MASAKINI.CO – Meskipun gencatan senjata telah disepakati, kondisi kesehatan di Gaza tetap memprihatinkan, terutama bagi anak-anak. Banyak nyawa terancam akibat keterbatasan akses ke perawatan medis yang memadai.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 15.000 pasien di Gaza memerlukan evakuasi medis segera. Di antara mereka terdapat anak-anak dengan kondisi serius yang membutuhkan penanganan khusus di luar Gaza.
Amar Abu Said, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, mengalami kelumpuhan akibat tembakan drone Israel. Keluarga Amar mengungkapkan bahwa peluru mengenai tenda mereka di Gaza selatan dan menyebabkan cedera parah pada tulang belakangnya. “Amar membutuhkan operasi mendesak yang kompleks, dan fasilitas di Gaza tidak memadai,” ujar pihak keluarga.
Selain Amar, ada juga Ahmed al-Jadd, juga berusia 10 tahun, yang menderita tumor otak. Kakak Ahmed, Shahd, menceritakan bahwa adiknya adalah sumber kekuatan bagi keluarga selama masa sulit. “Dia bahkan rela berjualan air untuk membantu memenuhi kebutuhan kami,” kenang Shahd.
Beberapa bulan lalu, Ahmed mulai menunjukkan gejala penyakit. “Mulutnya mulai miring, dan dia sering mengeluh sakit kepala. Kemudian, tangan kanannya tidak bisa digerakkan,” jelas Shahd. Keluarga berharap Ahmed dapat segera menjalani operasi pengangkatan tumor di luar negeri. “Kami tidak bisa kehilangan dia. Kami sudah kehilangan ayah, rumah, dan impian kami,” tambahnya dengan nada sedih, mengutip telegrafi, Selasa (28/10/2025).
WHO telah berupaya meningkatkan jumlah evakuasi medis. Pada hari Rabu, mereka berhasil mengoordinasi konvoi medis pertama sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober. Konvoi tersebut memindahkan 41 pasien dan 145 pengasuh ke rumah sakit di Yordania melalui perbatasan Kerem Shalom.
Namun, jumlah ini masih jauh dari cukup untuk mengatasi kebutuhan yang mendesak. WHO mendesak agar lebih banyak pasien dievakuasi melalui perbatasan Rafah dengan Mesir. Sayangnya, Israel masih menutup perbatasan tersebut sejak Mei 2024, dengan alasan keamanan hingga Hamas memenuhi persyaratan gencatan senjata dengan memulangkan jenazah sandera.
Kepala WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa solusi paling efektif adalah jika Israel mengizinkan pasien dari Gaza untuk dirawat di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, seperti yang terjadi sebelum konflik. Uni Eropa dan lebih dari 20 negara lainnya telah menawarkan bantuan finansial, tenaga medis, dan peralatan untuk mendukung upaya ini.
Di tengah krisis ini, sebuah pemakaman diadakan untuk Saadi Abu Taha, seorang anak berusia delapan tahun yang meninggal karena kanker perut. Dr. Fadi Atrash, Direktur Eksekutif Rumah Sakit Augusta Victoria di Yerusalem, menyatakan bahwa banyak pasien dapat dirawat dengan cepat dan efektif jika akses ke jaringan rumah sakit di Yerusalem Timur dan Tepi Barat dibuka kembali. “Kami dapat merawat setidaknya 50 pasien per hari untuk kemoterapi dan radiasi, dan rumah sakit lain dapat melakukan banyak operasi,” tambahnya.










Discussion about this post