MASAKINI.CO – Pantauan titik panas (hotspot) di wilayah Aceh menunjukkan peningkatan signifikan sejak pertengahan Januari 2026, setelah sebelumnya mulai terdeteksi pada awal bulan. Meski demikian, kondisi ini belum mengindikasikan masuknya musim kemarau dan masih sebatas kemunculan titik panas akibat faktor cuaca, Senin (26/1/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan menggunakan Sensor MODIS dari Satelit Terra, Aqua, Suomi NPP, serta NOAA20/VIIRS, pada 25 Januari 2026 terdeteksi sebanyak 161 titik panas yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Titik panas tersebut terpantau di wilayah pantai barat, tengah, hingga selatan Aceh.
Forecaster Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, Fitriana Nur, menjelaskan bahwa meningkatnya jumlah titik panas dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang didominasi cerah berawan dengan suhu udara yang relatif panas pada siang hari.
“Kondisi ini belum termasuk mendekati musim kemarau, melainkan masih berupa kemunculan titik panas akibat cuaca cerah dan pemanasan permukaan,” ujar Fitriana Nur.
Seiring dengan kondisi tersebut, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diimbau untuk tetap berhati-hati. Cuaca panas berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
“Berhubung cuaca dominan cerah berawan, kami mengimbau masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan agar selalu berhati-hati karena cuaca cukup panas,” kata Fitriana.
Selain itu, masyarakat dan pemerintah daerah setempat juga diminta meningkatkan pengawasan terhadap pembakaran hutan dan lahan. Pada kondisi cuaca cerah, api berpotensi menyebar dengan sangat cepat dan menimbulkan asap yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
“Pembakaran lahan harus benar-benar diwaspadai karena selain api mudah meluas, asap yang dihasilkan juga dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat,” tambahnya.
Pantauan titik panas di Aceh akan terus dilakukan secara intensif, seiring dengan dinamika cuaca yang masih berpotensi berubah sewaktu-waktu.









Discussion about this post