MASAKINI.CO – Ziarah makam ulama tidak hanya dimaknai sebagai tradisi spiritual untuk mengenang dan mendoakan para tokoh agama. Aktivitas tersebut juga dapat menjadi sarana pelestarian lingkungan dan warisan sejarah Islam melalui gerakan ekoteologi yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap alam.
Gagasan itu mengemuka dalam Dialog PENA Batch 33 yang diselenggarakan Komunitas Pena Da’i Nusantara (PDN) secara daring melalui Zoom Meeting dan siaran langsung YouTube PDN, Selasa (9/6/2026), dengan tema “Ziarah Makam Ulama sebagai Gerakan Ekoteologi.”
Narasumber utama, Penyuluh Agama Islam Kabupaten Pidie, Tgk. Azmi Abubakar, Lc., M.H., mengatakan selama ini makam ulama lebih banyak dipandang sebagai tempat ziarah dan penghormatan kepada tokoh agama. Padahal, kawasan makam juga dapat menjadi ruang edukasi yang menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan merawat situs-situs bersejarah.
Menurutnya, masih banyak makam ulama di Kabupaten Pidie yang mengalami kerusakan dan kurang terawat sehingga membutuhkan perhatian bersama dari masyarakat, pemerintah, dan berbagai komunitas.
“Pelestarian makam ulama tidak cukup hanya dengan renovasi fisik. Yang lebih penting adalah perawatan berkelanjutan, menjaga kebersihan, dan membangun kesadaran kolektif untuk merawatnya sebagai warisan sejarah dan keagamaan,” ujar Azmi.
Ia mencontohkan sejumlah situs bersejarah seperti Makam Syekh Faqih Jalaluddin dan Masjid Tuha Tiro yang telah mendapatkan perhatian melalui pemugaran dan perbaikan. Namun, upaya tersebut perlu diikuti dengan pengelolaan kawasan yang berkelanjutan agar tetap terjaga dan memiliki nilai edukatif bagi masyarakat.
Azmi menjelaskan, dalam perspektif fikih, ziarah makam dapat dipahami sebagai Wasail Maqasid Tabi’ah, yaitu sarana yang mendukung terwujudnya tujuan pelestarian lingkungan. Karena itu, kawasan ziarah berpotensi menjadi media dakwah ekologis yang mengajarkan kebersihan, konservasi, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Pandangan tersebut mendapat dukungan dari Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI, Dr. H. Jamaluddin M. Marki, Lc., M.Si., yang hadir sebagai keynote speaker. Ia menegaskan bahwa ekoteologi merupakan salah satu program prioritas Kementerian Agama yang bertujuan membangun kesadaran keagamaan yang ramah lingkungan.
Menurut Jamaluddin, penghormatan terhadap orang yang telah wafat juga harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan di sekitar makam dan situs keagamaan. Karena itu, kawasan ziarah perlu dijaga kebersihan dan kelestariannya dengan meminimalkan sampah serta kerusakan lingkungan.
“Ekoteologi berarti bersahabat dengan alam. Keteladanan menjaga lingkungan harus dimulai dari hal-hal sederhana, termasuk menerapkan budaya zero waste dari meja makan kita sendiri,” katanya.
Selain membahas isu lingkungan, forum yang diikuti penyuluh agama, akademisi, pegiat literasi, dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah itu juga menyoroti pentingnya peran penyuluh agama dalam merespons persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Ketua Komisi Informasi Aceh, Junaidi Surya, menilai literasi, inovasi, dan diseminasi informasi menjadi faktor penting dalam membangun peradaban. Menurutnya, setiap gagasan yang lahir dari masyarakat perlu mendapat ruang dan apresiasi karena dapat menjadi pemicu perubahan positif.
Di akhir kegiatan, peserta merekomendasikan penguatan pesan-pesan pelestarian lingkungan dalam kegiatan dakwah dan ziarah, peningkatan gerakan kebersihan di kawasan situs keagamaan, serta kolaborasi lintas sektor dalam menjaga makam ulama sebagai warisan sejarah, budaya, dan spiritual.







Discussion about this post