MASAKINI.CO – Sekitar 30 ribu hektare tambak milik masyarakat di wilayah pesisir Aceh dilaporkan rusak akibat bencana yang melanda dalam beberapa waktu terakhir. Dari seluruh daerah terdampak, Aceh Utara menjadi wilayah dengan tingkat kerusakan terparah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh, Kariamansyah, mengatakan kerusakan tambak terjadi hampir merata di kawasan pesisir dan berdampak langsung terhadap mata pencaharian masyarakat.
Ia menjelaskan, kerusakan tambak diklasifikasikan dalam tiga kategori, yakni rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat, tergantung kondisi tanggul, kolam, dan saluran air pascabencana.
Selain Aceh Utara, beberapa daerah lain juga mengalami kerusakan cukup signifikan, di antaranya Aceh Timur, Bireuen, Pidie Jaya, dan Aceh Tamiang. “Di Aceh Utara seluas 10.620 hektar yang terdampak, kemudian disusul di Aceh timur 7.094 hektar, Bireun 4.945 hektar dan Aceh Tamiang 3.435 hektar,” sebut Kariamansyah, Senin (26/1/2026).
Menurut Kariamansyah, pendataan kerusakan dilakukan secara berjenjang oleh pemerintah kabupaten/kota, Pemerintah Aceh, hingga kementerian terkait. Saat ini, seluruh data masih dalam tahap validasi ulang agar tidak terjadi perbedaan angka antarinstansi.
“Data sudah kita identifikasi bersama. Sekarang tinggal proses validasi supaya data kabupaten, provinsi, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan bisa satu,” jelasnya.
Kerusakan tersebut berdampak besar terhadap produktivitas tambak, terutama bagi petambak kecil yang menggantungkan penghasilan harian dari sektor budidaya perikanan. Banyak tambak tidak dapat digunakan kembali karena tanggul jebol dan kolam tertimbun material.
Pemerintah Aceh berharap proses rehabilitasi tambak dapat segera dilakukan pada tahun ini, dengan prioritas utama pada tambak yang mengalami kerusakan berat.
“Harapan kita, setelah data final, rehabilitasi bisa segera dimulai agar petambak dapat kembali beraktivitas dan ekonomi pesisir bisa pulih,” pungkasnya.










Discussion about this post