MASAKINI.CO – Di tengah lebatnya hutan Papua Barat, masyarakat Werianggi-Werabur, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama, telah lama mengenal berbagai tumbuhan yang tumbuh di sekitar mereka. Salah satunya akar kuning, tanaman lokal yang selama ini dimanfaatkan sebagai bahan ramuan tradisional.
Bagian akar atau batang akar kuning biasanya direbus, kemudian air rebusannya diminum. Masyarakat secara turun-temurun memanfaatkannya untuk membantu mengatasi sejumlah keluhan kesehatan, seperti demam, diare, penyakit kuning, gangguan hati hingga keluhan yang berkaitan dengan peradangan atau infeksi.
Pengetahuan masyarakat tersebut kini mulai mendapat perhatian melalui kegiatan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) 2026 di kawasan Werianggi-Werabur. Akar kuning menjadi salah satu potensi sumber daya hayati lokal yang digali untuk melihat kemungkinan pengembangannya melalui penelitian.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UI, Tri Wahyuni, mengatakan akar kuning merupakan salah satu komoditas hasil hutan yang banyak dimanfaatkan masyarakat dan memiliki prospek untuk dikembangkan.
“Akar kuning merupakan salah satu komoditas unggulan hasil hutan yang banyak dimanfaatkan untuk penyakit dalam, prospek ke depannya pasti akan sangat baik untuk dijadikan produk obat/kesehatan,” ungkap Tri, Selasa (8/9/2026).
Melalui Ekspedisi Patriot UI 2026, pemanfaatan tanaman lokal tersebut tidak berhenti pada pengetahuan tradisional. Tim membawa pendekatan hilirisasi untuk menghubungkan sumber daya hayati dengan penelitian, teknologi hingga peluang pengembangan produk.
Prosesnya dimulai dari pengumpulan bahan baku yang kemudian dapat dilanjutkan dengan penelitian laboratorium. Sampel akar kuning dari Werianggi dapat diteliti untuk mengetahui karakteristik kimia, kandungan senyawa, potensi bioaktif, serta aspek keamanan dan kualitasnya.
Hasil penelitian nantinya menjadi dasar untuk menentukan kemungkinan pengembangan lebih lanjut. Jika ditemukan potensi yang menjanjikan, proses dapat dilanjutkan melalui formulasi dan pengujian yang lebih spesifik sebelum diarahkan menjadi produk.

Namun, perjalanan dari tanaman hutan menjadi produk kesehatan tidak berlangsung singkat. Tanaman yang selama ini dipercaya masyarakat memiliki khasiat tidak serta-merta dapat disebut sebagai obat. Diperlukan bukti ilmiah, pengujian keamanan, standardisasi, formulasi hingga pemenuhan regulasi.
Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian. Pemanfaatan akar sebagai bahan baku perlu dilakukan dengan cara yang tidak mengancam keberadaan tanaman di alam. Pengambilan secara berlebihan justru dapat mengurangi populasi tanaman yang menjadi sumber bahan baku tersebut.
Karena itu, hilirisasi sumber daya hayati tidak hanya berbicara mengenai bagaimana menghasilkan produk bernilai ekonomi. Proses tersebut juga perlu memastikan kekayaan alam tetap terjaga dan masyarakat lokal tidak kehilangan sumber daya yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.







Discussion about this post