MASAKINI.CO – Produk ekonomi kreatif Aceh dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang, namun keterbatasan promosi masih menjadi kendala utama yang membuat banyak produk lokal belum mampu menembus pasar yang lebih luas.
Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Ismail, mengatakan banyak produk kreatif Aceh yang sudah memiliki kualitas baik, tetapi belum dikenal secara luas karena strategi pemasaran yang masih terbatas.
“Banyak pelaku atau talenta Aceh yang sudah berkembang dan sudah dikenal. Namun kita masih perlu scale up lagi, perlu promosi lagi. Banyak produk Aceh yang belum dikenal secara meluas, masih lokal, bahkan tingkat nasional masih sangat sedikit,” ujar Ismail, Kamis (19/8/2026).
Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi pelaku ekonomi kreatif bukan hanya pada kemampuan menciptakan produk, tetapi juga bagaimana menghubungkan produk tersebut dengan pasar dan mengomersialkannya.
Karena itu, Pemerintah Aceh mendukung program pengembangan kapasitas pelaku ekraf melalui strategi Create, Connect, Commercialize yang digagas Kementerian Ekonomi Kreatif. Strategi tersebut dinilai tepat untuk membantu pelaku usaha mulai dari menciptakan produk, membangun jaringan pasar, hingga meningkatkan nilai jual.
Ismail menyebut Aceh memiliki potensi besar karena hampir seluruh 17 subsektor ekonomi kreatif berkembang di daerah ini, mulai dari kuliner, kriya, hingga produk berbasis budaya lokal.
“Aceh banyak produk kriya, banyak produk kuliner. Hampir semua subsektor ekonomi kreatif ada di Aceh. Tetapi persoalannya, produk-produk tersebut belum terpromosikan dengan baik,” katanya.
Selain promosi, pemerintah juga melihat masih ada tantangan dari sisi kualitas produk dan kemampuan pelaku usaha dalam mengemas serta menceritakan produknya kepada konsumen.
“Kita terus melakukan pelatihan dan pembinaan, terutama bagaimana mengemas produk dan meningkatkan kualitasnya. Kadang pelaku juga masih terbatas dalam menarasikan produk mereka, padahal itu penting untuk menarik pasar,” jelas Ismail.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan SDM Ekraf Kementerian Ekonomi Kreatif, R. Adi Mukhtar Rivai, mengatakan banyak merek lokal Aceh yang sebenarnya memiliki potensi, tetapi masih terkendala dalam perluasan pasar.
“Brand-brand Aceh ini banyak dan keren-keren, tetapi masih berada di tingkat lokal. Tantangannya bagaimana menghubungkan produk itu dengan pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Ia menjelaskan strategi Connect dapat dilakukan melalui penguatan cerita atau storytelling, sehingga produk tidak hanya dijual sebagai barang, tetapi juga memiliki nilai dan identitas yang kuat.
Selain itu, pelaku ekraf juga didorong melakukan komersialisasi dengan memperkuat merek, termasuk mendaftarkan kekayaan intelektual produk agar memiliki perlindungan dan nilai ekonomi.
Pemerintah Aceh berharap pendampingan yang dilakukan bersama Kementerian Ekonomi Kreatif dapat membantu pelaku ekraf meningkatkan daya saing, memperluas pasar, dan menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.








Discussion about this post