MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Jumat, November 6, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Sabetan Pejabat dan Kusir Delman: Belajar dari Driver Ojol

Redaksi by Redaksi
6 November 2026
in Cerita
0

M Arif Efendi, Penanggungjawab Hubungan Antar Lembaga, Kementerian Agama RI, Pranata Humas | Foto: dok untuk masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Siang itu, panas terik mewarnai Ibu Kota Jakarta. Keluar dari Aula Bisma, Kantor Kemenko Polkam, saya naik ojek online (ojol) menuju kantor Kementerian Agama di Jalan Lapangan Banteng. Jakarta akhir-akhir ini memang sedang terik. Lalu lintas pun merayap.

Di tengah perjalanan, pengemudi ojol itu tiba-tiba bercerita.

RelatedPosts

Di Sudut Punti, Rindu yang Panjang Menemukan Tempat untuk Pulang

Menyusuri Kisah di Balik Nama Pulau Rubiah

Dari Lumpur Banjir, Kebun Edukasi MIN 42 Bireuen Tumbuhkan Semangat Baru

“Pak, tahu nggak beda pejabat dengan kusir delman?”

Saya menjawab singkat, “Jelas beda dong, Pak.”

Dia menimpali sambil tertawa, “Bedanya, sabetannya. Kalau pejabat, sabetannya kencang, duitnya banyak. Kalau kusir delman, sabetannya kencang, duitnya sedikit.”

Kami pun tertawa bersama. Tawa yang sederhana, tetapi menyisakan perih yang lama.

Walaupun terdengar janggal, tulisan ini bermula dari cerita sederhana yang bagi penulis sangat bermakna. Dari atas motor itu, saya merasa sedang mendengarkan khotbah paling jujur tentang Indonesia hari ini. Khotbah dari jalanan, bukan dari mimbar.

Apa yang dikatakan pengemudi ojol itu sesungguhnya merupakan kritik kecil rakyat terhadap kekuasaan. Bahwa ada orang yang bekerja dengan cambuk sama kerasnya, tetapi memperoleh hasil yang berbeda. Ada yang lelahnya dihargai sedikit, ada pula yang lelahnya—bahkan tanpa lelah—dihargai sangat banyak.

Buya Hamka pernah menulis kalimat yang cukup menampar: “Jika hidup sekadar hidup, babi hutan juga hidup. Jika kerja sekadar kerja, kera juga bekerja.”

Hidup manusia, menurut Buya Hamka, harus memiliki nilai, tujuan, dan arah yang lebih tinggi daripada sekadar memenuhi kebutuhan dasar. Jika jabatan hanya dipahami sebagai cara memperbanyak “sabetan”—pendapatan, fasilitas, dan kehormatan—maka jabatan itu tidak ada bedanya dengan kerja kera. Bekerja, tetapi tanpa makna.

Lebih dalam, sang pujangga Buya Hamka juga mengingatkan bahwa “Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang, bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.”

Di sinilah letak persoalannya. Martabat pejabat tidak terletak pada mobil dinas, seragam, ataupun kerasnya cambuk yang dipegang. Martabatnya ada pada adab dan ilmunya. Jika adab runtuh, runtuh pula bangsa. Ketika adab runtuh, rakyat seperti pengemudi ojol itu akan membaca kekuasaan hanya dengan satu kata: “sabetan”.

Filsuf Muslim Ibnu Rusyd (Averroes) juga pernah menulis: “Manusia tidak terbebas dari kebodohan kecuali ia mengetahui bahwa dirinya bodoh.”

Kesadaran akan ketidaktahuan merupakan awal dari belajar. Sebaliknya, orang yang merasa sudah mengetahui segalanya karena jabatan, gelar, atau kekuasaannya justru menunjukkan bentuk kebodohan yang paling berbahaya.

Ibnu Rusyd juga mengingatkan tentang rantai yang mengerikan: “Ketidaktahuan menyebabkan ketakutan, ketakutan menyebabkan kebencian, dan kebencian selalu mengarah pada ketidakadilan dan kekerasan.”

Ketika pejabat tidak memahami penderitaan rakyatnya, ia akan takut terhadap kritik. Ketika takut terhadap kritik, ia bisa membenci rakyatnya sendiri. Ketika kebencian itu menjadi kebijakan, lahirlah ketidakadilan.

