MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Mei 20, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Mie Kocok Abdya, Ikon Wisata Kuliner di Negeri Breuh Sigupai

Alfath Asmunda by Alfath Asmunda
7 Agustus 2024
in Cerita
0
Mie Kocok Abdya, Ikon Wisata Kuliner di Negeri Breuh Sigupai

Warkop Muslim salah satu penyedia mie kocok khas Abdya yang berada di tengah Kota Blangpidie. (foto: masakini.co/Alfath)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Tak jauh dari perempatan tengah Kota Blangpidie, arah menuju ke Jalan At Taqwa, berdiri sebuah warung berdinding kayu. Silih berganti orang keluar masuk dari warung itu. Sedari terbit matahari hingga pukul 10 malam hari.

Apa pemantik yang menarik orang-orang berkunjung ke warung itu? Jawabannya adalah; semangkuk mie kocok khas Abdya.

RelatedPosts

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

Blangpidie adalah ibu kota Kabupaten Aceh Barat Daya. Sejak daerah itu resmi berdiri 2002 lalu, entah bagaimana mulanya orang lebih cenderung menyemat singkatannya menjadi Abdya.

Kehidupan di kota ini menggeliat sejak terang tanah. Ini terlihat dari orang-orang yang keluar masjid usai menunaikan salat subuh lalu memenuhi warung berdinding kayu itu. Namanya ‘Warkop Muslim’.

Banyak orang di Abdya memulai hari dengan meneguk secangkir kopi hangat di sana. Sebagai pengganjal perut, mereka memesan sepiring mie kocok. Kuliner ini adalah primadona untuk sarapan masyarakat di kabupaten berjuluk Breuh Sigupai itu.

Sepiring mie kocok khas Abdya yang disajikan Warkop Muslim. (foto: masakini.co/Alfath)

Secara visual mie kocok ini tampak sederhana. Mienya terbuat dari tepung beras yang diolah secara rumahan. Ada dua jenis mie yang tersaji. Pertama mie kuning dan mie tiaw. Biasanya, orang lebih memilih keduanya dicampur.

Istilah kocok dalam nama hidangan ini merujuk kepada proses memasaknya, yaitu mengocok-ngocok mie dalam wadah logam bolong-bolong bergagang.

Kuliner yang satu ini banyak tersebar di berbagai daerah di Nusantara. Konon di Abdya sendiri, hidangan ini dibawa oleh pengelana dari keturunan Cina. Merekalah yang pertama mengenalkan mie kocok ke lidah masyarakat lokal hingga menjadi sebuah kuliner khas daerah berpenduduk 100 ribu lebih jiwa itu.

Mereka yang datang atau hanya sekadar melintasi Kabupaten Abdya pasti melekat di benak untuk ingin menyantap kuliner tersebut. Maka kini mie kocok Abdya bukan lagi hanya sebatas kudapan, dia telah melampaui itu, masuk menjadi bagian dari identitas daerah tersebut.

Meski kuliner ini tersebar di banyak daerah, penyajian mie kocok nyaris tak selalu sama. Di Abdya, sepiring mie kocok dilumuri kuah kaldu bening. Berikutnya toge, cacahan seledri, dan bawang goreng turut serta melengkapi. Terakhir penyajiannya ditutup dengan topping cincangan halus ayam.

Di Blangpidie ‘Warkop Muslim’ salah satu warung penyedia mie kocok. Meski berdinding papan dengan meja kayu dan kursi-kursi plastik di dalamnya, warung ini tak pernah sepi.

Pemilik warung kini adalah generasi ketiga. Bermula dari sang kakek yang merintis warung itu sejak 1968. Mereka buka setiap hari, mulai dari subuh hingga pukul 10 malam.

Mie kocok di warkop muslim memiliki cita rasa kuah kaldu yang segar. Mie kuning dan tiaw yang bercampur jadi satu itu begitu lembut saat dikunyah. Ayam cincang yang menjadi topping-nya pun tak kalah juara, terasa lembut ketika masuk ke mulut.

Di atas meja tersedia acar bawang dan cabai. Juga ada saus, cuka dan kecap. Pengunjung boleh ambil sepuasnya. Menyantap mie kocok di sana makin lengkap nikmatnya jika pakai perkedel dan telur rebus.

Pekerja di Warkop Muslim sedang menyajikan mie kocok khas Abdya. (foto: masakini.co/Alfath)

Belakangan kuliner ini telah menjadi oleh-oleh khas Abdya. Banyak orang memesannya dari berbagai daerah. Agar aman untuk disantap hingga sampai ke tempat tujuan, warkop muslim mengakali cara penyajiannya.

Mie tak langsung dicampur dengan kuah kaldunya, melainkan dipisah. Biar makin awet, mie dibungkus pakai daun pisang. Sementara acar, cincangan ayam, dan kuah mie dibungkus dalam wadah terpisah. Tahannya bisa sampai sehari.

Lalu berapa seporsi mie kocok khas Abdya di Warkop Muslim ini? Penuturan sang pemilik, meski sejumlah bahan untuk membuat mie kini naik, mereka masih tetap setia dengan harga yang ramah dikantong. Sepuluh ribu rupiah saja.

Tags: AbdyaAceh Barat DayaDisbudpar AcehMie Kocok AbdyaWarkop Muslim AbdyaWisata KulinerWisatawan
Previous Post

Saran DPRA untuk KIP Aceh Agar Pilkada 2024 Lancar

Next Post

Jelang PON dan Pilkada, Pangdam IM Ingatkan Prajurit Jaga Profesionalisme

Related Posts

Lonjakan Wisatawan ke Sabang, Trip Kapal Ditambah hingga Malam

by Riska Zulfira
23 Maret 2026
0

MASAKINI.CO - Arus penumpang penyeberangan di Pelabuhan Ulee Lheue menuju Pelabuhan Balohan, Sabang, melonjak signifikan selama libur Idulfitri 1447 Hijriah....

Aceh Gelar Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Raya Baiturrahman, Sejumlah Menteri Dijadwalkan Hadir

by Riska Zulfira
5 Maret 2026
0

MASAKINI.CO - Pemerintah Aceh akan menggelar peringatan Malam Nuzulul Qur’an pada Jumat, 6 Maret 2026 di Masjid Raya Baiturrahman. Kegiatan...

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Sinabang

by Riska Zulfira
3 Maret 2026
0

MASAKINI.CO - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,4 mengguncang wilayah Sinabang, Selasa (3/3/2026) siang. Getaran terasa cukup kuat di sejumlah daerah...

Next Post
Jelang PON dan Pilkada, Pangdam IM Ingatkan Prajurit Jaga Profesionalisme

Jelang PON dan Pilkada, Pangdam IM Ingatkan Prajurit Jaga Profesionalisme

5 Pejabat Lhokseumawe Divonis Bebas Terkait Korupsi Pajak Penerangan Jalan

5 Pejabat Lhokseumawe Divonis Bebas Terkait Korupsi Pajak Penerangan Jalan

Discussion about this post

CERITA

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

Dari Kuli Panggul ke Pencerita Visual, Perjalanan Sunyi Yulzi di Balik Lensa

1 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...