MASAKINI.CO – Iran mengajukan serangkaian permintaan baru dalam upaya mengakhiri konflik yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel, dengan poin baru yang belum pernah diajukan sebelumnya: pengakuan kedaulatannya atas Selat Hormuz.
Selat yang menyempit ini menjadi jalur bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia secara global, dengan nilai yang bisa mencapai triliunan rupiah setiap tahun jika dimonetisasi.
Akses pelayaran melalui Selat Hormuz kini hampir tertutup akibat serangan Iran, menyebabkan pasar energi dunia menjadi tidak stabil dan memaksa negara lain mengambil langkah darurat untuk menjaga pasokan bahan bakar.
“Iran cukup terkejut betapa suksesnya strategi (Hormuz) – betapa bebas dan relatif mudahnya menjebak ekonomi global,” ujar Dina Esfandiary dari Bloomberg Economics.
“Salah satu pelajaran dari perang adalah mereka menemukan kartu baru ini dan berpotensi menggunakannya lagi di masa depan. Dan saya pikir monetisasinya adalah bagian dari penemuan itu,” tambahnya, mengutip telegrafi, Minggu (29/3/2026).
Pemerintah Amerika Serikat menyadari penuh akan ancaman ini. Menurut laporan CNN, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan.
“Hal ini tidak hanya tidak adil, tetapi tidak dapat diterima, berbahaya bagi dunia dan penting bagi dunia untuk memiliki rencana untuk menghadapinya,” kata Rubio setelah pertemuan G7 di Prancis.










Discussion about this post