MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Selasa, Februari 17, 2026
  • Home
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Perjuangan Agus Menyeka Lumpur dan Luka Pascabencana

Riska Zulfira by Riska Zulfira
22 Desember 2025
in Cerita, Headline
0

Agus Juanda (26) warga desa Pante Baro Gle Sibla, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen membersihkan lumpur di rumahnya | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Lumpur setebal satu setengah meter menutupi halaman rumah Agus Juanda. Setiap langkahnya terasa berat, terseret tanah basah yang membeku di antara kaki. 

Cangkul dan tangan yang berlumur tanah menjadi alat satu-satunya untuk menyingkirkan sisa-sisa banjir bandang yang masih menempel di setiap sudut rumah. Debu, bau tanah, dan air yang menggenang di lantai menyatu menjadi aroma bencana yang belum hilang.

RelatedPosts

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

KontraS Aceh Temukan 7 Dugaan Kekerasan Gender di Pengungsian Aceh Utara

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

Di desa Pante Baro Gle Sibla, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, rumah Agus satu dari ratusan rumah yang parah tertimbun longsor. Ia bersama keluarga bergotong royong membersihkan gunungan tanah yang mengeras. 

“Tanah setinggi satu setengah meter harus kami kerok. Kita kerok sendiri pakai tangan dan cangkul, tapi hasilnya minim,” kata Agus sambil menyeka keringat di dahinya, Senin (22/12/2025).

Bagi Agus, membersihkan rumah pascabanjir bukan sekadar urusan kenyamanan. Tapi untuk kebutuhan mendesak agar bisa kembali menempati rumah sendiri. Pria 26 tahun ini rela menyewa alat berat jenis eskavator agar kendaraan yang terperangkap dalam lumpur bisa dikeluarkan. 

Agus menyewa beko, seharga Rp700 ribu per jam. Dua jam pengerjaan saja, artinya Rp1,4 juta hanya untuk halaman depan.

“Mau tidak mau kita harus mengeluarkan biaya besar, karena kalau lakuin sendiri tidak sanggup,” ujarnya. 

Di bagian dalam rumah, lumpur menutupi lantai hingga beberapa sentimeter. Agus menyewa beberapa tenaga tambahan untuk membantu membersihkan, karena sendirian ia tidak mampu. Belum lagi halaman samping dan belakang rumah yang masih menunggu giliran dibersihkan.

Rasa berat tidak hanya datang dari fisik. Agus memikirkan tetangganya yang kurang mampu, yang tidak bisa menyewa alat atau tenaga tambahan. Mereka harus mulai dari nol, mengerahkan seluruh tenaga untuk membersihkan rumah sendiri.

“Gimana dengan keluarga lain yang tidak mampu? Mereka harus kerja sendiri dari awal. Itu yang bikin kita prihatin,” kata Agus, lirih.

Meski lelah dan biaya yang dikeluarkan cukup besar, Agus dan keluarganya tetap bertahan dengan harapan sederhana, kembali pulang ke rumah sendiri. Bisa tidur di tempat yang menjadi rumah, bukan hanya ruang yang terselubung lumpur dan debu.

“Kami hanya ingin kembali ke rumah masing-masing. Bisa tidur di rumah sendiri sudah membuat nyaman. Semua warga di sini terdampak,”ujarnya dengan mata yang terlihat letih namun penuh tekad.

Di sela-sela bunyi beko yang membelah lumpur dan debu yang beterbangan, perjuangan Agus menggambarkan keteguhan hati ribuan warga Aceh yang terdampak banjir. Di balik keringat dan lumpur yang menempel di tubuhnya, Agus tetap menatap halaman rumah dengan keyakinan bahwa suatu hari, rumah itu akan kembali menjadi tempat yang hangat dan nyaman untuk pulang. 

Tags: Banjir AcehBireuenKisah WargaLumpur BanjirPascabencanaPerjuangan Hidup
Previous Post

Banjir Putus Akses, Ahmad Handoko Tempuh 136 Kilometer Demi Akad Nikah

Next Post

Baju Donasi Tak Layak, Pengungsi Pidie Jaya Masih Kekurangan Pakaian

Related Posts

Disdukcapil Bener Meriah Pulihkan Kembali Dokumen Korban Bencana

by Aininadhirah
6 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bener Meriah telah memulihkan kembali dokumen warga yang terdampak bencana alam...

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

by Riska Zulfira
3 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Dalam dinginnya malam dan panasnya siang, tenda darurat itu menjadi satu-satunya tempat yang melindungi 14 kepala keluarga yang...

AMPI Nilai Banjir Aceh Bukan Sekadar Bencana Alam, Dipicu Salah Kelola Lingkungan

by Redaksi
31 Januari 2026
0

MASAKINI.CO - Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) menilai banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh bukan semata-mata bencana alam, melainkan...

Next Post
Pakaian hasil donasi untuk korban bencana di Pidie Jaya | Foto: Riska Zulfira/masakini.co

Baju Donasi Tak Layak, Pengungsi Pidie Jaya Masih Kekurangan Pakaian

Menggapai Desa yang Terputus

31 Korban Bencana di Aceh Masih Dalam Pencarian

Discussion about this post

CERITA

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

14 Februari 2026

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

4 Februari 2026

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

3 Februari 2026

Dari Aceh ke Jakarta Lewat Layar: Cerita Irhamna Menemukan Ritme Kerja yang Lebih Tenang

1 Februari 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co