MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Minggu, April 12, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Upuh Tengkedep di Ujung Jaman

Syah Antoni by Syah Antoni
1 Februari 2024
in Cerita
0

Upuh Tengkedep selimut khas Bener Meriah. | Syah Antoni/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Tubuh Kelimah terbaring lesu. Diusia menjelang delapan puluh tahunan, perempuan yang akrab disapa Inen Hasbolah itu sedang berupaya melawan sakit yang dideritanya sejak beberapa tahun lalu.

Meskipun sedang sakit, ia tetap semangat mengobrol dengan siapa saja yang datang menjenguk.

RelatedPosts

Rumah Dibakar Ayah, Ibu dan Dua Anak Selamat dari Amukan Dini Hari

Dari Ditolak hingga Diakui: Jalan Sunyi Inayatillah Membuktikan Perempuan Bisa Memimpin

Dari Balik Tenda, Suara Wara Bongkar Realitas Pengungsi Aceh Tamiang

Seperti biasa, ia nampak mengenakan selimut yang lazim membalut tubuhnya. Kelimah menyebutnya upuh tengkedep. Selimut tersebut merupakan salah satu selimut favoritnya.

Kelimah bercerita, dulunya ia memiliki banyak sekali koleksi upuh tengkedep. Ia membuat sendiri selimut-selimut tersebut baik dengan tangan maupun mesin jahit jadulnya. Namun belakangan hanya dua selimut yang tersisa, sebagian diberikan kepada anak dan cucunya.

Upuh tengkedep merupakan selimut yang terbuat dari kain-kain sisa atau pakaian yang tidak lagi dipakai seperti kain sarung, baju bahkan celana. Atau dalam beberapa kesempatan ibu-ibu jaman dulu juga menggunakan karung tepung yang terbuat dari kain sebagai bahan pembuatan upuh tengkedep.

Kain-kain tersebut ditambal ke selimut yang mulai bolong atau tidak layak pakai sehingga dapat dipergunakan kembali.

“Kurang lebih Tengkedep berarti ditambal atau tambal. Biasanya dalam proses pembuatannya, kain-kain sisa atau pakaian bekas ditambal ke selimut yang sudah tidak terpakai lagi. Tujuan ditambal keselimut agar mengikuti bentuk selimut atau berbentuk selimut,” ungkap Kelimah.

Menurut warga Tingkem Bersatu, Kecamatan Bukit ini upuh tengkedep lebih hangat ketimbang selimut blanket. Hal tersebut dikarenakan ketebalannya. Apalagi dataran tinggi Gayo yang beriklim sejuk, selimut tersebut sangat cocok dipakai menghangatkan tubuh sepanjang malam.

Selain menghangatkan tubuh, dahulu selimut yang sering juga disebut upuh gunel atau upuh masam jing tersebut mempunyai kegunaan lain yaitu untuk menghangatkan makanan.

Caranyapun sangat mudah. Nasi atau sayur yang telah matang dalam keadaan panas dipindahkan ke dalam panci. Panci kemudian ditutup lalu dibalut dengan upuh tengkedep. Lazimnya makanan akan tetap hangat saat waktu makan tiba.

“Makanan yang hangat tentu lebih nikmat. Dulu tidak ada rice cooker seperti sekarang. Jadi, membalut nasi atau makanan lain dengan upuh tengkedep satu-satunya cara menghangatkan makanan tanpa repot menyalakan api,” kenangnya.

Nenek Kelimah, Warga Tingkem Bersatu, Kecamatan Bukit, Bener Meriah. | Syah Antoni/masakini.co

Kian Langka

Seiring berjalannya waktu, keberadaan upuh tengkedep mulai jarang ditemui. Kelimah menduga alasan berkurangnya selimut unik tersebut akibat banyaknya produk-produk selimut dari luar seperti blanket dan jenis selimut lain di pasaran.

Upuh tengkedep kalah saing dengan selimut modern yang lebih praktis. Tidak perlu lelah menjahit. Cukup mengeluarkan budget yang tidak terlalu besar langsung bisa dibawa pulang untuk menghangatkan badan.

Belum lagi bobot selimut dipasaran yang lebih ringan dibandingkan upuh tengkedep yang berpengaruh saat proses pencucian diyakini Kelimah menjadi penyebab mulai jarang terlihatnya upuh tengkedep.

Kendatipun demikian, Kelimah menaruh asa agar eksistensi selimut tersebut tetap terjaga sebagai bagian kebudayaan masyarakat Gayo jaman dulu. Selain itu, penggunaan upuh tengkedep mampu meminimalisir limbah tekstil.

“Semoga generasi sekarang tetap menjaga budaya leluhurnya. Banyak hal positif didapat saat membuat upuh tengkedep,” kata Kelimah.

Ia menyebut beberapa manfaat bila membuat upuh tengkedep, “seperti peningkatan kreatifitas, meminimalisir prilaku boros dan yang terpenting menjaga budaya datu (orang tua jaman dulu),” sebutnya.

“Jangan sampai upuh tengkedep bernasib sama dengan tikar Kertan,” pungkas Kelimah.

Tags: Bener MeriahBudaya TradisionalGayo Zaman DuluSelimut TebalTikar KertanUpuh Tengkedep
Previous Post

Kepala Lapas dan Rutan Diingatkan Tak Intimidasi Warga Saat Pemilu

Next Post

Inspektorat Aceh Barat Menduga Laporan Dana Desa Banyak Fiktif

Related Posts

3 Rumah Warga di Bener Meriah Terbakar, Delapan Warga Mengungsi

by Riska Zulfira
30 Maret 2026
0

MASAKINI.CO – Kebakaran terjadi di Desa Bale Simpang Tiga, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Senin (30/3/2026) dini hari sekitar pukul...

Akses Jalan Bener Meriah–Aceh Utara Mulai Normal, Pengendara Diimbau Tetap Hati-hati

Akses Jalan Bener Meriah–Aceh Utara Mulai Normal, Pengendara Diimbau Tetap Hati-hati

by Redaksi
20 Maret 2026
0

MASAKINI.CO – Ruas jalan lintas Bener Meriah – Aceh Utara saat ini sudah dapat dilintasi pengendara melalui jalur KKA. Meskipun...

Polres Bener Meriah Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Pasutri di Blang Tampu

by Riska Zulfira
6 Februari 2026
0

MASAKINI.CO - Kepolisian Resor Bener Meriah menggelar rekonstruksi kasus perampokan yang berujung pembunuhan terhadap pasangan suami istri di Desa Blang...

Next Post
406 Gampong di Pidie Sudah Terima Dana Desa

Inspektorat Aceh Barat Menduga Laporan Dana Desa Banyak Fiktif

Kata PSSI Usai Dokter Gadungan Timnas Pencatut Ijazah USK Ditangkap

Kata PSSI Usai Dokter Gadungan Timnas Pencatut Ijazah USK Ditangkap

Discussion about this post

CERITA

Rumah Dibakar Ayah, Ibu dan Dua Anak Selamat dari Amukan Dini Hari

7 April 2026

Dari Ditolak hingga Diakui: Jalan Sunyi Inayatillah Membuktikan Perempuan Bisa Memimpin

2 April 2026

Dari Balik Tenda, Suara Wara Bongkar Realitas Pengungsi Aceh Tamiang

27 Maret 2026
Sambut Idul Fitri, Kak Na Keliling Kota Berbagi Daging Meugang

Sambut Idul Fitri, Kak Na Keliling Kota Berbagi Daging Meugang

19 Maret 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...