MASAKINI.CO – Perbaikan infrastruktur jalan terdampak bencana di sejumlah wilayah Aceh terus dikebut. PT Hutama Karya (Persero) mencatat tiga proyek penanganan tanggap darurat pada ruas jalan strategis Aceh masih berjalan dan ditargetkan segera rampung sebagai upaya memulihkan akses masyarakat dan memperkuat infrastruktur di kawasan rawan longsor.
Tiga ruas yang menjadi prioritas penanganan yakni Ruas PPK 3.3 Aceh, Ruas PPK 3.4 Batas Gayo Lues–Blangkejeren, serta Ruas PPK 3.5 Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane.
Pada Ruas PPK 3.5 Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara–Kota Kutacane, progres pekerjaan menjadi yang tertinggi dengan capaian 43 persen hingga minggu kedua Juli 2026. Penanganan dilakukan pada enam titik terdampak yang terdiri dari dua jembatan dan empat titik longsoran.
Sejumlah lokasi yang menjadi fokus pekerjaan meliputi Jembatan Lawe Mengkudu, Bener Berpapah, Lawe Ger-Ger, Jembatan Penanggalan, Ketambe, dan Cafetingir. Salah satu pekerjaan utama yakni pemulihan Jembatan Lawe Mengkudu yang ditargetkan dapat kembali difungsikan pada Agustus 2026.
Sementara itu, pada Ruas PPK 3.3 Aceh, progres penanganan hingga Juni 2026 mencapai 30,46 persen. Proyek ini mencakup perbaikan pada 26 titik longsoran dan dua titik jembatan yang mengalami kerusakan.
Pekerjaan yang dilakukan meliputi pembangunan dinding penahan tanah, box culvert, bored pile, jembatan rangka baja, serta perlindungan lereng. Sejumlah titik prioritas telah selesai dan kembali berfungsi, sedangkan lokasi lainnya ditargetkan dapat digunakan pada momentum peringatan Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2026.
Adapun Ruas PPK 3.4 Batas Gayo Lues–Blangkejeren mencatat progres 22,41 persen hingga Juni 2026. Penanganan dilakukan pada 23 titik yang tersebar di jalur Aceh Tengah–Blangkejeren dan Blangkejeren–Aceh Tenggara.
Pekerjaan pada ruas tersebut mencakup pemasangan buis beton, beton siklop, dinding penahan tanah, serta timbunan pilihan untuk memperkuat badan jalan dan lereng yang rawan mengalami longsor. Beberapa titik prioritas seperti Palok dan Ramung ditargetkan dapat difungsikan pada Agustus 2026.
Plt Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, mengatakan percepatan pekerjaan dilakukan untuk memastikan konektivitas masyarakat di wilayah terdampak bencana dapat segera pulih.
“Hutama Karya berkomitmen mendukung percepatan pemulihan wilayah terdampak melalui pembangunan infrastruktur yang aman dan berkelanjutan,” kata Hamdani.
Menurutnya, penanganan tersebut tidak hanya bertujuan mengembalikan fungsi jalan, tetapi juga memperkuat ketahanan infrastruktur agar mampu menghadapi risiko bencana serupa di masa mendatang.
Selain Aceh, Hutama Karya juga melakukan penanganan tanggap darurat di sejumlah wilayah Sumatera lainnya. Di Sumatera Barat, proyek Penanggulangan Bencana Alam Malalak telah rampung dengan progres fisik 100 persen, sedangkan proyek ruas Padang Panjang–Sicincin (Lembah Anai) hampir selesai dengan progres 96,71 persen.
Di Aceh, proyek perbaikan jalan dan jembatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan konektivitas antarwilayah, terutama di kawasan yang terdampak longsor dan kerusakan infrastruktur akibat bencana.










Discussion about this post