MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Kamis, Oktober 8, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home News

Lima Motif Ornamen Aceh Dipilih untuk Dikembangkan ke Produk Fesyen

Redaksi by Redaksi
8 Oktober 2026
in News
0

Forum Focus Group Discussion (FGD) Validasi Ornamen yang digelar Tim Riset LPDP-MoRA The Air Funds di LP2M UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (7/10/2026). | Foto: Dok untuk masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Lima motif ornamen Aceh dipilih sebagai prioritas untuk dikembangkan ke produk fesyen. Sebelum diolah menjadi desain kontemporer, motif-motif tersebut terlebih dahulu divalidasi dari sisi bentuk, nama, makna, hingga batas pemanfaatannya.

Proses validasi dilakukan dalam Focus Group Discussion (FGD) Validasi Ornamen yang digelar Tim Riset LPDP-MoRA The Air Funds di LP2M UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (7/10/2026).

RelatedPosts

Dua Tersangka Korupsi Pengadaan Tanah Irigasi Sigulai Segera Disidang

LPS Perluas Perlindungan, Polis Asuransi Mulai Dijamin 2028

KNPI Aceh Dorong Pemuda Jadi Mitra Sekaligus Pengawal Program Pemerintah

Pemilihan lima motif dilakukan melalui dot voting yang melibatkan akademisi, budayawan, mahasiswa, desainer, dan pelaku usaha fesyen. Penilaian mencakup daya tarik visual, kesesuaian dengan tren pasar, kemudahan penerapan pada produk, serta potensi minat beli konsumen.

FGD tersebut menjadi bagian dari penelitian bertajuk Grand Design Kekayaan Intelektual Lokal sebagai Strategi Hilirisasi Ekonomi dan Pelestarian Cagar Budaya Berbasis Komunitas. Salah satu targetnya adalah mendorong ornamen Aceh masuk dalam skema Kekayaan Intelektual Komunal (KIK).

Ketua tim riset, Prof. Dr. Inayatillah SAg MAg, mengatakan validasi penting dilakukan agar pengembangan ornamen tidak hanya berorientasi pada produk komersial, tetapi tetap mempertahankan identitas dan nilai budaya yang melekat pada setiap motif.

Budayawan sekaligus akademisi, Drs Nurdin AR MHum, menjelaskan sejumlah ornamen Aceh memiliki sejarah dan filosofi yang tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya masyarakat.

Di antaranya bungong seulepok yang berbentuk bunga teratai, kundo, pucok reubong yang berkaitan dengan simbol kesuburan, bungong meurante, capli, dan ceurupa. Ornamen tersebut ditemukan pada berbagai peninggalan budaya, termasuk jirat, batu nisan, masjid, dan rumah tradisional Aceh.

Menurut Nurdin, pemahaman terhadap asal-usul dan makna ornamen menjadi dasar sebelum motif tersebut dikembangkan dalam bentuk baru.

Sementara itu, desainer sekaligus akademisi, Pratitou Arafat SP MLA, menilai pengembangan ornamen untuk kebutuhan fesyen membutuhkan proses desain yang tepat. Unsur seperti ritme, pengulangan, proporsi, dan tessellation perlu diperhatikan agar motif warisan dapat diterapkan pada produk modern tanpa kehilangan karakter dasarnya.

Kolaborasi antara desainer dan perajin juga dinilai penting dalam proses tersebut.

Pelaku usaha pakaian, Bastian, mengatakan kekuatan ornamen tidak hanya terletak pada tampilannya. Cerita dan filosofi di balik motif dinilai dapat menjadi nilai tambah ketika produk tersebut dipasarkan kepada konsumen.

Selain menentukan lima motif prioritas, peserta FGD juga menyepakati perlunya batas pemanfaatan. Ornamen dikelompokkan berdasarkan tingkat kelayakannya, yakni motif yang dapat dikomersialkan, motif yang membutuhkan penyesuaian, serta motif yang dianggap sakral dan harus tetap dilestarikan.

Pembahasan juga mencakup perlindungan kekayaan intelektual dan etika dalam mengadaptasi motif. Kemiripan ornamen dengan daerah lain dinilai tidak serta-merta menghilangkan peluang inovasi, sepanjang pengembangan tetap memperhatikan identitas dan asal-usul motif.

Hasil FGD selanjutnya menjadi bagian dari pengolahan data penelitian untuk merumuskan strategi hilirisasi ornamen Aceh. Dengan demikian, warisan budaya tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif tanpa mengabaikan makna dan batas pemanfaatannya.

Tags: Budaya AcehFesyen AcehKIK AcehLPDP-MoRAOrnamen AcehUIN AR RANIRY
Previous Post

Dua Tersangka Korupsi Pengadaan Tanah Irigasi Sigulai Segera Disidang

Related Posts

UIN Ar-Raniry Wisuda 1.618 Lulusan, 11 di Antaranya Mahasiswa Asal Malaysia

by Ahmad Mufti
6 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh mewisuda 1.618 lulusan pada Wisuda Gelombang III Tahun 2026. Dari jumlah...

Bahasa Aceh Mulai Ditinggalkan Generasi Muda, Bupati Aceh Besar Ingatkan Ancaman Hilangnya Identitas

by Redaksi
6 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Bupati Aceh Besar H Muharram Idris mengingatkan penggunaan bahasa Aceh di kalangan generasi muda perlu dijaga agar tidak...

40 Mahasiswa SKI UIN Ar-Raniry Belajar Rawat Makam Kuno di Banda Aceh

by Redaksi
5 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Sebanyak 40 mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh belajar langsung merawat makam kuno yang menjadi...

Discussion about this post

CERITA

PFI Malang Rekam Cerita di Balik Pangan Lewat Pameran Foto

25 September 2026

Dari Teras Rumah, Nova Mengubah Hobi Memotret Makanan Jadi Profesi

16 September 2026

Jumadin Bawa Kupiah Meukeutop Aceh Menatap Pasar Dunia

25 Agustus 2026

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

12 Agustus 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co