MASAKINI.CO – Proses pemilihan keuchik secara langsung (Pilchiksung) di 37 desa dari sembilan kecamatan di Banda Aceh menuai sorotan.
Salah satu bakal calon keuchik dari Desa Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Rahmat Saiful Bahri, memprotes hasil penilaian Panitia Pemilihan Keuchik (P2K) yang dianggap tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.
Rahmat menilai, P2K tidak mengakomodir nilai pengalaman yang seharusnya ia terima sebagai penjabat (Pj) keuchik selama 10 bulan, sebagaimana diatur dalam Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 26 Tahun 2025 dan Surat Edaran (SE) Wali Kota Banda Aceh sebagai penjelasan tambahan atas perwal tersebut.
Dalam perwal itu disebutkan bahwa calon yang pernah menjabat sebagai keuchik dengan masa kerja kurang dari enam tahun memiliki bobot nilai delapan. “Saya pernah menjabat Pj keuchik selama sepuluh bulan, seharusnya nilai itu saya dapat. Tapi panitia tidak mau mengakomodir,” ujar Rahmat, Selasa (28/10/2025).
Menurutnya, P2K berdalih bahwa surat edaran wali kota hanya bersifat imbauan, bukan aturan yang wajib diikuti. Namun, Rahmat menegaskan bahwa surat edaran tersebut adalah penjelasan resmi dari perwal, bukan sekadar himbauan.
“Kalau surat edaran ini diabaikan, jelas saya dirugikan. Nilai saya jatuh, padahal kalau diakomodir sesuai aturan, saya masuk sebagai calon keuchik,” katanya.
Rahmat juga menjelaskan bahwa proses penyaringan calon keuchik dilakukan berdasarkan sistem penilaian yang mencakup beberapa aspek, seperti pengalaman kerja, pendidikan, usia, dan kemampuan membaca Al-Qur’an. Selain itu, calon wajib melampirkan surat bebas narkoba dan bagi pegawai negeri sipil (PNS) diwajibkan untuk mengajukan cuti.
Ia mengaku telah menyampaikan keberatan kepada pihak Kecamatan Jeulingke dan Pemerintah Kota Banda Aceh. “Panitia sudah dipanggil camat untuk diberikan penjelasan, tapi tetap tidak mau mengakui nilai saya. Saya merasa dizalimi,” ungkapnya.
Rahmat menegaskan, jika tidak ada penyelesaian yang adil, ia akan membawa persoalan ini ke jalur hukum. “Kalau tidak ada kesamaan persepsi dan keadilan, saya siap melakukan gugatan. Karena aturan ini jelas, bukan palsu,” tegasnya.
Pelaksanaan Pilchiksung Banda Aceh tahun ini diatur berdasarkan Perwal Nomor 26 Tahun 2025, yang menetapkan jumlah calon keuchik maksimal lima orang dan minimal dua orang. Jika pendaftar lebih dari lima, maka dilakukan seleksi berbasis penilaian administratif dan kompetensi.










Discussion about this post