MASAKINI.CO – Sisa-sisa lumpur dan genangan air belum sepenuhnya hilang, namun lonceng semangat belajar kembali berdentang di SMA Negeri 2 Meureudu, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Sejak hari pertama masuk sekolah, Senin (5/1/2026) kemarin para siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di tenda darurat karena bangunan sekolah masih dipenuhi lumpur banjir bandang akhir November 2025 lalu.
Pagi itu, perjalanan menuju sekolah menjadi tantangan tersendiri. Jalan yang berlumpur dan tergenang air memaksa siswa dan guru berjalan perlahan sambil saling berpegangan agar tidak terjatuh. Seragam sekolah belum dikenakan. Sepatu pun ditinggalkan.
Di bawah tenda darurat yang berdiri di halaman sekolah, KBM digelar secara sederhana. Hari pertama dimanfaatkan pihak sekolah untuk pengenalan lingkungan, penyampaian motivasi, serta penguatan mental siswa yang sebagian besar merupakan korban banjir. Belajar, untuk sementara, bukan soal materi pelajaran, melainkan tentang memulihkan harapan.
“Saya senang sekali bisa kembali ke sekolah dan bertemu teman-teman. Tapi jujur, sedih juga melihat kondisi sekolah yang belum seperti dulu sebelum banjir,” ujar Amelia Fitri, siswi kelas XI SMA Negeri 2 Meureudu, Rabu (7/1/2026).

Kepala SMA Negeri 2 Meureudu, M. Diah, mengatakan keputusan memulai sekolah di tengah kondisi darurat merupakan bentuk komitmen agar anak-anak tidak terlalu lama kehilangan hak belajarnya. Menurutnya, sekolah berupaya perlahan bangkit seiring proses pembersihan dan pemulihan pascabencana.
“Meski serba terbatas, kami tetap membuka sekolah. Kami fokus memberi semangat dan memastikan siswa siap secara mental untuk kembali belajar,” kata M. Diah.
Ia menuturkan, meski siswa yang hadir tidak mencapai maksimal 35 orang per kelas, proses belajar mengajar tetap berlangsung. Ia berharap kondisi belajar di tenda darurat tak berlangsung lama. “kalau sebulan dua bulan tidak apa, karena kalau hujan juga berdampak bagi siswa,” jelasnya.
Pidie Jaya tercatat sebagai salah satu daerah yang mengalami dampak terparah akibat banjir dan longsor pada 26 November 2025. Dinas Pendidikan setempat mencatat sebanyak 146 sekolah rusak berat. Hingga awal semester ini, baru empat sekolah yang mampu kembali menggelar KBM, yakni SDN 1 Meurah Dua, SD Islam Terpadu Annu, SMP Negeri 1 Meureudu, dan SMA Negeri 2 Meureudu.
Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya kering, para siswa dan guru tetap semangat bersekolah.










Discussion about this post