MASAKINI.CO – Kesulitan memenuhi kebutuhan memasak masih dialami warga korban banjir dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Tamiang. Terbatasnya pasokan gas elpiji membuat warga terpaksa memanfaatkan kayu-kayu yang hanyut terbawa banjir sebagai bahan bakar untuk memasak sehari-hari.
Di Desa Pengidam, Kecamatan Bandar Pusaka, warga terlihat mengumpulkan kayu dari tumpukan gelondongan besar yang terseret arus banjir dan mengendap di sekitar permukiman. Kayu tersebut dipilah dan dipotong untuk dijadikan kayu bakar di tengah kondisi yang serba terbatas.
Seorang warga Desa Pengidam, Marni mengaku aktivitas itu dilakukan di lokasi yang masih berlumpur dan rawan, demi memastikan dapur tetap mengepul. Hal itu lantaran hingga saat ini mereka masih sulit mendapatkan gas elpiji pascabanjir. Selain pasokan yang terbatas, harga gas juga dinilai semakin memberatkan warga.
“Gas sekarang susah dan mahal. Awal-awal banjir capai Rp50 ribu sekarang Rp30-35 ribu. Mau tidak mau kami cari kayu untuk masak,” ujar Marni beberapa waktu lalu.
Hal senada disampaikan Misnawati, warga setempat lainnya. Ia mengatakan, meski banjir bandang telah berlalu lebih dari sebulan, kondisi kehidupan warga belum sepenuhnya pulih. Banyak kebutuhan dasar yang masih sulit dipenuhi.
“Air bersih masih terbatas, MCK belum layak, bantuan juga tidak selalu ada. Untuk memasak saja kami harus cari kayu sendiri,” kata Misnawati.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera membantu pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk pasokan gas dan logistik, serta mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat terdampak banjir di Aceh Tamiang.










Discussion about this post