MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Jumat, Agustus 14, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Belajar di Antara Lumpur, Menjaga Harapan Tetap Hidup

Riska Zulfira by Riska Zulfira
17 Januari 2026
in Cerita, Headline
0

Cut Salmina, guru SMAN 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya saat menceritakan kondisi sekolah tempat ia mengajar. | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Suara Cut Salmina sempat terhenti.

Ia menunduk, menarik napas panjang, lalu menyeka air mata yang perlahan jatuh.

RelatedPosts

Musda Demokrat Aceh Digelar 18 Agustus, Dua Nama Berebut Kursi Ketua DPD

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

96 Kios Pasar Jagong Jeget Aceh Tengah Hangus Terbakar

Bukan sekali ini ia menceritakan banjir yang melanda sekolahnya. Namun setiap kali kisah itu diulang, perasaannya selalu kembali ke titik yang sama. lelah, sedih, dan takut sudah pasti. Namun tak pernah menyerah.

“Kami di sini guru dan juga siswa,” katanya terbata.

“Sekarang cuma punya satu modal, semangat,” kata Cut saat dijumpai di sekolahnya, Sabtu (17/1/2026).

Cut Salmina adalah guru SMAN 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Sekolah yang berdiri di dataran rendah itu sudah berkali-kali menjadi korban banjir bandang. Hampir setiap beberapa tahun, air datang, menghanyutkan bukan hanya bangunan, tapi juga harapan.

“Walaupun kami berjalan di lumpur, semangat tidak boleh kendur,” ujarnya sambil mengusap mata.

“Karena yang kami dampingi ini anak-anak, masa depan mereka.”

Baginya, yang paling berat bukan melihat ruang kelas rusak atau peralatan sekolah hancur. Yang paling menyakitkan adalah memikirkan kondisi mental para siswa. Anak-anak yang baru saja bangkit dari trauma banjir sebelumnya, kini kembali harus mengulang semuanya.

“Itulah yang terus kepikiran sekarang,” katanya lirih.

“Bagaimana kami mendampingi mereka, walaupun kami sendiri belum pulih.”

Ingatan Cut Salmina kembali ke tanggal 25 November 2025.

Hari itu seharusnya menjadi hari bahagia. Hari Guru. Di SMAN 2 Meureudu, upacara sudah direncanakan digelar di lapangan sekolah. Namun hujan turun sejak pagi dan tak kunjung reda. Sudah beberapa hari hujan mengguyur wilayah itu.

Akhirnya, peringatan Hari Guru dipindahkan ke dalam ruangan.

Tak banyak siswa yang bisa hadir. Jalanan tergenang, hujan terlalu lebat.

Dari seluruh kelas, hanya sekitar 60 siswa yang datang. Di kelas X A yang ia walikan, hanya 25 anak duduk di bangku.

Meski sederhana, suasana terasa hangat.

Beberapa siswa maju memberikan buket kecil. Ada yang menyerahkan kado seadanya. Ada pula yang hanya mengucapkan terima kasih.

“Mudah-mudahan ibu sehat. Mudah-mudahan ibu terus mengajar kami,” ucap seorang siswa saat itu.

Cut Salmina tersenyum. Ia tak menyangka, itulah momen terakhir sekolah berjalan normal.

Sekitar pukul tiga sore, para guru pulang. Hujan masih turun deras. Seperti kebiasaan setiap musim hujan, mereka bersiaga. Buku nilai, absen, dan dokumen penting diangkat ke atas lemari. Biasanya banjir hanya setinggi satu hingga satu setengah meter.

“Kami pikir seperti kejadian-kejadian sebelumnya,” katanya.

Namun malam itu, semuanya berubah.

Sekitar pukul 12 malam, air mulai masuk. Menjelang subuh, ketinggian air terus naik sekolah tenggelam. Pada 26 November, banjir belum surut. Siangnya sempat turun, tetapi pagi 27 November, air kembali datang lebih tinggi.

Jembatan Meureudu putus. Sekolah terisolasi.

“Saya waktu itu cuma berpikir, gimana nanti sekolah,” ucapnya sambil terisak.

“Karena Januari 2026 anak-anak harus masuk.”

