MASAKINI.CO – Taman Putroe Phang, Banda Aceh, mulai dihidupkan sebagai ruang kreatif yang mempertemukan seni, budaya, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif. Kegiatan tersebut dibuka oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, Sabtu (18/7/2026).
Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Rosdi, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menghadirkan ruang kreatif yang aktif dan berkelanjutan bagi masyarakat. Program itu akan berlangsung selama dua hari setiap minggunya hingga Agustus 2026.
Menurut Rosdi, selama ini seniman dan pelaku ekonomi kreatif di Banda Aceh masih membutuhkan ruang untuk menampilkan karya sekaligus memperluas akses pasar. Karena itu, Taman Putroe Phang dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pusat aktivitas seni, budaya, dan komunitas.
“Selama ini belum ada ruang kreatif yang aktif dan berkelanjutan di Banda Aceh. Seniman dan pelaku ekonomi kreatif juga masih membutuhkan ruang tampil sekaligus akses pasar. Karena itu, Taman Putroe Phang memiliki potensi besar untuk dioptimalkan sebagai pusat aktivitas seni, budaya, dan komunitas,” ujar Rosdi.
Kegiatan tersebut menghadirkan tiga rangkaian utama, yakni Art and Cultural Stage yang diisi berbagai pertunjukan seni dan budaya, Banda Aceh Art Market sebagai ruang promosi dan transaksi produk ekonomi kreatif, serta Community Hub yang menjadi wadah kolaborasi komunitas dan generasi muda.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan kegiatan yang digelar secara rutin diharapkan dapat membuat suasana kota semakin hidup sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha, seni, dan pariwisata.
“Mudah-mudahan event secara rutin yang kita laksanakan di kota ini bisa menyemarakkan kota, bisa mempromosikan kota, dan bisa menggiatkan ekonomi bagi para pelaku usaha, seni, dan wisatawan yang sedang menikmati liburan,” ujar Illiza.
Menurutnya, pengalaman menikmati seni dan suasana kota secara langsung memiliki nilai yang berbeda dibandingkan hanya melihatnya melalui platform digital. Karena itu, ia berharap Taman Putroe Phang tidak hanya ramai ketika kegiatan berlangsung, tetapi dapat menjadi ruang publik yang terus dikunjungi masyarakat.
“Beda ketika kita nikmati di platform digital dengan kita hadir langsung ke sini. Saya harap Putroe Phang ini tidak ramai di sore ini saja, tetapi setiap orang yang datang ke sini bisa menemukan sesuatu,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, Taman Putroe Phang diharapkan tidak hanya menjadi ruang terbuka hijau dan destinasi wisata, tetapi juga menjadi ruang pertemuan bagi seniman, komunitas, generasi muda, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat untuk berkolaborasi secara berkelanjutan.








Discussion about this post