MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Sabtu, September 5, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home News

Produk Kreatif Aceh Belum Mendunia, Promosi Jadi Tantangan Utama Pelaku Ekraf

Riska Zulfira by Riska Zulfira
21 Agustus 2026
in News
0

Kepala bidang pengembangan sumber daya pariwisata dan ekonomi kreatif Disbudpar Aceh, Ismail bersama Kepala pusat pengembangan SDM Ekraf Kementerian Ekraf, R. Adi Mukhtar Rivai | Foto: Riska Zulfira/ masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Produk ekonomi kreatif Aceh dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang, namun keterbatasan promosi masih menjadi kendala utama yang membuat banyak produk lokal belum mampu menembus pasar yang lebih luas.

Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Ismail, mengatakan banyak produk kreatif Aceh yang sudah memiliki kualitas baik, tetapi belum dikenal secara luas karena strategi pemasaran yang masih terbatas.

RelatedPosts

Terseret Arus Saat Berenang di Krueng Aceh, Pria Asal Keudah Ditemukan Tewas

Kemenag Salurkan Rp11,6 Miliar untuk Pulihkan 306 Masjid dan Musala Terdampak Bencana di Aceh

Harga Emas Perhiasan Stabil, Antam Justru Naik Rp31 Ribu

“Banyak pelaku atau talenta Aceh yang sudah berkembang dan sudah dikenal. Namun kita masih perlu scale up lagi, perlu promosi lagi. Banyak produk Aceh yang belum dikenal secara meluas, masih lokal, bahkan tingkat nasional masih sangat sedikit,” ujar Ismail, Kamis (19/8/2026).

Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi pelaku ekonomi kreatif bukan hanya pada kemampuan menciptakan produk, tetapi juga bagaimana menghubungkan produk tersebut dengan pasar dan mengomersialkannya.

Karena itu, Pemerintah Aceh mendukung program pengembangan kapasitas pelaku ekraf melalui strategi Create, Connect, Commercialize yang digagas Kementerian Ekonomi Kreatif. Strategi tersebut dinilai tepat untuk membantu pelaku usaha mulai dari menciptakan produk, membangun jaringan pasar, hingga meningkatkan nilai jual.

Ismail menyebut Aceh memiliki potensi besar karena hampir seluruh 17 subsektor ekonomi kreatif berkembang di daerah ini, mulai dari kuliner, kriya, hingga produk berbasis budaya lokal.

“Aceh banyak produk kriya, banyak produk kuliner. Hampir semua subsektor ekonomi kreatif ada di Aceh. Tetapi persoalannya, produk-produk tersebut belum terpromosikan dengan baik,” katanya.

Selain promosi, pemerintah juga melihat masih ada tantangan dari sisi kualitas produk dan kemampuan pelaku usaha dalam mengemas serta menceritakan produknya kepada konsumen.

“Kita terus melakukan pelatihan dan pembinaan, terutama bagaimana mengemas produk dan meningkatkan kualitasnya. Kadang pelaku juga masih terbatas dalam menarasikan produk mereka, padahal itu penting untuk menarik pasar,” jelas Ismail.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan SDM Ekraf Kementerian Ekonomi Kreatif, R. Adi Mukhtar Rivai, mengatakan banyak merek lokal Aceh yang sebenarnya memiliki potensi, tetapi masih terkendala dalam perluasan pasar.

“Brand-brand Aceh ini banyak dan keren-keren, tetapi masih berada di tingkat lokal. Tantangannya bagaimana menghubungkan produk itu dengan pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Ia menjelaskan strategi Connect dapat dilakukan melalui penguatan cerita atau storytelling, sehingga produk tidak hanya dijual sebagai barang, tetapi juga memiliki nilai dan identitas yang kuat.

Selain itu, pelaku ekraf juga didorong melakukan komersialisasi dengan memperkuat merek, termasuk mendaftarkan kekayaan intelektual produk agar memiliki perlindungan dan nilai ekonomi.

Pemerintah Aceh berharap pendampingan yang dilakukan bersama Kementerian Ekonomi Kreatif dapat membantu pelaku ekraf meningkatkan daya saing, memperluas pasar, dan menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

Tags: branding produkDisbudpar Acehekonomi kreatifekraf AcehKemenekrafPasar Globalpelaku kreatifProduk Lokalproduk unggulan AcehUMKM Aceh
Previous Post

Tuding FIFA Bela Messi, Pelatih dan Pemain Mesir Terancam Sanksi

Next Post

75 Tahun Mencari Keyakinan, Mualaf di Banda Aceh Terima Santunan Zakat Baitul Mal

Related Posts

UMKM Aceh Cetak Transaksi Rp7,98 Miliar di KKI 2026, Bukti Produk Lokal Makin Kompetitif

by Riska Zulfira
27 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Aceh mencatatkan capaian positif dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. Total...

Jejak Motif Budaya Sabang, Dari Warisan Leluhur Menuju Nilai Ekonomi Baru

by Redaksi
26 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Motif budaya tidak hanya menjadi hiasan pada sebuah benda, tetapi merekam perjalanan sejarah, kreativitas, dan identitas masyarakat yang...

Jumadin Bawa Kupiah Meukeutop Aceh Menatap Pasar Dunia

by Aininadhirah
25 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Di tangan Jumadin, kupiah meukeutop bukan sekadar penutup kepala khas Aceh. Dari produk yang lekat dengan identitas budaya...

Next Post

75 Tahun Mencari Keyakinan, Mualaf di Banda Aceh Terima Santunan Zakat Baitul Mal

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Naik Rp100 Ribu, Antam Stabil

Discussion about this post

CERITA

Jumadin Bawa Kupiah Meukeutop Aceh Menatap Pasar Dunia

25 Agustus 2026

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

12 Agustus 2026

Sepuluh Tahun Menjaga Tradisi Merah Putih, Kisah Safura Merawat Rezeki dari Lapak Bendera

4 Agustus 2026

Liberika Tangse, Kopi Langka Beraroma Nangka

20 Juli 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co