MASAKINI.CO – Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale merekam kehidupan masyarakat adat Papua Selatan yang kehilangan tanah, hutan, dan sumber penghidupan akibat proyek strategis nasional (PSN), ekspansi sawit, hingga militerisasi di wilayah adat mereka.
Film berdurasi sekitar 90 menit itu berfokus pada masyarakat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu di Merauke, Boven Digoel, hingga Mappi. Mereka digambarkan hidup di tengah pembukaan hutan besar-besaran atas nama ketahanan pangan dan transisi energi.
Salah satu tokoh dalam film, Yasinta Moybek, menceritakan bagaimana alat-alat berat tiba-tiba masuk ke kampung mereka.
“Kami tidak tahu, tiba-tiba sudah di pelabuhan kami banyak alat berat,” ujar Yasinta dalam film dokumenter tersebut.
Film itu memperlihatkan kapal besar yang membawa ratusan ekskavator ke Papua Selatan dengan pengawalan militer. Kedatangan alat berat disebut menjadi awal pembukaan hutan dan penggusuran tanah adat dalam skala besar.
Dokumenter tersebut menyebut sekitar 2,5 juta hektare hutan tropis di Papua direncanakan dialihkan menjadi kawasan industri pangan, tebu, dan perkebunan sawit untuk kebutuhan biosolar dan bioetanol.
Di tengah proyek itu, masyarakat adat disebut kehilangan ruang hidup mereka. Sawah dan kebun digusur, kayu-kayu diambil dari hutan adat, sementara warga dipaksa beradaptasi dengan perkebunan sawit yang masuk ke wilayah mereka.
Film juga menyoroti keterlibatan korporasi besar dan aparat keamanan dalam proyek tersebut. Salah satu perusahaan yang disebut ialah PT Johnlin Agro Raya perusahaan sawit milik Andi Syamsuddin Arsyad.
Selain ekspansi industri, dokumenter itu mengangkat meningkatnya kehadiran militer di Papua. Dalam salah satu bagian film, terdengar pernyataan Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin.
“Kalian harus menjaga percadangan pangan,” Ujar Sjafrie
Narasi itu muncul bersamaan dengan gambaran banyaknya pos dan aparat TNI di wilayah proyek. Film menyebut terdapat sekitar 56 ribu personel TNI di Papua yang dikaitkan dengan pengamanan proyek strategis nasional.
Beberapa warga dalam film mengaku terpaksa mengungsi ke hutan karena wilayah mereka dikuasai aparat dan perusahaan. Bahkan, dokumenter itu memperlihatkan adanya perempuan yang melahirkan dalam kondisi pengungsian.
Tak hanya kehilangan tanah, warga yang bekerja di perkebunan sawit juga disebut hidup dalam kondisi sulit. Dalam film itu, pekerja menerima upah sekitar Rp1 juta per bulan yang habis untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Pesta Babi juga menampilkan bentuk perlawanan masyarakat adat terhadap proyek tersebut. Warga memasang ribuan salib merah dan simbol adat di tanah mereka sebagai tanda penolakan terhadap perusahaan dan militer yang masuk ke wilayah adat Papua.
Melalui dokumenter ini, para pembuat film mencoba memperlihatkan bahwa konflik agraria, kerusakan lingkungan, dan militerisasi di Papua masih berlangsung, tetapi jarang mendapat perhatian luas dari media nasional.






Discussion about this post