MASAKINI.CO – Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 4,86 persen secara tahunan (year on year/y-on-y) pada Agustus 2026. Dari lima kabupaten/kota yang menjadi daerah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), Aceh Tamiang mencatat inflasi tertinggi mencapai 5,57 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Agus Andria mengatakan, secara bulanan Aceh juga mengalami inflasi sebesar 0,28 persen pada Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan inflasi Juli yang tercatat sebesar 0,24 persen.
“Pada Agustus 2026, Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 0,28 persen secara month to month dan inflasi sebesar 4,86 persen secara year on year,” kata Agus Andria.
Berdasarkan wilayah, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Aceh Tamiang sebesar 5,57 persen, kemudian Aceh Tengah sebesar 5,09 persen, Banda Aceh 4,84 persen, Lhokseumawe 4,27 persen, dan Meulaboh 3,85 persen.
Sementara secara bulanan, Meulaboh mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,88 persen, disusul Lhokseumawe 0,80 persen, Aceh Tamiang 0,46 persen, dan Banda Aceh 0,17 persen. Adapun Aceh Tengah mengalami deflasi sebesar 0,33 persen.
Menurut Agus, pergerakan harga di Aceh pada Agustus dipengaruhi sejumlah kelompok pengeluaran. Secara bulanan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil terbesar terhadap inflasi.
“Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar pada Agustus 2026 adalah tarif air minum PAM dan daging ayam ras, masing-masing sebesar 0,10 persen,” ujarnya.
Selain kedua komoditas tersebut, kenaikan harga beras dan cabai rawit masing-masing memberikan andil 0,05 persen, sedangkan semen memberikan andil 0,04 persen.
Jika dilihat secara tahunan, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mencatat inflasi paling tinggi, yakni 11,88 persen. Kelompok makanan, minuman dan tembakau juga menjadi salah satu penyumbang utama dengan inflasi sebesar 4,51 persen.
Komoditas nasi dengan lauk menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar dengan andil 0,56 persen. Kemudian emas perhiasan 0,43 persen, beras 0,34 persen, bensin 0,29 persen, dan tomat 0,22 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas tercatat menahan laju inflasi Aceh pada Agustus 2026. Bawang merah menjadi komoditas dengan andil deflasi terbesar, yakni sebesar 0,44 persen. Selain itu, penurunan harga juga terjadi pada baju muslim wanita dengan andil deflasi 0,13 persen, telur ayam ras 0,07 persen, ikan biji nangka atau ikan kuniran 0,05 persen, serta ikan bandeng sebesar 0,04 persen.
Secara kumulatif, inflasi Aceh sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 1,57 persen. BPS mencatat pergerakan harga antardaerah masih bervariasi, dengan Aceh Tamiang menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi sebesar 5,57 persen, sementara Meulaboh mencatat inflasi tahunan terendah 3,85 persen. Adapun secara bulanan, kenaikan harga paling tinggi terjadi di Meulaboh sebesar 0,88 persen, sedangkan Aceh Tengah mengalami deflasi 0,33 persen.










Discussion about this post