MASAKINI.CO – Posko Komando Penanggulangan Bencana Aceh mencatat data sementara sebanyak 115.288 unit rumah warga hancur dalam bencana banjir dan longsor di Aceh dengan tingkat kerusakan yang berbeda di setiap wilayah.
Aceh Utara menjadi daerah dengan kerusakan rumah tertinggi, yaitu 54.261 unit, disusul Lhokseumawe yang jumlah kerusakan mencapai 17.900 unit serta Pidie Jaya dengan 10.530. Sementara Aceh Tamiang yang menjadi kabupaten bencana banjir terparah hanya merusak 2.811 unit rumah.
Kepala Posko Komando Penanggulangan Bencana Aceh, Murthalamuddin, menyebutkan angka tersebut merupakan rekapan data hingga 6 Desember 2025. Skala dampaknya sangat luas, terutama di wilayah utara dan tengah Aceh. Banyak rumah warga terendam dalam waktu lama sehingga mengalami kerusakan berat maupun ringan.
Beberapa daerah lain seperti Gayo Lues, Subulussalam, dan Nagan Raya juga melaporkan kerusakan signifikan masing-masing sebanyak 1.627; 2.205; dan 2.049 unit rumah.
“Di 18 kabupaten/kota terdampak turut merusak 279 unit sekolah, 126 rumah sakit, 209 tempat ibadah dan 318 jembatan,” sebutnya, Minggu (7/12/2025).
Murthalamuddin menambahkan, tingginya jumlah rumah rusak berkaitan erat dengan besarnya jumlah warga terdampak yang kini masih bertahan di pengungsian. Secara keseluruhan terdapat 262.679 KK atau 887.706 jiwa yang mengungsi di 824 titik lokasi.
“Pemulihan rumah warga akan menjadi pekerjaan jangka panjang. Saat ini fokus utama adalah memastikan kebutuhan dasar bagi para penyintas terpenuhi sambil melakukan pendataan lanjutan terhadap kerusakan di lapangan,” katanya.
Selain rumah, kerugian material lain juga tercatat signifikan, termasuk rusaknya 65.105 hektare sawah, 14.741 hektare kebun, serta hilangnya 56.274 ekor ternak. Hingga saat ini jumlah korban terdampak terus bertambah menjadi 1.616.217 jiwa dengan 366 korban yang meninggal dunia dan 97 korban hilang.










Discussion about this post