MASAKINI.CO – Pemerintah Kota Banda Aceh menyiapkan sedikitnya 40 kegiatan literasi, kreativitas, dan budaya dalam program Banda Aceh Outdoor Library di Taman Sari Bustanussalatin.
Selama delapan pekan, mulai 31 Oktober hingga 20 Desember 2026, ruang publik ini akan diisi berbagai aktivitas untuk mendorong budaya membaca sekaligus menghidupkan interaksi masyarakat.
Program tersebut dirancang berlangsung selama 16 hari aktivasi dengan melibatkan lebih dari 50 komunitas dan mitra. Masyarakat dapat mengakses ruang literasi tematik ini secara gratis.
Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh, Jalaluddin, mengatakan konsep pelaksanaan program tersebut telah rampung. Ia meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) mendukung kegiatan yang menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem literasi berbasis ruang publik.
“Keberhasilan outdoor library ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Mari semua OPD untuk mendukung penuh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan agar kegiatan ini sukses dan berkelanjutan,” kata Jalaluddin.
Banda Aceh Outdoor Library merupakan bagian dari implementasi terpilihnya Banda Aceh, Indonesia, bersama Kota San Salvador, El Salvador, dalam ajang Seoul ODA Challenge 2026. Pemerintah Kota Seoul melalui Seoul Metropolitan Government (SMG) mendukung pelaksanaan proyek perpustakaan luar ruang tersebut.
Dalam pelaksanaannya, Pemko Banda Aceh menggandeng Ate Fulawan Media dan YouthID Foundation sebagai mitra implementator lapangan.
Founder YouthID Foundation, Bayu Satria, menjelaskan program ini tidak sekadar menyediakan buku, tetapi juga menghadirkan pengalaman literasi yang mendorong masyarakat untuk datang, berinteraksi, dan membangun kebiasaan membaca.
Beragam kegiatan disiapkan, mulai dari lomba mewarnai, reels competition, Banda Aceh Got Talent, storytelling, melukis media tanam, peragaan busana, kegiatan kesehatan hewan peliharaan, hingga program inovasi pemuda dan daur ulang.
Pengunjung juga dapat mengikuti lokakarya budaya Korea, pembuatan suvenir, kelas kecantikan, bedah film dan buku, permainan tradisional, serta art therapy. Sejumlah fasilitas pendukung turut disiapkan, seperti area kopi, photobox, kartu pos, produk bertema Aceh-Korea, bazar UMKM, bazar suvenir, dan edukasi pemilahan sampah.
Menurut Bayu, rangkaian kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat budaya literasi, tetapi juga mendorong kepedulian terhadap lingkungan, memperkenalkan budaya lokal, serta membuka peluang bagi pelaku UMKM dan sektor pariwisata.
Jalaluddin berharap dukungan pemerintah, mitra pembangunan, swasta, dan komunitas dapat terus berlanjut sehingga Banda Aceh Outdoor Library tidak berhenti sebagai kegiatan temporer, tetapi berkembang menjadi agenda literasi publik yang berkelanjutan.









Discussion about this post