MASAKINI.CO – Gelar akademik dan kemampuan profesional dinilai belum cukup bagi para sarjana Nahdlatul Ulama (NU) untuk menghadapi perubahan zaman. Mereka didorong tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga mampu menerjemahkan ilmu yang dimiliki menjadi gagasan dan kerja nyata yang dibutuhkan masyarakat.
Hal tersebut menjadi sorotan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Aceh dalam Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) di Jombang, Jawa Timur, 27–30 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi momentum bagi pengurus untuk mengevaluasi sejauh mana peran sarjana NU selama ini telah memberikan dampak di tengah masyarakat.
Sekretaris PW ISNU Aceh, Dr Rahmad Syah Putra MPd MAg, mengatakan perkembangan sosial dan teknologi yang semakin cepat membuat sarjana NU harus mampu mengambil peran lebih besar. Menurutnya, keilmuan yang dimiliki para anggota jangan hanya berhenti pada ruang akademik maupun aktivitas internal organisasi.
“ISNU harus mampu menerjemahkan kapasitas keilmuan dan profesionalisme para sarjana NU menjadi gagasan dan kerja nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Karena itu, hasil evaluasi dalam Rapimwil ini harus menjadi pijakan untuk memperbaiki program dan memperkuat kontribusi organisasi,” kata Rahmad.
Ia menilai tantangan tersebut semakin besar seiring perubahan pola komunikasi masyarakat akibat perkembangan teknologi. Kondisi ini menuntut para sarjana NU untuk lebih adaptif, termasuk dalam menyampaikan gagasan dan memberikan solusi terhadap persoalan yang muncul di masyarakat.
“ISNU tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan internal. Kita perlu memastikan keberadaan organisasi memberi dampak yang lebih luas, terutama melalui gagasan, keilmuan, profesionalisme, dan pengabdian para sarjana NU,” ujarnya.
Menurut Rahmad, potensi tersebut cukup besar karena anggota ISNU bergerak di berbagai bidang, mulai dari perguruan tinggi, pendidikan, pemerintahan, dunia profesional hingga kegiatan sosial kemasyarakatan. Potensi itu dinilai perlu diperkuat melalui koordinasi antara pengurus wilayah dan cabang.
“Kita ingin membangun koordinasi yang lebih kuat antara PW dan PC sehingga potensi para sarjana NU di berbagai daerah dapat dioptimalkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.
Dalam Rapimwil, sejumlah pengurus cabang dari kabupaten dan kota di Aceh menyampaikan perkembangan serta tantangan organisasi di daerah masing-masing. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk menentukan program yang dinilai lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan tersebut juga berlangsung bersamaan dengan Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, 27–31 Agustus 2026. Momentum itu dimanfaatkan ISNU Aceh untuk melihat kembali posisi kaum intelektual NU di tengah dinamika sosial, pendidikan, keagamaan dan perkembangan teknologi.
PW ISNU Aceh berharap evaluasi tersebut tidak berhenti pada pembahasan program organisasi. Ke depan, keberadaan sarjana NU diharapkan semakin terlihat melalui gagasan, profesionalisme dan pengabdian yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.






Discussion about this post