MASAKINI.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mempercepat pemetaan dampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tim teknis BMKG diterjunkan ke sejumlah wilayah terdampak untuk memastikan kondisi lapangan sekaligus menjadi dasar penanganan pascabencana.
Langkah utama yang dilakukan BMKG adalah memetakan tingkat guncangan, kerusakan bangunan, hingga karakteristik tanah di wilayah terdampak. Data tersebut dinilai penting untuk menentukan langkah rehabilitasi dan pengurangan risiko bencana ke depan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan informasi lapangan yang akurat menjadi kunci dalam menentukan kebijakan setelah gempa terjadi.
“Kami bergerak cepat berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, BNPB, Kemendagri, serta unsur Forkopimda demi memastikan keselamatan warga dan menyajikan data faktual yang komprehensif,” ujar Faisal, mengutip infopublik.id, Minggu (23/8/2026).
Dalam proses survei, BMKG melakukan pengumpulan data melalui survei makroseismik, mikroseismik, dan survei tsunami.
Survei makroseismik difokuskan untuk mengidentifikasi kekuatan guncangan yang dirasakan masyarakat serta mendata dampak kerusakan pada rumah warga, fasilitas publik, dan bangunan lainnya.
Sementara itu, survei mikroseismik dilakukan untuk mengetahui kondisi tanah dan struktur bawah permukaan. Informasi tersebut diperlukan untuk melihat bagaimana karakteristik tanah dapat memengaruhi respons suatu wilayah ketika terjadi gempa.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensi, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu mengatakan survei dilakukan di sejumlah wilayah, seperti Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Nagekeo, serta daerah lain di sekitar Flores.
“Hasil pemetaan sementara menunjukkan adanya kerusakan pada sejumlah rumah masyarakat, fasilitas publik, dan bangunan lainnya,” kata Teguh.
Namun, BMKG menegaskan data tersebut masih bersifat sementara. Tim masih melakukan verifikasi untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap terkait pola kerusakan, tingkat guncangan, dan kondisi tanah di setiap wilayah.
Menurut Teguh, pemeriksaan kelayakan bangunan tetap harus dilakukan oleh instansi teknis yang memiliki kewenangan, terutama untuk memastikan keamanan struktur bangunan yang terdampak.
Selain pemetaan dampak kerusakan, BMKG juga melakukan survei tsunami untuk memastikan kondisi wilayah pesisir setelah gempa. Data lapangan tersebut akan digunakan untuk memperkuat kajian risiko bencana di wilayah Flores.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan BMKG terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memberikan informasi terkini kepada masyarakat.
“BMKG juga mendampingi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, dan BPBD setempat dalam peninjauan lapangan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kondisi kegempaan terkini, sekaligus memperkuat upaya terpadu dalam penanganan pascabencana,” ujar Nelly.
Hingga Sabtu (22/8/2026), tim BMKG masih melakukan pengukuran di sejumlah lokasi. Seluruh hasil survei akan dianalisis menjadi kajian teknis yang diharapkan dapat mendukung proses rehabilitasi, rekonstruksi, serta penguatan mitigasi gempa bumi di NTT.









Discussion about this post