MASAKINI.CO – Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, yang akrab disapa Ayah Wa, menyebutkan sebanyak 216 unit hunian sementara (huntara) telah dibangun bagi warga terdampak bencana di wilayah tersebut. Namun, jumlah itu dinilai masih jauh dari kebutuhan masyarakat yang terdampak secara luas.
“Yang baru dibangun saat ini 216 unit. Sementara sekitar dua ribu unit lainnya belum terbangun. Itulah kondisi riil di lapangan,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).
Selain keterbatasan huntara, Ayah Wa juga menyoroti kondisi infrastruktur yang masih rusak, mulai dari kawasan permukiman hingga lahan pertanian. Ia menyebut banyak kayu tumbang akibat bencana belum sepenuhnya dibersihkan, terutama di wilayah perbukitan dan lintasan sungai.
“Sebagian kayu baru dibersihkan, tapi masih banyak yang menumpuk di bukit dan aliran sungai. Bahkan ada yang belum tersentuh sama sekali,” katanya.
Ia juga menyinggung kondisi irigasi yang belum pulih secara maksimal. Menurutnya, perbaikan irigasi sangat mendesak agar petani dapat kembali mengolah sawah dan mencegah krisis pangan.
“Kita berharap pemerintah pusat segera memperbaiki irigasi dan jalan. Kalau sawah tidak bisa digarap, masyarakat bisa kesulitan pangan,” tegasnya.
Ayah Wa menegaskan bahwa keterbatasan anggaran daerah menjadi kendala utama dalam percepatan pemulihan. Seluruh penanganan pascabencana saat ini sangat bergantung pada dukungan pemerintah pusat.
“Pemerintah daerah tidak memiliki anggaran yang cukup. Total kebutuhan pemulihan masyarakat Aceh Utara mencapai sekitar Rp27 triliun. Kalau hanya mengandalkan daerah, sampai kapan pun tidak akan selesai,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah pusat dapat serius dan segera merealisasikan anggaran pemulihan tersebut agar seluruh sektor yang terdampak bisa ditangani secara menyeluruh.
Menurut Ayah Wa, sedikitnya 12 kecamatan di Aceh Utara hingga kini masih terdampak cukup parah. Kondisi itu berdampak langsung terhadap sektor pendidikan, di mana sebagian siswa masih harus belajar dalam keterbatasan.
“Sekolah-sekolah masih terdampak. Ada anak-anak yang belum bisa belajar secara normal,” ungkapnya.
Ia menegaskan, apabila anggaran pemulihan sebesar Rp27 triliun dapat direalisasikan, maka perbaikan akan dilakukan secara menyeluruh tanpa membedakan sektor.
“Semuanya penting. Sekolah, permukiman, pertanian, jalan, itu semua saling berkaitan dengan ekonomi masyarakat. Jadi harus diperbaiki bersamaan,” katanya.
Terkait status tanggap darurat, Ayah Wa menyatakan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara tidak berencana memperpanjang masa tanggap darurat dan akan segera masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Kita tidak ingin memperpanjang tanggap darurat. Kita harus masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi supaya pemulihan bisa berjalan lebih cepat,” pungkasnya.










Discussion about this post