MASAKINI.CO – Upaya Jerome Boateng untuk kembali bergabung dengan Bayern Munchen sebagai asisten teknis di bawah Vincent Kompany berakhir dengan pengunduran diri paksa. Keputusan ini diambil setelah gelombang penolakan dari para penggemar klub.
Ribuan pendukung Bayern menandatangani petisi yang menuntut klub untuk “menetapkan batasan terhadap kekerasan misoginis.” Spanduk-spanduk dengan pesan seperti “Tidak ada tempat untuk penjahat di klub kami, tidak ada lagi ruang untuk Boateng” juga muncul di Allianz Arena. Tekanan sosial yang kuat membuat Boateng mengumumkan pengunduran dirinya agar “tidak merugikan klub” dengan kontroversi yang melingkupinya.
Kontroversi ini bermula dari dua episode berbeda dengan mantan pasangannya. Pada tahun 2018, Boateng dan ibu dari anak kembarnya, Sherin Senler, terlibat pertengkaran saat berlibur di Karibia. Menurut laporan, Boateng menghina, memukul, dan menggigit Senler, menyebabkan luka di wajahnya. Boateng mengakui adanya pertengkaran sengit, tetapi membantah telah melakukan kekerasan.
“Kasus ini dibawa ke pengadilan pada tahun 2021, di mana Boateng dinyatakan bersalah atas tindak pidana penganiayaan dan dijatuhi denda sebesar Rp29,7 miliar,” lapor marca, Senin (27/10/2025). Boateng mengajukan banding, dan pada tahun 2022, pengadilan banding menguatkan vonis tersebut, meskipun mengurangi denda menjadi Rp19,8 miliar. Setelah beberapa kali banding dan peninjauan karena kesalahan prosedural, proses hukum kembali digelar dan berakhir pada Juli 2024 dengan keputusan baru.
Dalam putusan terakhir, pengadilan menyatakan Boateng bersalah atas tindak pidana penganiayaan ringan yang disengaja, tetapi menolak tuduhan yang lebih serius. Hakim menjatuhkan denda sebesar Rp3,3 miliar dengan penangguhan hukuman, serta peringatan formal dan sumbangan ke badan amal.
“Episode kedua yang terkait dengan Boateng adalah kematian Kasia Lenhardt, seorang model Polandia dan mantan pacar Boateng, pada Februari 2021,” sebut marca. Lenhardt, 25 tahun, ditemukan tewas di apartemennya di Berlin, seminggu setelah keduanya mengumumkan perpisahan mereka. Perpisahan tersebut diwarnai dengan tuduhan saling menyalahkan: Lenhardt mengisyaratkan bahwa dia telah mengalami penganiayaan, sementara Boateng menyatakan bahwa Lenhardt mengancam akan menghancurkan kariernya dan menuduhnya melakukan kekerasan.
Setelah kematian Lenhardt, kantor kejaksaan Munchen membuka kembali penyelidikan sebelumnya atas dugaan penganiayaan dalam hubungan tersebut. Namun, pada Maret 2025, jaksa secara resmi menutup kasus tersebut karena menganggap tidak ada cukup bukti untuk mendukung dakwaan formal.










Discussion about this post