MASAKINI.CO – Langkah Asmaul Husna pelan saat ia berjalan pulang dari sekolah sore itu. Tak ada seragam putih abu-abu yang biasa melekat di tubuhnya. Yang ia kenakan hanya baju hitam biasa, pakaian seadanya yang kini menjadi teman hariannya sejak banjir besar melanda kampungnya.
Gadis kelas XII SMA Negeri 1 Baktiya itu baru saja keluar dari ruang kelas darurat, ruang sempit yang kini menjadi pengganti sekolahnya.
Asmaul merupakan gadis dari Desa Alue Bilie Geulumpang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Sejak bencana datang, hidupnya berubah drastis. Banjir setinggi 2,5 meter merendam rumah, sekolah, dan seluruh perlengkapan belajarnya.
“Seragam saya hilang semua. Alat tulis juga tidak ada lagi,” ujarnya lirih, Jumat (30/1/2026).
Padahal, tahun ini seharusnya menjadi masa paling penting dalam hidupnya.
Asmaul sedang bersiap menghadapi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri Seleksi (SNMPTN), jalur yang selama ini ia harapkan menjadi pintu masuk ke perguruan tinggi.
Namun bencana menghapus banyak hal, termasuk rasa aman untuk bermimpi.
SMA Negeri 1 Baktiya kini tak lagi seperti dulu.
Beberapa ruang kelas rusak, sebagian lainnya tak bisa digunakan. Proses belajar mengajar terpaksa dilakukan di kelas darurat, dengan kondisi yang jauh dari ideal.
Satu ruangan diisi hingga 35 siswa, bahkan beberapa kelas harus digabung. Bangku terbatas, udara pengap, dan suara dari kelas lain sering bercampur.
“Belajarnya jadi berat. Tapi kami tetap datang, karena mau bagaimana lagi,” kata Asmaul.
Sekolah sempat dibersihkan pada awal Desember. Lumpur disingkirkan, sisa-sisa banjir dibersihkan perlahan. Namun jejak bencana masih terasa jelas di dinding yang mengelupas, lantai yang retak, dan ruang kelas yang belum sepenuhnya pulih.
Di balik keterbatasan itu, Asmaul sebenarnya bukan siswi biasa.
Ia sering meraih juara satu, aktif dalam kegiatan sekolah, dan dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS.
Di tengah keterbatasannya, Husna memiliki harapan besar untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Dulu, ia ingin melanjutkan pendidikan di luar Aceh. Namun kini, mimpi itu terasa terlalu jauh.
“Sekarang yang penting saya bisa kuliah dulu. Kalau bisa di Aceh pun tidak apa-apa,” ucapnya.
Kondisi ekonomi keluarga memperberat langkahnya. Orang tuanya bekerja sebagai buruh tani. Sawah yang menjadi tumpuan hidup keluarga kini tak lagi bisa digarap setelah diterjang banjir.
Bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) dari sekolah yang seharusnya menunjang pendidikan, terpaksa digunakan untuk membeli sembako demi bertahan hidup.
“Kalau untuk sekolah, sudah tidak ada lagi,” katanya.
Ia kini hanya bisa berharap pada beasiswa, agar mimpinya tidak benar-benar padam.

Tak hanya Asmaul.
Harapan yang sama juga disimpan Bella, siswi kelas XI SMA yang turut terdampak bencana.
Sejak awal, Bella selalu berusaha menjaga peringkat dan mengumpulkan nilai tinggi. Ia percaya, prestasi bisa menjadi jalannya menuju bangku kuliah kelak.
Namun bencana datang tanpa aba-aba. “Rasanya seperti mimpi itu jadi jauh,” tuturnya.
Sekolah rusak, belajar tak menentu, dan kondisi ekonomi keluarga yang semakin sulit membuat masa depan terasa kabur.
Di tengah situasi itu, harapan datang dari pemerintah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menargetkan rehabilitasi sekolah-sekolah terdampak bencana di Aceh dapat rampung agar kegiatan belajar mengajar kembali normal pada tahun ajaran 2026/2027.
Hal itu disampaikannya saat kunjungan kerja ke Aceh Utara, Rabu (28/1/2026), sekaligus meninjau langsung kondisi satuan pendidikan terdampak.
Sejumlah sekolah dikunjungi, di antaranya SMA Negeri 2 Kesuma Bangsa, SMK Negeri 1 Baktiya Barat, SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu, serta SD Negeri 9 Tanah Jambo Aye.
Abdul Mu’ti memastikan pemulihan pendidikan dilakukan secara bertahap agar hak belajar siswa tidak terhenti.
“Sekolah-sekolah yang masih belajar di tenda nantinya akan dipindahkan ke kelas darurat. Target kami, pada tahun ajaran baru 2026–2027, sekolah dengan kerusakan ringan dan sedang sudah dapat berfungsi kembali secara normal,” ujarnya.
Bagi Asmaul, perbaikan sekolah bukan sekadar soal bangunan.
Lebih dari itu, ia berharap pemulihan pendidikan bisa menjaga mimpinya tetap hidup.
Di balik baju hitam sederhana yang ia kenakan hari itu, tersimpan harapan besar seorang anak desa yang tak ingin kalah oleh bencana.
Karena bagi Asmaul, pendidikan bukan sekadar masa depan melainkan satu-satunya jalan keluar dari keterbatasan yang kini mengepung hidupnya.










Discussion about this post