MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Rabu, Juni 10, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home News

Tak Sekadar Doa, Ziarah Makam Ulama Didorong Jadi Media Dakwah Ekologi

Aininadhirah by Aininadhirah
10 Juni 2026
in News
0

Flayer Dialog Pena Batch 33 | Foto: Dokumen Untuk Masakini

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Ziarah makam ulama tidak hanya dimaknai sebagai tradisi spiritual untuk mengenang dan mendoakan para tokoh agama. Aktivitas tersebut juga dapat menjadi sarana pelestarian lingkungan dan warisan sejarah Islam melalui gerakan ekoteologi yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap alam.

Gagasan itu mengemuka dalam Dialog PENA Batch 33 yang diselenggarakan Komunitas Pena Da’i Nusantara (PDN) secara daring melalui Zoom Meeting dan siaran langsung YouTube PDN, Selasa (9/6/2026), dengan tema “Ziarah Makam Ulama sebagai Gerakan Ekoteologi.”

RelatedPosts

Gedung BAA Disiapkan Jadi Pusat Inovasi Digital Banda Aceh

Satpol PP-WH Banda Aceh Tegaskan Pengawasan Syariat Dilakukan Secara Berkelanjutan

Satpol PP-WH Banda Aceh: Penataan PKL Dukung Kelancaran Ekonomi dan Kenyamanan Jemaah

Narasumber utama, Penyuluh Agama Islam Kabupaten Pidie, Tgk. Azmi Abubakar, Lc., M.H., mengatakan selama ini makam ulama lebih banyak dipandang sebagai tempat ziarah dan penghormatan kepada tokoh agama. Padahal, kawasan makam juga dapat menjadi ruang edukasi yang menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan merawat situs-situs bersejarah.

Menurutnya, masih banyak makam ulama di Kabupaten Pidie yang mengalami kerusakan dan kurang terawat sehingga membutuhkan perhatian bersama dari masyarakat, pemerintah, dan berbagai komunitas.

“Pelestarian makam ulama tidak cukup hanya dengan renovasi fisik. Yang lebih penting adalah perawatan berkelanjutan, menjaga kebersihan, dan membangun kesadaran kolektif untuk merawatnya sebagai warisan sejarah dan keagamaan,” ujar Azmi.

Ia mencontohkan sejumlah situs bersejarah seperti Makam Syekh Faqih Jalaluddin dan Masjid Tuha Tiro yang telah mendapatkan perhatian melalui pemugaran dan perbaikan. Namun, upaya tersebut perlu diikuti dengan pengelolaan kawasan yang berkelanjutan agar tetap terjaga dan memiliki nilai edukatif bagi masyarakat.

Azmi menjelaskan, dalam perspektif fikih, ziarah makam dapat dipahami sebagai Wasail Maqasid Tabi’ah, yaitu sarana yang mendukung terwujudnya tujuan pelestarian lingkungan. Karena itu, kawasan ziarah berpotensi menjadi media dakwah ekologis yang mengajarkan kebersihan, konservasi, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Pandangan tersebut mendapat dukungan dari Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI, Dr. H. Jamaluddin M. Marki, Lc., M.Si., yang hadir sebagai keynote speaker. Ia menegaskan bahwa ekoteologi merupakan salah satu program prioritas Kementerian Agama yang bertujuan membangun kesadaran keagamaan yang ramah lingkungan.

Menurut Jamaluddin, penghormatan terhadap orang yang telah wafat juga harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan di sekitar makam dan situs keagamaan. Karena itu, kawasan ziarah perlu dijaga kebersihan dan kelestariannya dengan meminimalkan sampah serta kerusakan lingkungan.

“Ekoteologi berarti bersahabat dengan alam. Keteladanan menjaga lingkungan harus dimulai dari hal-hal sederhana, termasuk menerapkan budaya zero waste dari meja makan kita sendiri,” katanya.

Selain membahas isu lingkungan, forum yang diikuti penyuluh agama, akademisi, pegiat literasi, dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah itu juga menyoroti pentingnya peran penyuluh agama dalam merespons persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Ketua Komisi Informasi Aceh, Junaidi Surya, menilai literasi, inovasi, dan diseminasi informasi menjadi faktor penting dalam membangun peradaban. Menurutnya, setiap gagasan yang lahir dari masyarakat perlu mendapat ruang dan apresiasi karena dapat menjadi pemicu perubahan positif.

Di akhir kegiatan, peserta merekomendasikan penguatan pesan-pesan pelestarian lingkungan dalam kegiatan dakwah dan ziarah, peningkatan gerakan kebersihan di kawasan situs keagamaan, serta kolaborasi lintas sektor dalam menjaga makam ulama sebagai warisan sejarah, budaya, dan spiritual.

Tags: Dialog PENA Batch 33Penyuluh Agama Islam Kabupaten PidieZiarah makam ulama
Previous Post

Satpol PP-WH Banda Aceh: Penataan PKL Dukung Kelancaran Ekonomi dan Kenyamanan Jemaah

Next Post

Harga Pertamax Melonjak, Pengguna di Aceh Besar Mulai Beralih ke Pertalite

Related Posts

No Content Available
Next Post

Harga Pertamax Melonjak, Pengguna di Aceh Besar Mulai Beralih ke Pertalite

Satpol PP-WH Banda Aceh Tegaskan Pengawasan Syariat Dilakukan Secara Berkelanjutan

Discussion about this post

CERITA

Dari Lahan Penggembalaan ke Destinasi Favorit, Savana Indrapuri Sedot Ribuan Pengunjung

24 Mei 2026

Dari Dapur Rumahan ke Tanah Suci, Keumamah Aceh Diburu Jemaah Haji

19 Mei 2026

Menabung dari Lumpur Sawah, Halimah Berangkat Haji di Usia 85 Tahun

12 Mei 2026

Ranup yang Perlahan Asing di Tanahnya Sendiri

7 Mei 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co