MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Senin, Februari 23, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Melawan Lupa, Khali Tunggal Berbagi Cerita

Masa Kini by Masa Kini
28 Mei 2023
in Cerita, Headline
0
Melawan Lupa, Khali Tunggal Berbagi Cerita

Seniman Arifa Safura menunjukkan seninya.(Rino Abonita)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Suara laki-laki itu mulai terdengar parau. Lebih dari sepuluh menit lamanya ia berdiri di sana: bermain gitar serta bernyanyi. Pada refrein lagu terakhir, suaranya mulai menanjak. Seakan hendak berpacu dengan deru lusinan kendaraan yang lalu-lalang di belokan Jalan Sri Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Sabtu sore (27/5/2023).

“Ditindas, dirampas semuanya. Di tanah leluhur sendiri. Dianggap sampah negeri,” begitu salah satu lirik refrein yang terdengar.

RelatedPosts

Air Mata Hasanah, Luka yang Tak Terlihat dalam Film Noeh

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

KontraS Aceh Temukan 7 Dugaan Kekerasan Gender di Pengungsian Aceh Utara

Muhammad Saifullah, tampil dengan lagu Suara Sunyi dan Tuan-Tuan. Pria yang lebih dikenal dengan sapaan Wak Cepul itu mewarnai pagelaran bernama Khali Tunggal.

Khali Tunggal sejatinya merupakan gerakan seni diinisiasi sejumlah seniman kritis di Banda Aceh. Tujuannya sebagai corong amplifikasi. Agar pelbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia di masa lalu tidak dilupakan.

Gerakan ini menargetkan ruang-ruang publik sebagai panggung-panggung pertunjukan. Kendati penontonnya masih bisa dihitung jari.

“Hari ini temanya khusus Mei Berdarah. Karena terdapat banyak tragedi besar yang terjadi di bulan ini, terutama di Aceh: Darurat Militer, Simpang KKA, dan Jambo Keupok. Juga sebagai alarm pengingat generasi muda, agar pelanggaran HAM tidak berulang lagi,” terang Rozhatul Valica, berbicara mewakili art space Khali Tunggal di sela-sela pertunjukan.

Setelah Wak Cepul, giliran Ikhwan Karazi Alsabi yang akan menunjukkan performanya. Laki-laki yang pernah menjejal takhta Duta Wisata Kota Langsa tahun 2021 itu hendak membacakan sebuah puisi bikinannya sendiri. Puisi tersebut diberi judul Hak Asasi Milik Siapa.

Ikhwan Karazi Alsabi membaca puisi.(Rino Abonita)

Bait demi bait pun meletup. Wajah Ikhwan memerah. Amarahnya meledak. Seolah ada dendam kesumat yang selama ini tersimpan jauh di dalam dada anak muda yang mengenakan kaos stensilan Munir merah hitam itu. Ia menunjuk-nunjuk langit serta memekik. Teriakannya seakan hendak mengoyak-ngoyak membran speaker.

Embusan angin yang menggerakkan rerimbun pepohonan di balik tugu taman tersebut pun terasa mendramatisasi suasana: mengiringi leret-leret puisi yang sedang dibacakan oleh Ikhwan. Sesaat kemudian, atmosfer di tempat itu terasa masygul. Penonton pun terdiam: hening seketika datang memagut.

Di saat yang sama, Arifa Safura dan Alica Putri Anjani tampak sibuk menggambar sesuatu di atas kanvas berwarna hitam. Kanvas tersebut dibentangkan di depan stan mikrofon yang tengah digenggam oleh Ikhwan. Di atas kanvas tersebut terdapat peta Aceh serta wajah seorang anak kecil yang digambar dengan cat berwarna emas.

Saddam Husein nama anak tersebut. Bocah berumur 7 tahun itu tewas disambar peluru yang dimuntahkan oleh serdadu Indonesia ke kerumunan penduduk yang berkumpul di Simpang Kertas Kraft Aceh (KKA), Senin siang, 3 Mei 1999. Peristiwa ini ikut merenggut puluhan nyawa penduduk di Aceh Utara yang berkumpul di simpang tersebut. Pemerintah Indonesia baru-baru ini telah menyatakan peristiwa sebagai pelanggaran HAM berat.

