MASAKINI.CO – Dinas Kesehatan Aceh mencatat sebanyak 10 jenis penyakit berpotensi terjadi di wilayah terdampak bencana di Aceh. Hingga 19 Desember 2025 dilaporkan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi sebanyak 9.731 kasus, disusul penyakit kulit 8.026 kasus, Influenza Like Illness (ILI) 1.543 kasus, serta diare sebanyak 1.492 kasus.
Jumlah ini bagian dari total 52.539 warga yang berkunjung ke posko kesehatan di 13 kabupaten/kota.
“ISPA dan penyakit kulit masih mendominasi kasus penyakit di wilayah terdampak bencana,” kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, Sabtu (20/12/2025).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Aceh, sebaran kasus tertinggi dilaporkan di Aceh Utara sebanyak 5.803 yang terindikasi penyakit potensial KLB. Kemudian Bireun sebanyak 4.835 kasus, Pidie Jaya 4.288 kasus dan Aceh 860 kasus.
Ferdiyus menjelaskan, tingginya kasus ISPA dan penyakit kulit dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pascabencana. Faktor tersebut antara lain paparan air kotor, sanitasi yang belum optimal, serta kondisi pengungsian yang padat dan lembap.
Selain penyakit yang mendominasi, Dinas Kesehatan Aceh juga mencatat adanya 261 kasus suspek demam tifoid, 9 kasus suspek campak, dan 1 kasus pertusis. Terhadap kasus-kasus tersebut, dilakukan langkah kewaspadaan melalui penyelidikan epidemiologi, penatalaksanaan medis, pengambilan sampel untuk konfirmasi laboratorium, serta pemberian vitamin A dan antibiotik sesuai indikasi.
“Kami melakukan upaya pencegahan untuk menekan risiko penularan dengan respons cepat di lapangan,” ujarnya.
Dinas Kesehatan Aceh juga melaporkan 2 kasus suspek leptospirosis dan 14 kasus suspek dengue. Penanganan dilakukan melalui penyelidikan epidemiologi di lokasi pengungsian dan tempat tinggal pasien, pemeriksaan awal menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT), serta peningkatan edukasi kepada masyarakat.
Ferdiyus mengimbau masyarakat untuk segera mencari layanan kesehatan apabila mengalami gejala demam atau keluhan kesehatan setelah terpapar lingkungan berisiko pascabencana. Ia menegaskan, penyakit berbasis lingkungan masih menjadi perhatian utama.
“Upaya pencegahan terus kami perkuat melalui peningkatan sanitasi, pengawasan kesehatan pengungsi, edukasi masyarakat, serta respons cepat lintas sektor guna mencegah terjadinya KLB,” katanya.










Discussion about this post