MASAKINI.CO – Pembiayaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Aceh telah menembus lebih dari Rp1 triliun hingga Juni 2026. Namun, besarnya akses modal tersebut dinilai perlu diimbangi dengan penguatan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola dan mengembangkan bisnis.
Data PNM mencatat pembiayaan melalui program Mekaar di Aceh mencapai Rp1,03 triliun hingga Juni 2026. Sementara pembiayaan melalui program ULaMM tercatat sebesar Rp62,44 miliar. Seluruh pembiayaan tersebut disalurkan dengan prinsip syariah.
Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Jasmi, mengatakan pemberian modal harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas pelaku UMKM.
“Pembiayaan perlu berjalan bersama pengelolaan keuangan yang disiplin, pencatatan transaksi yang baik, pemahaman terhadap kebutuhan pasar, serta pemanfaatan teknologi digital,” ujar Jasmi dalam kegiatan Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) Akbar PNM di Aula Kantor OJK Aceh, Banda Aceh, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, tanpa kemampuan mengelola usaha, tambahan modal belum tentu memberikan dampak maksimal bagi perkembangan bisnis. Karena itu, pendampingan menjadi bagian penting agar pembiayaan dapat digunakan secara produktif.
Ia menilai, besarnya jangkauan pembiayaan PNM di Aceh harus diikuti dengan peningkatan literasi keuangan dan kemampuan manajemen usaha, sehingga pelaku UMKM mampu memperkuat usaha serta memperluas pasar.
Sementara itu, Kepala OJK Provinsi Aceh Daddi Peryoga mengatakan peningkatan akses pembiayaan harus dibarengi dengan penguatan literasi keuangan agar modal yang diterima pelaku UMKM dapat dikelola secara tepat dan produktif.
Ia menyebut berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, tingkat inklusi keuangan Aceh mencapai 96,43 persen, sementara literasi keuangan berada di angka 66,33 persen. Kondisi tersebut menunjukkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan sudah tinggi, namun masih membutuhkan peningkatan pemahaman dalam mengelola keuangan.
“Penguatan literasi dan pengembangan kapasitas usaha menjadi penting agar akses keuangan dapat dimanfaatkan secara produktif dan berkelanjutan,” ujar Daddi.
Menurutnya, langkah PNM yang menggabungkan pembiayaan dengan pendampingan usaha merupakan pendekatan yang tepat untuk membantu UMKM tidak hanya mendapatkan modal, tetapi juga meningkatkan kemampuan mengelola dan mengembangkan usaha.
Senada dengan itu, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mendorong pelaku UMKM agar menerapkan pengelolaan keuangan yang disiplin, seperti memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga, mencatat transaksi, menjaga kualitas produk, memanfaatkan pemasaran digital, serta terus berinovasi agar mampu memperluas pasar










Discussion about this post