Pengakuan tersebut dilontarkan langsung oleh Jokowi secara resmi dalam dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden pada 11 Januari 2023. Selain Peristiwa Simpang KKA terdapat 11 peristiwa lain yang diakui sebagai pelanggaran HAM berat. Dua di antaranya juga terjadi di Aceh, yakni peristiwa Rumoh Geudong dan Jambo Keupok.

Langkah Jokowi itu merupakan tindak lanjut hasil rekomendasi Tim Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran Hak Asasi Manusia (PPHAM) menindaklanjuti Keppres No. 17 Tahun 2022. Tim tersebut melahirkan 11 rekomendasi. Di antaranya menyampaikan pengakuan dan penyesalan atas terjadinya pelanggaran HAM yang berat masa lalu.

Seniman yang tergabung dalam Khali Tunggal berfoto bersama.(Rino Abonita)

Presiden juga menerbitkan Keppres No. 4 Tahun 2023 tentang Tim Pemantau Pelaksanaan Rekomendasi Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran HAM yang Berat dan Inpres 2 Tahun 2023 tentang Pelaksanaan Rekomendasi Tim PPHAM. Keduanya ditetapkan pada Maret 2023 dan merupakan kesinambungan dari rekomendasi Tim PPHAM.

Namun, kebijakan pemerintah menangani kasus pelanggaran HAM berat dengan mekanisme non yudisial tidak serta-merta mendapat sambutan baik. Beleid tersebut ditakutkan akan meredupkan suar upaya penyelesaian yudisial yang selama ini digaungkan. Ini pulalah yang mendorong seniman melalui gerakan Khali Tunggal menyuarakan pentingnya pengadilan HAM Ad Hoc demi rasa keadilan bagi para korban.

“Tersebut asasi namun tanpa raga. Tak berguna hanya alat pengekang saja,” Ikhwan mencoba menggambarkan pesimismenya atas kebijakan nonyudisial pemerintah terhadap peristiwa pelanggaran HAM di Aceh melalui puisinya.

Ada serentang kain hitam yang menghampar hanya satu langkah dari tempat Arifa dan Alica menggambar. Pecahan keramik yang dipungut di sekitar tempat itu dijadikan sebagai pemberat untuk menahan embusan angin yang hendak menerbangkan kanvas tersebut. Phan Thị Kim Phúc, demikian tertulis di ujung kain tersebut. Sebuah nama yang asing.

Di bawah tulisan tersebut tertera kalimat dalam bahasa Inggris. Salah satu yang paling awal berbunyi, “I have suffered a lot of physical and emotional pain”. Selain dipenuhi dengan kumpulan kata-kata, kain hitam itu ditempeli dengan beberapa potong gambar anak perempuan serta sebuah bola mata raksasa yang mengurung wajah seorang perempuan berwajah Asia.

Nama Phan Thị Kim Phúc ternyata berkaitan erat dengan foto fenomenal yang kesohor dengan sebutan The Girl in the Picture atau Napalm Girl. Foto tersebut memperlihatkan seorang anak perempuan yang histeris sedang berlarian di tengah jalan tanpa pakaian di antara sejumlah anak lain dengan latar belakang tentara dan asap ledakan dalam warna monokrom.

Jepretan fotografer Nick Ut itu diambil pada 8 Juni 1972. Saat itu, pesawat udara Vietnam Selatan menjatuhkan bom napalm ke Trang Bang—saat ini merupakan kota di Provinsi Tay Ninh, di wilayah Tenggara Vietnam. Anak perempuan itu, Kim Phúc, mengalami luka bakar yang serius. Ia baru dapat bergerak dengan baik seusai menjalani perawatan intensif di Jerman Barat pada 1982.

“Kim Phúc dianugerahi Penghargaan Perdamaian Dresden Pada 11 Februari 2019,” terang Arifa, selaku seniman di balik gambar di atas kanvas hitam tersebut.

