MASAKINI.CO – Lumpur setebal satu setengah meter menutupi halaman rumah Agus Juanda. Setiap langkahnya terasa berat, terseret tanah basah yang membeku di antara kaki.
Cangkul dan tangan yang berlumur tanah menjadi alat satu-satunya untuk menyingkirkan sisa-sisa banjir bandang yang masih menempel di setiap sudut rumah. Debu, bau tanah, dan air yang menggenang di lantai menyatu menjadi aroma bencana yang belum hilang.
Di desa Pante Baro Gle Sibla, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, rumah Agus satu dari ratusan rumah yang parah tertimbun longsor. Ia bersama keluarga bergotong royong membersihkan gunungan tanah yang mengeras.
“Tanah setinggi satu setengah meter harus kami kerok. Kita kerok sendiri pakai tangan dan cangkul, tapi hasilnya minim,” kata Agus sambil menyeka keringat di dahinya, Senin (22/12/2025).
Bagi Agus, membersihkan rumah pascabanjir bukan sekadar urusan kenyamanan. Tapi untuk kebutuhan mendesak agar bisa kembali menempati rumah sendiri. Pria 26 tahun ini rela menyewa alat berat jenis eskavator agar kendaraan yang terperangkap dalam lumpur bisa dikeluarkan.
Agus menyewa beko, seharga Rp700 ribu per jam. Dua jam pengerjaan saja, artinya Rp1,4 juta hanya untuk halaman depan.
“Mau tidak mau kita harus mengeluarkan biaya besar, karena kalau lakuin sendiri tidak sanggup,” ujarnya.
Di bagian dalam rumah, lumpur menutupi lantai hingga beberapa sentimeter. Agus menyewa beberapa tenaga tambahan untuk membantu membersihkan, karena sendirian ia tidak mampu. Belum lagi halaman samping dan belakang rumah yang masih menunggu giliran dibersihkan.
Rasa berat tidak hanya datang dari fisik. Agus memikirkan tetangganya yang kurang mampu, yang tidak bisa menyewa alat atau tenaga tambahan. Mereka harus mulai dari nol, mengerahkan seluruh tenaga untuk membersihkan rumah sendiri.
“Gimana dengan keluarga lain yang tidak mampu? Mereka harus kerja sendiri dari awal. Itu yang bikin kita prihatin,” kata Agus, lirih.
Meski lelah dan biaya yang dikeluarkan cukup besar, Agus dan keluarganya tetap bertahan dengan harapan sederhana, kembali pulang ke rumah sendiri. Bisa tidur di tempat yang menjadi rumah, bukan hanya ruang yang terselubung lumpur dan debu.
“Kami hanya ingin kembali ke rumah masing-masing. Bisa tidur di rumah sendiri sudah membuat nyaman. Semua warga di sini terdampak,”ujarnya dengan mata yang terlihat letih namun penuh tekad.
Di sela-sela bunyi beko yang membelah lumpur dan debu yang beterbangan, perjuangan Agus menggambarkan keteguhan hati ribuan warga Aceh yang terdampak banjir. Di balik keringat dan lumpur yang menempel di tubuhnya, Agus tetap menatap halaman rumah dengan keyakinan bahwa suatu hari, rumah itu akan kembali menjadi tempat yang hangat dan nyaman untuk pulang.










Discussion about this post