MASAKINI.CO – Aktivitas gempa bumi di wilayah Aceh dalam sepekan terakhir tergolong tinggi. Tercatat sebanyak 39 kejadian gempa terjadi pada periode 3 hingga 9 April 2026, namun seluruhnya tidak dirasakan oleh masyarakat.
Data dari BMKG menunjukkan mayoritas gempa memiliki magnitudo kecil dan berada pada kedalaman dangkal, yang menjadi indikasi aktifnya pergerakan tektonik di wilayah tersebut.
Kepala Stasiun Geofisika Aceh, Andi Azhar Rusdin, mengatakan dari total 39 gempa, sebanyak 34 kejadian memiliki magnitudo di bawah 3, sementara 5 gempa lainnya berada pada rentang magnitudo 3 hingga 5. Tidak ada gempa berkekuatan di atas magnitudo 5.
“Seluruh gempa yang terjadi selama periode ini tidak dirasakan, karena magnitudo relatif kecil dan sebagian besar terjadi pada kedalaman dangkal,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Berdasarkan kedalaman, sebanyak 33 gempa tergolong dangkal (kurang dari 60 kilometer), sedangkan 6 lainnya berada pada kedalaman menengah. Tidak tercatat gempa dalam pada periode tersebut.
Secara spasial, sebaran gempa terjadi hampir di seluruh wilayah Aceh, dengan konsentrasi di wilayah tengah dan selatan seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Aceh Barat Daya, serta sebagian wilayah pesisir barat.
Sementara itu, aktivitas harian tertinggi tercatat pada 5 April dengan 13 kejadian gempa dalam satu hari.
Andi Azhar menegaskan, tingginya frekuensi gempa ini tidak terlepas dari kondisi tektonik Aceh yang memang sangat aktif.
“Secara tektonik, Aceh sangat rawan gempa karena berada di zona tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia di laut barat Aceh, serta adanya patahan atau sesar baik di laut maupun daratan,” jelasnya.
Ia menyebut kondisi ini menjadikan Aceh sebagai salah satu wilayah dengan potensi gempa tinggi di Indonesia, sehingga aktivitas gempa kecil yang sering terjadi merupakan hal yang wajar.









Discussion about this post