Menurut Arifa, Kim Phúc sejatinya sama seperti almarhum Saddam Husein. Keduanya merupakan korban perang, anak-anak polos yang tidak tahu-menahu tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi. Hanya saja, Saddam Husein tidak seberuntung Kim Phúc.

Komisioner KKR Aceh, Oni Imelva turut berpartisipasi dalam pagelaran, Khali Tunggal.(Rino Abonita)

Komisioner Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, Oni Imelva, menutup sesi pertunjukan seni Khali Tunggal dengan membaca kisah yang diambil dari buku Kebenaran Untuk Anak Cucu. Cerita berjudul Yang Tersisa Dari Rumoh Geudong itu terasa lebih dramatis. Itu berkat teknik bercerita Oni yang terdengar puitis diiringi petikan gitar akustik.

“Moncong senjata sudah diarahkan kepada Hanafi dan Mar yang duduk berdampingan dalam keadaan telanjang. Namun, mereka urung melepaskan peluru. Keduanya selamat, tapi siksaan yang mereka terima semakin berat…,” belum selesai Oni membaca, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an mulai terdengar dari seantero tempat. Ternyata magrib sudah di depan mata.

“Cerita ini belum berakhir,” ujar Oni. Itu terdengar seperti perkataan Rozhatul Valica, bahwa Khali Tunggal belum memiliki bagian penutup atau epilog. Gerakan yang berjalan secara independen itu akan terus berlanjut, menelusuk di lorong-lorong sepi. Tempat yang jarang disentuh oleh banyak orang.

“Mengampanyekan seni-seni perlawanan terhadap ketidakadilan,” tegas Rozhatul.

Penulis: Rino Abonita

Tags: Alica Putri AnjaniArifa SafuraJokowiMei BerdarahMuhammad SaifullahOni ImelvaPagelaran Khali TunggalPelanggaran HAM AcehRozhatul ValicaWak Cepul
Previous Post

Resmi! Argentina Bawa Messi Lawan Indonesia di FIFA Matchday

Next Post

Kredit UMKM BRI Terus Tumbuh Capai Rp989,6 Triliun

Related Posts

Kaesang Pangarep Siap ‘All Out’ Dukung Pasangan AMAL di Aceh Selatan

Kaesang Pangarep Siap ‘All Out’ Dukung Pasangan AMAL di Aceh Selatan

by Alfath Asmunda
12 November 2024
0

MASAKINI.CO - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep turun langsung ke Aceh mengecek persiapan calon kepala daerah yang...

Kesempatan Kedua Kurator HIPI ‘Abadikan’ Jokowi

by Ichsan Maulana
16 Oktober 2024
0

MASAKINI.CO - Joko Widodo (Jokowi) membelah pagar ayu. Langkahnya santai, senyum selaras dengan lambaian tangan pada perempuan Aceh, yang siang...

Lengser dari Kepala BIN, Budi Gunawan Berulang Kali Puji Jokowi

Lengser dari Kepala BIN, Budi Gunawan Berulang Kali Puji Jokowi

by Alfath Asmunda
15 Oktober 2024
0

MASAKINI.CO - Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan berulang kali menyampaikan pujian kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meresmikan...

Next Post
Kredit UMKM BRI Terus Tumbuh Capai Rp989,6 Triliun

Kredit UMKM BRI Terus Tumbuh Capai Rp989,6 Triliun

Gawat, 8 Juta Rakyat Turki Tidak Ikut Pemilu

Discussion about this post

CERITA

Ismatul Rahmi pemeran Hasanah dalam dokudrama NOEH | Foto: dok pribadi

Air Mata Hasanah, Luka yang Tak Terlihat dalam Film Noeh

17 Februari 2026

Menembus Batas Negeri, Perjalanan Naufal Maulana Menggapai Beasiswa Pemerintah Rusia

14 Februari 2026

Meugang, Tradisi Turun-Temurun Aceh Menyambut Ramadan

4 Februari 2026

Ramadan di Tenda: Harapan Pengungsi Kalasegi untuk Rumah yang Terlambat Datang

3 Februari 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...