MASAKINI.CO – Sejumlah alumni Save the Children Aceh–Indonesia membentuk Posko Kemanusiaan untuk membantu warga yang terdampak banjir dan longsor besar yang melanda Aceh pada 26 November 2025. Bencana tersebut menimbulkan kerusakan parah dan menelan lebih dari 391 korban jiwa, serta menyebabkan hilangnya tempat tinggal dan harta benda milik masyarakat.
Ketua Pembina Alumni Save the Children Aceh-Indonesia, Jafar Hanafi, mengatakan para alumni tergerak kembali terjun ke lapangan karena besarnya dampak bencana terhadap warga. Ia menyebut pengalaman panjang Save the Children dalam kerja-kerja kemanusiaan di Aceh sejak 1976, termasuk saat tsunami 2004, menjadi pemicu kuat untuk kembali membantu.
“Kami ingin ikut meringankan beban saudara-saudara kita yang terkena dampak, baik langsung maupun tidak langsung,” ujarnya, Selasa (9/12/2025).
Posko Kemanusiaan secara resmi mulai beroperasi pada 8 Desember 2025 pukul 17.00 WIB dan ditempatkan di Jalan Syiah Kuala No. 134, Gampong Lamdingin, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Posko tersebut dijaga setiap hari oleh seorang staf sekretariat dan koordinator, dan akan beroperasi hingga 31 Desember 2025. Posko menerima beragam bantuan yang dianggap layak dan sesuai kebutuhan warga.
Jafar menjelaskan bahwa penggalangan dana telah dilakukan sejak 2 Desember 2025 melalui tim kecil yang mereka bentuk. Hingga kini, total dana yang terkumpul mencapai lebih dari Rp22 juta. “Untuk tahap awal, kami menyalurkan bantuan berupa transfer dana tunai sebesar Rp300.000 kepada masing-masing dari 49 kepala keluarga alumni yang terdampak,” katanya.
Ia menambahkan, bantuan tersebut diprioritaskan untuk kebutuhan harian yang mendesak, mengingat banyak korban kehilangan harta benda akibat banjir dan tanah longsor. “Ini langkah cepat agar keluarga yang terdampak bisa memenuhi kebutuhan dasar sambil menunggu upaya pemulihan lainnya,” ujar Imran.
Lebih lanjut, para alumni berencana meningkatkan organisasi yang kini berbentuk paguyuban menjadi badan hukum. Tujuannya agar dapat bermitra dengan lebih banyak pihak, baik lembaga dalam maupun luar negeri, khususnya yang bergerak pada isu lingkungan, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan perempuan dan anak, perlindungan anak, serta penanganan darurat.
“Kami berharap keberadaan posko dan organisasi ini bisa memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat Aceh,” katanya.










Discussion about this post