MASAKINI.CO – Tahun 2025 tercatat sebagai tahun dengan penutupan hutan terbesar di Aceh dalam dua dekade terakhir. Selama tahun tersebut, sebanyak 39.687 hektare hutan Aceh hilang, mencatatkan lonjakan deforestasi sebesar 274 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Angka ini bukan hanya sekadar statistik, tetapi juga menggambarkan krisis ekologis yang semakin mengkhawatirkan di provinsi tersebut.
Manager Geographic Information System (GIS) Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAKA), Lukmanul Hakim, mengungkapkan bahwa 24.372 hektare dari total penutupan hutan disebabkan oleh faktor alami seperti kebakaran hutan dan longsor.
Namun, yang lebih memprihatinkan adalah 13.000 hektare yang hilang akibat kegiatan manusia, seperti ekspansi perkebunan, pembangunan jalan, pertambangan, dan logging.
“Angka ini seharusnya menjadi alarm keras bagi kita semua. Luas hutan yang hilang setara dengan puluhan ribu lapangan sepak bola yang lenyap hanya dalam satu tahun,” ujar Lukman, Jumat (27/2/2026).
Selain itu, Lukman menyoroti bahwa 80 persen dari penutupan hutan terjadi di kawasan hutan. Hutan Lindung tercatat sebagai kawasan yang paling terdampak, dengan 15.763 hektare hilang, disusul oleh Hutan Produksi yang kehilangan 8.935 hektare dan Taman Nasional yang kehilangan 2.958 hektare.
“Fakta ini menunjukkan bahwa status kawasan tidak menjamin perlindungan. Ketika hutan lindung dan taman nasional pun terkikis, ini bukan hanya ancaman bagi alam, tetapi juga kredibilitas sistem perlindungan itu sendiri,” tegas Lukman.
Yang lebih memprihatinkan, lanjut Lukman, adalah tekanan yang dihadapi Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), yang merupakan benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati Sumatra. Hingga September 2025, kehilangan hutan di KEL sudah mencapai 5.955 hektare, melampaui total kerugian sepanjang 2024. Secara keseluruhan, deforestasi di KEL Aceh pada tahun 2025 mencapai 28.012 hektare.
“Lonjakan tajam pada November 2025 memperburuk situasi, bahkan sebelum bencana hidrometeorologis melanda Aceh. Ini menunjukkan bahwa krisis ekologis yang terjadi tidak hanya akibat bencana alam, tetapi juga akibat aktivitas manusia yang tidak terkendali,” ungkap Lukman.
Aceh Timur, Aceh Tengah, dan Gayo Lues tercatat sebagai wilayah dengan kehilangan tutupan hutan terbesar yang diakibatkan faktor alami. Pembukaan polanya pelan namun terus berlanjut.










Discussion about this post