MASAKINI.CO – Mariani (57), warga Dusun Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, masih mengingat jelas detik-detik ketika banjir dan longsor datang menyapu kampungnya. Dalam sekejap, rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat berteduh lenyap tanpa sisa.
Tidak ada harta benda yang sempat diselamatkan. Yang tersisa hanyalah nyawa dan pakaian yang melekat di badan.
“Yang kami bawa cuma nyawa dan pakaian di badan, lain tidak ada,” kata Mariani dengan suara pelan, Kamis (19/12/2025).
Bencana alam itu memaksa Mariani bersama ratusan warga lainnya mengungsi ke posko darurat. Posko pengungsian mulai berdiri sejak Rabu malam, 26 November 2025 lalu.
Saat itu pula Mariani dan keluarganya langsung diarahkan menuju tempat aman. Bantuan datang dari berbagai pihak, termasuk TNI dan tim SAR yang membantu proses evakuasi dan kebutuhan awal para pengungsi.
Mariani berkisah, setiap pagi begitu membuka mata, anak-anak Mariani selalu mengajak pulang.
“Mak, pulang ke rumah, ya,” ujar mereka berulang kali.
Permintaan itu justru membuat hati Mariani semakin perih. Setiap kali anak-anak mengajak pulang, air matanya tak terbendung. Bukan karena ia tak ingin pulang, melainkan rumah yang mereka maksud sudah benar-benar hilang, tersapu banjir dan longsor.
“Hampir setiap hari anak-anak tanya, rumah kita di mana, Mak? Kami bingung mau jawab apa,” kata Mariani dengan suara bergetar.
Tak ada bangunan yang bisa ditunjukkan. Tak ada dinding atau atap yang tersisa. Satu-satunya yang bisa ia perlihatkan kepada anak-anak hanyalah aliran sungai yang kini mengalir tenang, namun telah merenggut seluruh tempat tinggal mereka.
“Kami cuma bilang, tempat kita tinggal sudah tidak ada lagi. Itu saja yang bisa kami jelaskan,” ujarnya lirih.

Kondisi ini membuat hari-hari di pengungsian terasa berat. Anak-anak yang rindu pulang harus menerima kenyataan pahit, sementara orang tua berusaha tegar di tengah keterbatasan.
Kini 23 hari sudah pasca bencana, ia bersama ratusan warga lainnya masih bertahan posko pengungsian. Menurut Mariani, fasilitas di posko masih jauh dari cukup. Banyak pengungsi terpaksa berada di luar tenda karena kapasitas yang terbatas.
“Kami kekurangan toilet, air bersih juga kurang. Jumlah pengungsi ratusan, tapi fasilitasnya terbatas,” katanya.
Mariani bersyukur, dalam musibah besar tersebut tidak ada korban jiwa. Ia menyebut keselamatan warga tak lepas dari peran perangkat desa yang lebih dulu meminta warga mengosongkan rumah sebelum bencana datang.
“Kalau korban jiwa memang tidak ada. Kami sudah duluan disuruh kosongkan rumah oleh perangkat desa. Itulah makanya kami selamat,” ujarnya.
Di posko pengungsian, jumlah kepala keluarga yang mengungsi diperkirakan mencapai lebih dari 400 KK. Bantuan logistik terus berdatangan. Mariani menyebut bahan kebutuhan pokok seperti beras, telur, mie instan, sarden, hingga makanan siap saji telah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Yang pertama-pertama itu bantuan makanan yang kita makan sehari-hari. Alhamdulillah ada,” katanya.
Untuk anak-anak, bantuan juga datang dalam bentuk makanan ringan, pakaian, dan kebutuhan lainnya. Sejumlah warga dan relawan turut membantu secara sukarela. Kepedulian masyarakat menjadi penguat bagi para pengungsi di tengah keterbatasan.
Layanan kesehatan di posko juga disiagakan setiap hari. Mariani menyebut dokter dari berbagai bidang hadir untuk memastikan kondisi pengungsi tetap terpantau. Mulai dari dokter umum hingga dokter spesialis disiagakan secara bergantian.
“Kalau urusan kesehatan, semua ada. Setiap hari ada dokter. Semua siaga,” ucapnya.
Menjelang bulan puasa, kebutuhan mendesak semakin terasa. Mariani berharap pemerintah dan pihak terkait segera membangun hunian sementara agar para pengungsi, khususnya perempuan dan anak-anak, bisa menjalani kehidupan yang lebih layak.
Selain hunian, warga Balee Panah juga berharap adanya pembangunan tanggul sungai untuk mencegah bencana serupa terulang. Mereka tak ingin kehilangan kembali rumah, kampung, dan rasa aman yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
“Kami mohon kepada semua yang mau membantu, tolong bantu kami.”
Jangan sampai kampung ini mati. Kami ingin hidup tenang seperti dulu,” ujar Mariani penuh harap.










Discussion about this post