MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Senin, Juli 27, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home Cerita

Aceh di Persimpangan Ingatan dan Luka Baru

Riska Zulfira by Riska Zulfira
26 Desember 2025
in Cerita, Headline
0
18 Tahun Tsunami Aceh, Duka dan Doa Bersama

Warga membaca Yasin untuk keluarganya yang menjadi korban tsunami di Kuburan Massal Siron | foto: (Ahmad Mufti/masakini.co)

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Pagi 26 Desember 2025, Aceh kembali larut dalam keheningan. Doa-doa dipanjatkan, zikir menggema, dan ingatan masyarakat ditarik mundur ke satu hari yang mengubah sejarah Serambi Mekkah untuk selamanya.

21 tahun silam, gempa berkekuatan 9,1 skala Richter mengguncang dasar Samudra Hindia dan memicu tsunami raksasa yang meluluhlantakkan pesisir Aceh.

RelatedPosts

Tiga Tempat Usaha di Lamteumen Timur Terbakar

Asisten Pemerintahan Gayo Lues Mengundurkan Diri Usai Polemik Keluarga

Pasar Smep Peunayong Direvitalisasi, Illiza Siapkan Kawasan Ekonomi dan Ruang Publik Baru

Dalam waktu singkat, gelombang setinggi puluhan meter menyapu daratan. Rumah, masjid, pelabuhan, dan pusat-pusat kehidupan lenyap tanpa sisa.

Lebih dari dua dekade berlalu, namun tragedi 26 Desember 2004 tetap hidup dalam ingatan masyarakat Aceh. Bukan sekadar sebagai catatan sejarah, melainkan luka yang terus dikenang agar tak terulang.

Setiap tahun, peringatan tsunami menjadi ruang hening yang sarat makna. Di pemakaman massal Ulee Lheue, peziarah berdatangan dengan langkah pelan dan wajah sendu. Doa dilantunkan, bunga ditabur, dan air mata tak jarang jatuh diam-diam.

Di sanalah ribuan korban tsunami dimakamkan tanpa nama, namun tak pernah dilupakan.

Bagi Reka, warga Lamgugob, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh ziarah menjadi kegiatan rutin tiap memperingati hari Tsunami. Ia bersama suami telah kehilangan sembilan anggota keluarga atas peristiwa itu.

Sang suami, kata Reka, hidup di sebatang kara sebelum memilih nikah dengannya. “Itu yang membuat saya sedih, suami saya sendiri setelah kehilangan sembilan keluarganya,” ucap Reka seraya menyiramkan air bunga di persatuan pemakaman, Jumat (26/12/2025).

Seorang warga Lamgugob, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh berziarah mengenang korban tsunami di kuburan Massal Ulee Lheu Banda Aceh | foto: Riska Zulfira

Meski telah berlalu dua dekade lamanya, kesedihan masih terasa mendalam.

Peringatan tsunami ke-21 tahun ini, bagaimanapun, terasa berbeda. Kesedihan masa lalu berkelindan dengan duka yang masih hangat. Saat Aceh mengenang tragedi 2004, sebagian wilayah Sumatra justru tengah berjuang menghadapi bencana baru.

Sejak November 2025, banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah daerah, meninggalkan korban jiwa, kerusakan, dan trauma yang belum pulih.

Ironi itu terasa nyata. Di tengah doa mengenang korban tsunami, masih banyak warga yang membersihkan lumpur dari rumah mereka, memperbaiki sawah yang rusak, atau bertahan di pengungsian. Duka lama belum sepenuhnya pudar, sementara duka baru datang mengetuk tanpa ampun.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 25 Desember 2025 mencatat, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mencapai 1.135 orang.

Di Tanong Rencong, terdapat 505 korban yang meninggal dunia. Angka itu menegaskan bahwa ancaman bencana hidrometeorologi kian nyata, seiring meningkatnya cuaca ekstrem di berbagai wilayah.

Di Aceh, dampak bencana bukan hanya soal korban jiwa. Aktivitas ekonomi terganggu, lahan pertanian rusak, infrastruktur lumpuh, dan ribuan keluarga harus menata ulang kehidupan mereka. Proses pemulihan masih berlangsung.

Dalam konteks inilah peringatan tsunami 26 Desember memperoleh makna yang lebih dalam. Ia tidak lagi sekadar ritual mengenang masa lalu, tetapi menjadi pengingat keras tentang pentingnya kesiapsiagaan dan penghormatan terhadap alam.

Tragedi 2004 telah mengajarkan Aceh tentang kehilangan, solidaritas, dan kekuatan untuk bangkit. Bencana hari ini menguji sejauh mana pelajaran itu benar-benar dipahami dan dijalankan.

Dua puluh satu tahun setelah tsunami, Aceh berdiri di persimpangan ingatan dan luka baru. Mengenang masa lalu agar tidak terulang, sembari menghadapi kenyataan hari ini dengan ketabahan. Di tengah duka yang berlapis, Aceh kembali bersimpuh menguatkan doa, dan meneguhkan harapan.

Tags: 26 Desember 2004Banda AcehBencana Aceh 2025Duka AcehKorban TsunamiKuburan Massal Ulee LheuPeringatan Tsunami AcehZiarah ke Makam
Previous Post

KPA Minta Semua Pihak Tahan Diri Usai Insiden Warga dan TNI di Lhokseumawe

Next Post

Wagub Aceh: Dampak Banjir Bandang dan Longsor Lebih Luas dari Tsunami 2004

Related Posts

Pemko Banda Aceh Tertibkan Kios dan Bangunan Liar di Jalan Kopelma Darussalam

by Aininadhirah
23 Juli 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah Kota Banda Aceh mulai melakukan penertiban dan pembongkaran kios serta bangunan yang berdiri di kawasan Jalan Kopelma...

Hari Anak Nasional, Hutan Kota Banda Aceh Disulap Jadi Ruang Belajar Alam

by Riska Zulfira
19 Juli 2026
0

MASAKINI.CO – Hutan Kota Tibang disulap menjadi ruang belajar alam bagi ratusan anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari berbagai...

Banda Aceh Terpilih sebagai Pemenang Seoul ODA Challenge 2026, Siapkan Perpustakaan Outdoor Bertaraf Internasional

by Masa Kini
2 Juli 2026
0

MASAKINI.CO – Kota Banda Aceh kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Bersama Kota San Salvador Centro, El Salvador, Banda Aceh...

Next Post

Wagub Aceh: Dampak Banjir Bandang dan Longsor Lebih Luas dari Tsunami 2004

Pemerintah Aceh Sesalkan Kericuhan TNI dan Warga di Aceh Utara

Discussion about this post

CERITA

Liberika Tangse, Kopi Langka Beraroma Nangka

20 Juli 2026

Dari Lhoknga, Anyaman Bambu Menganyam Jalan ke Pasar Dunia

19 Juli 2026

Kehilangan Kaki dan Suami, Asmiati Menyimpan Harapan untuk Kembali Berdiri

17 Juli 2026

Gigi Ngilu Jangan Diabaikan, Kenali 5 Varian Sensodyne Sesuai Keluhan Sebelum Membeli

16 Juli 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co

 

Memuat Komentar...