dari 1,27 ton senilai lebih dari satu miliar rupiah pada tahun lalu. “Angka ini memang belum besar, tapi menjadi sinyal kuat bahwa nilam bisa menjadi pintu rezeki besar bagi masyarakat Aceh,” tambahnya.
Illiza juga menyoroti peran ARC USK dalam berinovasi, termasuk ekspor langsung satu ton minyak nilam ke Prancis dan digitalisasi rantai pasok melalui sistem ERP MyNilam hasil kolaborasi USK dengan ILO. “Inilah bukti nyata bahwa jika kampus, pemerintah, dan masyarakat bergerak bersama, Banda Aceh bisa melangkah menjadi Kota Parfum Indonesia,” tegasnya.
Wali Kota mengapresiasi generasi muda Aceh yang menekuni industri parfum dan kreatif, dengan UMKM muda binaan ARC USK melahirkan produk parfum lokal berbahan nilam yang dipamerkan di ajang nasional. “Produk Aceh bukan sekadar aroma, tapi aroma dengan cerita, identitas, dan ruh,” ucapnya.
Pemerintah Kota Banda Aceh memiliki program prioritas untuk memperkuat identitas kota sebagai pusat industri parfum nasional, termasuk Pameran Parfum Internasional, Sekolah Parfum, Galeri Parfum Banda Aceh, dan Diplomasi Parfum. Illiza optimistis Banda Aceh akan dikenal sebagai Kota Parfum Indonesia yang harum dengan identitasnya sendiri.
“Bayangkan jika suatu hari parfum dengan label Made in Banda Aceh berdiri sejajar dengan Chanel atau Dior di rak dunia. Itu bukan sekadar mimpi, tapi visi yang sedang kita wujudkan,” ungkapnya. Illiza mengajak seluruh pihak untuk terus berkolaborasi mewujudkan visi tersebut. “Dengan nilai, budaya, dan ilmu – kita harumkan dunia, mulai dari Banda Aceh,” pungkasnya.









Discussion about this post