MASAKINI.CO – Lebih dari 300 perkara perceraian ditangani Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh sepanjang Januari hingga September 2026. Dari jumlah itu, sekitar 80 persen merupakan gugatan yang diajukan oleh istri.
Data tersebut menjadi perhatian Ketua DPRK Banda Aceh Irwansyah setelah berkunjung ke Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh, Rabu (30/9/2026) lalu.
Irwansyah mengatakan angka tersebut menunjukkan persoalan rumah tangga perlu mendapat perhatian bersama. Ia berharap keluarga di Banda Aceh dapat lebih kuat sehingga persoalan rumah tangga tidak mudah berujung pada perceraian.
“Melihat kondisi ini, tentu membutuhkan perhatian semua pihak di Banda Aceh. Jangan sampai kondisi rumah tangga atau keluarga warga kita semakin rapuh, ini yang sangat kita khawatirkan,” ujar Irwansyah, Sabtu (3/10/2026).
Dari pembahasan yang diperolehnya saat kunjungan, Irwansyah menyebut beberapa persoalan yang banyak menjadi penyebab perceraian. Di antaranya judi online, masalah ekonomi, suami yang tidak bertanggung jawab atau tidak bekerja secara produktif, serta adanya pihak ketiga dalam rumah tangga.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu pihak. Pemerintah, keluarga, dan masyarakat perlu bersama-sama memperkuat ketahanan rumah tangga.
“Karena itu, semua pihak harus saling bahu-membahu dalam membangun ketahanan rumah tangga dan keluarga di Banda Aceh,” katanya.
Selain perceraian, Irwansyah juga mendapat informasi mengenai perkara kekerasan seksual terhadap anak yang ditangani Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh.
Ia menyebut ada kasus yang melibatkan orang terdekat korban sebagai pelaku, termasuk ayah terhadap anak dan kakek terhadap cucu. Bahkan, ada korban yang masih berusia empat tahun.
“Ini sangat miris. Ada anak yang menjadi korban oleh ayahnya sendiri, ada yang dilakukan oleh kakeknya, dan berbagai kasus lainnya. Semoga ini menjadi alarm bagi kita semua,” ujarnya.
Irwansyah meminta orang tua lebih memperhatikan dan menjaga anak-anak. Menurutnya, kewaspadaan tidak hanya perlu diberikan kepada orang yang tidak dikenal, tetapi juga kepada orang-orang di sekitar anak.
“Orang-orang terdekat yang seharusnya melindungi anak justru bisa menjadi pihak yang menghancurkan masa depan mereka. Karena itu, kita semua harus lebih waspada dan menjaga anak-anak kita,” katanya.










Discussion about this post