Itulah sebabnya Ibnu Rusyd meletakkan tolok ukur peradaban dengan sangat tajam: “Masyarakat harus dinilai dari cara mereka memperlakukan anggotanya yang paling rentan.”

Bukan dari gedungnya yang tinggi atau jalan tolnya yang panjang, melainkan dari cara negara memperlakukan rakyatnya, seperti pengemudi ojol, kusir delman, buruh harian, petani, pemulung, dan kelompok masyarakat lainnya yang rentan. Jika mereka masih tertawa pahit tentang sabetan, berarti peradaban kita belum selesai.

Ibnu Rusyd juga menegaskan bahwa agama dan akal bukanlah musuh. Keduanya saling melengkapi. Akal tanpa agama bisa menjadi liar, sedangkan agama tanpa akal bisa menjadi fanatik. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memadukan keduanya: menggunakan akal untuk membuat kebijakan yang adil dan menggunakan agama untuk menjaga nurani agar tidak tergoda oleh sabetan.

Orang Melayu lama telah memberikan peringatan tentang hal ini melalui peribahasa yang tak lekang oleh waktu: “Melentur buluh biarlah dari rebungnya.”

Mendidik dan membentuk karakter harus dilakukan sejak kecil, ketika seseorang masih mudah diarahkan. Jika kita ingin melahirkan pejabat yang tidak rakus pada sabetan, kita tidak bisa baru mengajarkannya ketika ia sudah duduk di kursi kekuasaan. Karakter harus dibentuk sejak di rumah, sekolah, madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan lainnya.

Peribahasa Melayu lainnya juga mengingatkan: “Bara yang digenggam biar sampai jadi arang.” Artinya, tekun dan tabah mengerjakan pekerjaan sulit hingga benar-benar selesai dan berhasil.

Inilah mentalitas yang mulai hilang. Banyak orang menginginkan hasil cepat, jabatan cepat, dan kaya cepat tanpa mau menggenggam bara. Padahal, jika belajar dari pengemudi ojol itu, setiap hari ia menggenggam bara: panas, macet, hujan, dan pesanan sepi. Namun, ia tetap bertahan hingga targetnya tercapai.

Buya Hamka menyampaikan hal serupa melalui kalimat: “Tahan menderita kepahitan hidup sehingga penderitaan menjadi kekayaan adalah bahagia.” Penderitaan bukan untuk melemahkan, melainkan membentuk jiwa yang tangguh.

Adil Dekat di Hati Rakyat, Penyayang Dekat di Hati Tuhan

Di titik ini, pujangga Lebanon, Kahlil Gibran, memberikan gambaran tentang kepemimpinan melalui ungkapan yang indah: “Orang-orang adil dekat di hati rakyat, tetapi orang-orang penyayang dekat dengan hati Tuhan.” (Just men are close to the hearts of the people, but merciful men are close to the heart of God.)

Keadilan merupakan kewajiban hukum dan rasio. Pemimpin yang adil akan mendapatkan kehormatan dan tempat di hati rakyatnya. Itu merupakan tahap pertama. Namun, Gibran mengajak kita naik ke tingkat yang lebih tinggi, yakni cinta.

Pemimpin yang memimpin dengan cinta tidak hanya menggunakan hukum tertulis, tetapi juga mata hati untuk memahami kelemahan manusia dan merangkul mereka.

Pejabat yang adil akan memastikan masyarakat mendapatkan upah yang layak. Pejabat yang penyayang akan memastikan warganya merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar angka dalam statistik kemiskinan.

Buya Hamka pun memiliki pandangan senada. Cinta sejati bukanlah sesuatu yang melemahkan atau membuat putus asa, melainkan sesuatu yang menghidupkan harapan dan menguatkan hati dalam memperjuangkan kebaikan.

“Bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Tetapi aku percaya, langkahmu akan jaya. Kuatkan pribadimu!”

Kurikulum Cinta: Jawaban dari Kementerian Agama

Apa yang disampaikan para filsuf dan pujangga tersebut kini menemukan titik temu dalam bentuk kebijakan pemerintah melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diluncurkan Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Kurikulum ini bukan sekadar kurikulum pelajaran agama. KBC merupakan arah baru pendidikan keagamaan untuk merajut kerukunan dan menetralkan fanatisme sempit. Fokusnya bukan mempertajam perbedaan yang memicu kebencian, melainkan mengajarkan persamaan dan kasih sayang antarumat beragama.

Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, meluncurkan KBC setelah melalui kajian dari berbagai sisi. KBC merangkum nilai-nilai agama, sosial, hingga budaya bangsa. Intinya meliputi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta kepada diri sendiri dan sesama manusia, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada alam dan lingkungan (ekoteologi), serta cinta kepada bangsa dan tanah air.

Dalam perkembangannya, Menag Nasaruddin Umar juga memperluas konsep tersebut dengan Ukhuwah Makhluqiyyah, yakni persaudaraan sesama ciptaan Tuhan. Konsep ini melengkapi ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathaniyah, dan ukhuwah Insaniyah.

Artinya, cinta tidak berhenti pada sesama pemeluk agama, sesama bangsa, atau sesama manusia, tetapi juga mencakup seluruh makhluk.

Gayung bersambut, Menag Nasaruddin Umar juga pernah berpesan, “Jangan cari yang banyak dengan cara melanggar. Lebih baik sedikit, tetapi berkah. Pahamilah bahwa di mana ada ketulusan, di situ ada keajaiban Tuhan.”

Jika Kurikulum Cinta benar-benar hidup, anak-anak bangsa sejak dini akan belajar bahwa kekuasaan bukan tentang sabetan. Kekuasaan adalah tentang cinta. Jabatan bukan tentang seberapa kencang cambuknya, melainkan seberapa luas pelukannya.


Saya turun dari motor pengemudi ojol itu di Lapangan Banteng dengan hati yang diaduk. Tawa kami tadi masih terngiang, tetapi maknanya jauh lebih dalam.

Pengemudi ojol itu telah mengajarkan saya satu hal: rakyat tidak membutuhkan pejabat yang pandai bersabda, tetapi pejabat yang pandai menyimak. Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang cambuknya kencang, tetapi pemimpin yang hatinya lembut.

Jika Hamka mengingatkan kita tentang adab dan integritas, Ibnu Rusyd tentang akal dan keadilan bagi mereka yang rentan, peribahasa Melayu tentang pembentukan karakter sejak dini dan ketabahan menggenggam bara, Gibran tentang perjalanan dari adil menuju penyayang, serta Kurikulum Cinta tentang persaudaraan semesta, semuanya bermuara pada satu kesimpulan:

Bangsa ini tidak akan maju karena sabetan yang kencang. Bangsa ini akan maju karena cinta yang luas. Dan cinta itu, seperti kata Buya Hamka, harus dimulai dari diri kita sendiri: dari cara kita memperlakukan pengemudi ojol yang mengantar kita, kusir delman yang kita lewati, dan rakyat kecil yang suaranya sering tidak terdengar.

Oleh: M. Arif Efendi
Penanggung Jawab Hubungan Antar-Lembaga, Kementerian Agama RI; Pranata Humas

Tags: etika kepemimpinankeadilan sosialKementerian Agamakepemimpinan beradabKurikulum Berbasis CintaM Arif Efendinilai kemanusiaanpejabat dan rakyatPendidikan Karakter
Previous Post

Mahasiswa Geruduk DPRK Pidie, Desak Dandim dan Danrem Dicopot

Related Posts

FASI Banda Aceh 2026 Dibuka, Illiza Dorong Generasi Qurani Hadapi Tantangan Era Digital

by Redaksi
8 September 2026
0

MASAKINI.CO - Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) Kota Banda Aceh 2026 resmi dibuka di Masjid Jamik Lueng Bata, Senin (7/9/2026)....

Delapan Bulan Pasca Banjir, Menag Bangun Kembali MIN 5 Pidie Jaya Senilai Rp12,3 Miliar

by Riska Zulfira
12 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Janji Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar kepada masyarakat Gampong Seunong, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, mulai...

Illiza Minta Sekolah Tak Hanya Kejar Akademik, tapi Bentuk Kebiasaan Anak

by Riska Zulfira
11 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal meminta sekolah tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga membentuk...

Discussion about this post

CERITA

Sabetan Pejabat dan Kusir Delman: Belajar dari Driver Ojol

6 November 2026

Di Sudut Punti, Rindu yang Panjang Menemukan Tempat untuk Pulang

2 November 2026

Menyusuri Kisah di Balik Nama Pulau Rubiah

28 Oktober 2026

Dari Lumpur Banjir, Kebun Edukasi MIN 42 Bireuen Tumbuhkan Semangat Baru

27 Oktober 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co