Dua minggu kemudian, jembatan akhirnya bisa dilalui kembali. Para guru datang ke sekolah dengan langkah berat. Yang mereka temukan bukan ruang belajar, melainkan lumpur tebal yang menutup hampir seluruh bangunan.

Saat menceritakan bagian itu, Cut Salmina kembali menangis.

“Sekolah kami sampai hari ini masih penuh lumpur,” katanya pelan.

Para siswa melaksanakan proses belajar di gedung tidak layak huni beralasan terpal, Selasa, (13/1/2026). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

“Belum kering.”

Ia lalu tersenyum kecil, getir.

“Saya bilang ke kawan-kawan, tahun ini Allah liburkan kita bersih-bersih sekolah. Karena kita harus bersihkan rumah kita masing-masing.”

Banyak guru yang rumahnya rusak. Banyak siswa yang kehilangan tempat tidur, buku, dan seragam. Semua terdampak. Tak ada yang benar-benar utuh.

Namun di tengah keterbatasan itu, para guru memilih bertahan.

Mereka sadar, tak mungkin selamanya mengandalkan bantuan. Yang harus dijaga adalah mental anak-anak agar tidak tumbuh dengan rasa ketergantungan.

“Kami lebih fokus ke jiwa mereka,” katanya.

“Jangan sampai anak-anak ini merasa hidupnya hanya menunggu bantuan.”

Baginya, pendidikan di tengah bencana bukan lagi soal kurikulum.

Ini soal menjaga harapan.

SMAN 2 Meureudu bukan pertama kali tenggelam. Banjir bandang pernah terjadi pada 2009 silam, menghancurkan lebih dari 30 unit komputer dan ruang laboratorium.

Tahun 2014 banjir kembali datang, bahkan lebih parah. Tahun 2024, banjir kembali menenggelamkan bangunan sekolah. Dan kini, November 2025, luka itu terulang lagi.

“Rasa capek itu di tahun 2024 belum hilang,” katanya.

“Tapi kejadian datang lagi.”

Namun di balik air mata itu, ada keyakinan yang tak goyah.

“Walaupun lumpur menutup semuanya,” ujarnya.

“kami tetap harus menjemput masa depan.”

Di sekolah yang berkali-kali tenggelam, para guru tetap berdiri.

Bukan karena mereka kuat.

Tetapi karena anak-anak tak boleh kehilangan harapan meski alam terus menguji.

Tags: Banjir AcehBanjir Pidie JayaCut SalminaGuru bertahan pascabencanaPendidikan AcehSekolah Terdampak BanjirSMAN 2 Meureudu
Previous Post

Dalam Sepekan Aceh Diguncang 39 Kali Gempa, Tujuh Dirasakan Warga

Next Post

Harga Emas Banda Aceh Hari Ini

Related Posts

Delapan Bulan Pasca Banjir, Menag Bangun Kembali MIN 5 Pidie Jaya Senilai Rp12,3 Miliar

by Riska Zulfira
12 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Janji Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar kepada masyarakat Gampong Seunong, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, mulai...

UIN Ar-Raniry Selangkah Lagi Buka Fakultas Kedokteran, Target Terima Mahasiswa Agustus 2026

by Ahmad Mufti
30 Juli 2026
0

MASAKINI.CO – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh selangkah lagi membuka Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi...

Aceh Tamiang Mulai Tanam Padi Perdana Pascabencana

by Ahmad Mufti
6 Juli 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah Aceh memulai gerakan tanam padi perdana pascabencana hidrometeorologi di Desa Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh...

Next Post

Harga Emas Banda Aceh Hari Ini

Truk Bermuatan Besar Dilarang Melintas di Jembatan Bailey Kuta Blang

Discussion about this post

CERITA

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

12 Agustus 2026

Sepuluh Tahun Menjaga Tradisi Merah Putih, Kisah Safura Merawat Rezeki dari Lapak Bendera

4 Agustus 2026

Liberika Tangse, Kopi Langka Beraroma Nangka

20 Juli 2026

Dari Lhoknga, Anyaman Bambu Menganyam Jalan ke Pasar Dunia

19 Juli 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...