MASAKINI.CO – Inflasi tahunan Aceh pada September 2026 tercatat sebesar 5,03 persen. Secara bulanan, Aceh mengalami inflasi sebesar 0,36 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, Agus Chusaini, mengatakan tekanan inflasi pada September terutama dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, dengan cabai merah menjadi salah satu penyumbang utama.
Cabai merah tercatat memberikan andil 0,34 persen terhadap inflasi September. Selain itu, daging ayam ras memberikan andil 0,17 poin persentase, sedangkan cabai hijau, ikan tuna, dan semangka masing-masing sebesar 0,02 poin persentase.
“Untuk cabai merah, Aceh Tengah sebagai salah satu daerah penghasil sekarang masih dalam masa tanam. Panen diperkirakan sekitar Oktober atau November, sehingga dampaknya terhadap pasokan baru akan terlihat kemudian,” kata Agus dalam temu media di Banda Aceh, Senin (5/10/2026).
Menurut Agus, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Aceh. Fenomena El Nino dan kondisi cuaca di wilayah Sumatera turut memengaruhi sejumlah daerah penghasil cabai merah. Dampaknya, produksi berpotensi menurun sehingga pasokan berkurang dan harga meningkat.
Selain cabai merah, kenaikan harga daging ayam ras turut memberi tekanan terhadap inflasi. Agus menyebut kenaikan tersebut antara lain berkaitan dengan meningkatnya biaya pakan.
Ia menjelaskan, harga ayam sebelumnya sempat mengalami penurunan ketika permintaan melemah. Namun, permintaan kembali meningkat setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sehingga ikut memengaruhi harga.
Di sisi lain, harga beras mulai mengalami penurunan seiring masuknya masa panen kedua. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga beras sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat.
“Beras mulai turun karena sudah masuk panen kedua. Harapannya harga beras tetap stabil karena ini kebutuhan utama masyarakat,” ujarnya.
Agus mengatakan tekanan inflasi juga berasal dari sejumlah komponen lainnya, termasuk pemulihan aktivitas transportasi udara dan kenaikan harga emas. Pemulihan penerbangan yang berlangsung secara bertahap turut memengaruhi komponen transportasi.
Sementara kenaikan harga emas dipengaruhi kondisi global dan geopolitik yang mendorong masyarakat memilih emas sebagai salah satu aset penyimpan nilai.
Untuk kelompok makanan, harga makanan siap santap juga masih menjadi perhatian. Kenaikan harga bahan baku, terutama ayam dan sejumlah komoditas pangan, turut berpengaruh terhadap harga makanan yang dikonsumsi masyarakat.
Agus mengatakan sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, beras, bawang merah, minyak goreng, telur, ikan, dan daging perlu terus dipantau karena harganya cukup sensitif terhadap perubahan pasokan.
Menurutnya, ketika pasokan cabai merah segar terbatas, masyarakat juga dapat menyesuaikan konsumsi dengan menggunakan cabai kering sebagai alternatif.
Bank Indonesia bersama pemerintah daerah, kata Agus, terus mendorong pengendalian inflasi melalui pemantauan harga, ketersediaan pasokan, serta kelancaran distribusi komoditas pangan yang berpengaruh terhadap pergerakan inflasi.










Discussion about this post