MASAKINI.CO – Pengetahuan perempuan akar rumput dalam menjaga lingkungan dinilai belum banyak diperhitungkan dalam penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan sumber daya alam. Padahal, perempuan memiliki pengalaman langsung dalam mengelola lingkungan sekaligus mempertahankan sumber penghidupan masyarakat.
Ketua Badan Eksekutif Solidaritas Perempuan Bungoeng Jeumpa Aceh, Yeni Hartini, mengatakan pengalaman tersebut seharusnya menjadi bagian penting dalam menentukan kebijakan, terutama yang berdampak langsung terhadap ruang hidup masyarakat.
“Pengetahuan perempuan dalam menjaga lingkungan tidak pernah dianggap. Perempuan hanya dilibatkan sebagai formalitas,” ujar Yeni Hartini dalam aksi damai bersama Sumatera Environmental Initiative (SEI), Kamis (13/8/2026).
Menurut Yeni, kondisi tersebut membuat perempuan akar rumput tidak hanya kehilangan ruang untuk menyampaikan pengalaman, tetapi juga berpotensi kehilangan hak dalam menentukan masa depan lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Ia menilai, perempuan memiliki pengetahuan yang terbentuk dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga sumber daya alam dan mempertahankan sumber penghidupan keluarga. Karena itu, pengalaman tersebut tidak semestinya dipisahkan dari proses penyusunan kebijakan lingkungan.
“JR ini penting dilakukan. Ini merupakan ruang bagi perempuan dalam memperjuangkan haknya, di antaranya hak perempuan untuk didengar, hak masyarakat atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, hak atas partisipasi bermakna dalam keputusan lingkungan hidup, serta kepastian tanggung jawab atas dampak kerusakan lingkungan,” tambahnya.
Menurutnya, Judicial Review terhadap Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja menjadi salah satu ruang bagi perempuan akar rumput untuk memperjuangkan hak tersebut. Perjuangan itu juga diarahkan agar pengalaman perempuan dalam menghadapi persoalan lingkungan dapat diakui sebagai bagian dari pengetahuan yang penting dalam tata kelola sumber daya alam.
Yeni berharap kebijakan pembangunan ke depan tidak hanya melihat lingkungan dari sisi ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman masyarakat yang hidup langsung di dalamnya, termasuk perempuan yang selama ini turut menjaga dan bergantung pada sumber daya alam.







Discussion about this post