MASAKINI.CO – Saat banyak orang memilih bertahan di rutinitas dan kenyamanan, Teuku Muhammad Akrim Saputra justru menyiapkan ransel dan tekadnya. Dari Bandung, ia memutuskan menempuh perjalanan panjang menuju Aceh, bukan untuk urusan pribadi, melainkan untuk satu alasan sederhana: membantu warga yang tengah berjuang di tengah bencana.
Akrim berangkat sebagai relawan mandiri. Tanpa bendera organisasi besar, tanpa dukungan dana kolektif. Seluruh biaya perjalanan pulang-pergi, sekitar Rp10 juta, ia tanggung sendiri. Bagi Akrim, keputusan itu tidak pernah menjadi beban, melainkan bagian dari tanggung jawab moral yang ia rasakan.
“Biaya yang saya keluarkan sekitar Rp10 juta,” ujarnya singkat, seolah angka itu tidak sebanding dengan apa yang ingin ia lakukan di lapangan.
Ketertarikan Akrim pada kerja-kerja kemanusiaan bukanlah hal baru. Sejak kecil, ia telah akrab dengan dunia kerelawanan. Setiap kabar tentang bencana selalu mengetuk nuraninya, mendorongnya untuk turun langsung membantu mereka yang terdampak.
“Hati nurani kemanusiaan saya selalu bergerak setiap kali ada bencana,” katanya.
Tujuan perjalanannya kali ini adalah Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, salah satu wilayah di Aceh yang terdampak banjir cukup parah. Di sana, Akrim akan bergabung dengan komunitas Aceh Bergerak untuk membantu warga yang terisolasi serta mendukung proses pemulihan di lapangan.
Di tengah persiapan keberangkatannya, Akrim juga menyampaikan pesan bagi relawan lain yang akan menyusul ke lokasi bencana. Pesan itu sederhana, namun penting.
“Untuk relawan yang akan berangkat ke lokasi, jagalah kesehatan agar kita bisa membantu korban yang terisolir dengan maksimal,” tuturnya.
Langkah Akrim mungkin tak ramai disorot. Namun dari perjalanan panjang yang ia tempuh, tersimpan kisah tentang keberanian memilih hadir, tentang empati yang diwujudkan dengan tindakan, dan tentang kemanusiaan yang tetap menyala di tengah bencana.
Penulis: Aininadhirah










Discussion about this post