MASAKINI.CO – Lima motif ornamen Aceh dipilih sebagai prioritas untuk dikembangkan ke produk fesyen. Sebelum diolah menjadi desain kontemporer, motif-motif tersebut terlebih dahulu divalidasi dari sisi bentuk, nama, makna, hingga batas pemanfaatannya.
Proses validasi dilakukan dalam Focus Group Discussion (FGD) Validasi Ornamen yang digelar Tim Riset LPDP-MoRA The Air Funds di LP2M UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (7/10/2026).
Pemilihan lima motif dilakukan melalui dot voting yang melibatkan akademisi, budayawan, mahasiswa, desainer, dan pelaku usaha fesyen. Penilaian mencakup daya tarik visual, kesesuaian dengan tren pasar, kemudahan penerapan pada produk, serta potensi minat beli konsumen.
FGD tersebut menjadi bagian dari penelitian bertajuk Grand Design Kekayaan Intelektual Lokal sebagai Strategi Hilirisasi Ekonomi dan Pelestarian Cagar Budaya Berbasis Komunitas. Salah satu targetnya adalah mendorong ornamen Aceh masuk dalam skema Kekayaan Intelektual Komunal (KIK).
Ketua tim riset, Prof. Dr. Inayatillah SAg MAg, mengatakan validasi penting dilakukan agar pengembangan ornamen tidak hanya berorientasi pada produk komersial, tetapi tetap mempertahankan identitas dan nilai budaya yang melekat pada setiap motif.
Budayawan sekaligus akademisi, Drs Nurdin AR MHum, menjelaskan sejumlah ornamen Aceh memiliki sejarah dan filosofi yang tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya masyarakat.
Di antaranya bungong seulepok yang berbentuk bunga teratai, kundo, pucok reubong yang berkaitan dengan simbol kesuburan, bungong meurante, capli, dan ceurupa. Ornamen tersebut ditemukan pada berbagai peninggalan budaya, termasuk jirat, batu nisan, masjid, dan rumah tradisional Aceh.
Menurut Nurdin, pemahaman terhadap asal-usul dan makna ornamen menjadi dasar sebelum motif tersebut dikembangkan dalam bentuk baru.
Sementara itu, desainer sekaligus akademisi, Pratitou Arafat SP MLA, menilai pengembangan ornamen untuk kebutuhan fesyen membutuhkan proses desain yang tepat. Unsur seperti ritme, pengulangan, proporsi, dan tessellation perlu diperhatikan agar motif warisan dapat diterapkan pada produk modern tanpa kehilangan karakter dasarnya.
Kolaborasi antara desainer dan perajin juga dinilai penting dalam proses tersebut.
Pelaku usaha pakaian, Bastian, mengatakan kekuatan ornamen tidak hanya terletak pada tampilannya. Cerita dan filosofi di balik motif dinilai dapat menjadi nilai tambah ketika produk tersebut dipasarkan kepada konsumen.
Selain menentukan lima motif prioritas, peserta FGD juga menyepakati perlunya batas pemanfaatan. Ornamen dikelompokkan berdasarkan tingkat kelayakannya, yakni motif yang dapat dikomersialkan, motif yang membutuhkan penyesuaian, serta motif yang dianggap sakral dan harus tetap dilestarikan.
Pembahasan juga mencakup perlindungan kekayaan intelektual dan etika dalam mengadaptasi motif. Kemiripan ornamen dengan daerah lain dinilai tidak serta-merta menghilangkan peluang inovasi, sepanjang pengembangan tetap memperhatikan identitas dan asal-usul motif.
Hasil FGD selanjutnya menjadi bagian dari pengolahan data penelitian untuk merumuskan strategi hilirisasi ornamen Aceh. Dengan demikian, warisan budaya tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif tanpa mengabaikan makna dan batas pemanfaatannya.








Discussion about this post