MASAKINI.CO – Setelah belasan jam berpuasa menahan lapar dan dahaga, alih-alih bertenaga setelah berbuka, sebagian orang justru merasakan sebaliknya. Ada yang merasa begah, mengantuk, hingga lemas seperti tidak bertenaga saat melaksanakan salat tarawih.
Kondisi tubuh seperti ini bukanlah rasa lelah biasa, tetapi dipicu sugar rush atau mengkonsumsi gula dalam jumlah banyak sehingga berubah menjadi sugar crush yaitu gula darah mendadak naik. Hal ini terjadi dipengaruhi oleh pola makan saat berbuka.
Lalu apa yang harus dilakukan agar tubuh tetap prima dan khusuk saat melaksanakan tarawih?
Dikutip dari NU Online, Clean eating adalah pola makan yang mengutamakan konsumsi bahan pangan sedekat mungkin dengan bentuk aslinya di alam (whole foods) dan meminimalkan proses pengolahan pabrikan yang berlebihan.
Fokus utama clean eating adalah menghindari penggunaan bahan tambahan pangan sintetis berupa pengawet, pemanis buatan, pewarna kimia, dan penyedap rasa yang berlebihan, demi menjaga kemurnian nutrisi yang masuk ke dalam sel tubuh.
Sementara konsep Piring Pelangi adalah strategi nutrisi yang menekankan keberagaman hayati (biodiversitas) di atas piring dengan menghadirkan berbagai jenis warna alami dari sayuran dan buah-buahan dalam satu kali makan.
Di antaranya merah, kuning, hijau, ungu, hingga putih. Intinya, keragaman warna ini adalah cara alami untuk memastikan tubuh mendapatkan perlindungan nutrisi yang lengkap.
Menerapkan clean eating sama saja dengan meminimalkan proses pengolahan makanan dengan menggoreng berulang kali atau menambahkan pemanis buatan.
Clean eating kembali pada kesegaran bahan asli. Praktik ini sangat selaras dengan prinsip halalan thayyiban.
Mengapa piring berbuka harus berwarna-warni menyerupai pelangi? Secara saintifik, warna pada tumbuhan adalah indikator adanya fitonutrien atau senyawa alami yang bekerja sebagai pelindung tubuh.
Berdasarkan riset internasional, keberagaman warna ini memiliki dampak langsung pada metabolisme orang yang berpuasa.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nutrients (2024), mengonsumsi berbagai jenis polifenol (zat warna alami pada sayur dan buah) secara bersamaan dapat menghambat aktivitas enzim pencerna gula di usus.
Riset dalam jurnal Frontiers in Nutrition (2025) mengungkapkan bahwa pola makan yang beragam (dietary diversity) selama bulan puasa sangat penting bagi ekosistem bakteri baik di usus. Usus yang sehat berarti penyerapan nutrisi maksimal dan sistem
Pertama, zona hijau dan putih (50 persen piring). Caranya, isi setengah piring dengan sayuran hijau seperti bayam, daun kelor, atau lalapan segar.
Sayuran hijau tersebut mengandung serat yang melimpah dan berfungsi sebagai bantalan lambung agar gula dari makanan lain tidak langsung menyerbu aliran darah.
Setelah itu, tambahkan bawang putih atau bawang bombay (zona putih) yang berfungsi sebagai antibiotik alami.
Kedua, zona merah, kuning, dan oranye (25 persen piring). Sajikan buah-buahan seperti semangka, pepaya, atau wortel. Warna-warna ini memiliki kandungan kaya akan beta-karoten dan likopen yang sangat penting untuk rehidrasi sel tubuh seketika dan melindungi kulit dari kekusaman akibat dehidrasi selama puasa.
Ketiga, zona ungu dan cokelat (25 persen piring). Pilihlah sumber karbohidrat kompleks seperti ubi jalar, nasi merah, atau singkong rebus.










Discussion about this post