MASAKINI.CO – Suara Cut Salmina sempat terhenti.
Ia menunduk, menarik napas panjang, lalu menyeka air mata yang perlahan jatuh.
Bukan sekali ini ia menceritakan banjir yang melanda sekolahnya. Namun setiap kali kisah itu diulang, perasaannya selalu kembali ke titik yang sama. lelah, sedih, dan takut sudah pasti. Namun tak pernah menyerah.
“Kami di sini guru dan juga siswa,” katanya terbata.
“Sekarang cuma punya satu modal, semangat,” kata Cut saat dijumpai di sekolahnya, Sabtu (17/1/2026).
Cut Salmina adalah guru SMAN 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Sekolah yang berdiri di dataran rendah itu sudah berkali-kali menjadi korban banjir bandang. Hampir setiap beberapa tahun, air datang, menghanyutkan bukan hanya bangunan, tapi juga harapan.
“Walaupun kami berjalan di lumpur, semangat tidak boleh kendur,” ujarnya sambil mengusap mata.
“Karena yang kami dampingi ini anak-anak, masa depan mereka.”
Baginya, yang paling berat bukan melihat ruang kelas rusak atau peralatan sekolah hancur. Yang paling menyakitkan adalah memikirkan kondisi mental para siswa. Anak-anak yang baru saja bangkit dari trauma banjir sebelumnya, kini kembali harus mengulang semuanya.
“Itulah yang terus kepikiran sekarang,” katanya lirih.
“Bagaimana kami mendampingi mereka, walaupun kami sendiri belum pulih.”
Ingatan Cut Salmina kembali ke tanggal 25 November 2025.
Hari itu seharusnya menjadi hari bahagia. Hari Guru. Di SMAN 2 Meureudu, upacara sudah direncanakan digelar di lapangan sekolah. Namun hujan turun sejak pagi dan tak kunjung reda. Sudah beberapa hari hujan mengguyur wilayah itu.
Akhirnya, peringatan Hari Guru dipindahkan ke dalam ruangan.
Tak banyak siswa yang bisa hadir. Jalanan tergenang, hujan terlalu lebat.
Dari seluruh kelas, hanya sekitar 60 siswa yang datang. Di kelas X A yang ia walikan, hanya 25 anak duduk di bangku.
Meski sederhana, suasana terasa hangat.
Beberapa siswa maju memberikan buket kecil. Ada yang menyerahkan kado seadanya. Ada pula yang hanya mengucapkan terima kasih.
“Mudah-mudahan ibu sehat. Mudah-mudahan ibu terus mengajar kami,” ucap seorang siswa saat itu.
Cut Salmina tersenyum. Ia tak menyangka, itulah momen terakhir sekolah berjalan normal.
Sekitar pukul tiga sore, para guru pulang. Hujan masih turun deras. Seperti kebiasaan setiap musim hujan, mereka bersiaga. Buku nilai, absen, dan dokumen penting diangkat ke atas lemari. Biasanya banjir hanya setinggi satu hingga satu setengah meter.
“Kami pikir seperti kejadian-kejadian sebelumnya,” katanya.
Namun malam itu, semuanya berubah.
Sekitar pukul 12 malam, air mulai masuk. Menjelang subuh, ketinggian air terus naik sekolah tenggelam. Pada 26 November, banjir belum surut. Siangnya sempat turun, tetapi pagi 27 November, air kembali datang lebih tinggi.
Jembatan Meureudu putus. Sekolah terisolasi.
“Saya waktu itu cuma berpikir, gimana nanti sekolah,” ucapnya sambil terisak.
“Karena Januari 2026 anak-anak harus masuk.”
Dua minggu kemudian, jembatan akhirnya bisa dilalui kembali. Para guru datang ke sekolah dengan langkah berat. Yang mereka temukan bukan ruang belajar, melainkan lumpur tebal yang menutup hampir seluruh bangunan.
Saat menceritakan bagian itu, Cut Salmina kembali menangis.
“Sekolah kami sampai hari ini masih penuh lumpur,” katanya pelan.

“Belum kering.”
Ia lalu tersenyum kecil, getir.
“Saya bilang ke kawan-kawan, tahun ini Allah liburkan kita bersih-bersih sekolah. Karena kita harus bersihkan rumah kita masing-masing.”
Banyak guru yang rumahnya rusak. Banyak siswa yang kehilangan tempat tidur, buku, dan seragam. Semua terdampak. Tak ada yang benar-benar utuh.
Namun di tengah keterbatasan itu, para guru memilih bertahan.
Mereka sadar, tak mungkin selamanya mengandalkan bantuan. Yang harus dijaga adalah mental anak-anak agar tidak tumbuh dengan rasa ketergantungan.
“Kami lebih fokus ke jiwa mereka,” katanya.
“Jangan sampai anak-anak ini merasa hidupnya hanya menunggu bantuan.”
Baginya, pendidikan di tengah bencana bukan lagi soal kurikulum.
Ini soal menjaga harapan.
SMAN 2 Meureudu bukan pertama kali tenggelam. Banjir bandang pernah terjadi pada 2009 silam, menghancurkan lebih dari 30 unit komputer dan ruang laboratorium.
Tahun 2014 banjir kembali datang, bahkan lebih parah. Tahun 2024, banjir kembali menenggelamkan bangunan sekolah. Dan kini, November 2025, luka itu terulang lagi.
“Rasa capek itu di tahun 2024 belum hilang,” katanya.
“Tapi kejadian datang lagi.”
Namun di balik air mata itu, ada keyakinan yang tak goyah.
“Walaupun lumpur menutup semuanya,” ujarnya.
“kami tetap harus menjemput masa depan.”
Di sekolah yang berkali-kali tenggelam, para guru tetap berdiri.
Bukan karena mereka kuat.
Tetapi karena anak-anak tak boleh kehilangan harapan meski alam terus menguji.










Discussion about this post