MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Selasa, September 8, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home News

Pakar Soroti Pengetahuan soal Bencana Belum Berubah Menjadi Aksi

Ahmad Mufti by Ahmad Mufti
7 September 2026
in News
0

Prof. Andrew Collins dalam sesi “Urban Climate Resilience and Adaptation Under Compound Risks” pada Konferensi Internasional ke-16 IDRiM 2026 di Bali, Senin (7/9/2026). | Foto: Ahmad Mufti/masakini.co

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Pengetahuan untuk menghadapi perubahan iklim, risiko bencana, dan ancaman kesehatan sebenarnya sudah banyak tersedia.

Namun, pengetahuan tersebut belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi tindakan karena masih terbentur sekat antarsektor, tata kelola, pendanaan, hingga keterbatasan masyarakat dalam mengambil keputusan.

RelatedPosts

Seksi Padang Tiji-Seulimeum Tol Sibanceh Ditutup Sementara untuk Uji Kelayakan Operasi

Jelang Maulid Nabi, Harga Ikan Tongkol dan Udang di Banda Aceh Naik

Segini Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minat Beli Masih Dominan

Persoalan itu mengemuka dalam sesi kedua Konferensi Internasional ke-16 Integrated Disaster Risk Management (IDRiM) 2026 bertajuk Urban Climate Resilience and Adaptation Under Compound Risks di Bali, 5–9 September 2026.

Profesor Disaster and Development dari Northumbria University, Inggris, Prof. Andrew Collins, mengatakan berbagai pengetahuan yang telah dikembangkan dari beragam bidang dan tingkatan belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menghadapi persoalan yang saling berkaitan.

“Dalam praktik sehari-hari, kita masih melihat berbagai hal berjalan secara terpisah. Padahal, kita sudah memiliki banyak pengetahuan, tetapi kekuatannya belum sepenuhnya dimanfaatkan dan dikembangkan,” kata Collins.

Menurutnya, persoalan tersebut terlihat mulai dari tingkat pemerintahan hingga masyarakat. Di tingkat pemerintahan, misalnya, pendekatan terpadu sering terbentur pembagian kewenangan antarlembaga.

Urusan adaptasi perubahan iklim dapat ditangani satu lembaga, sementara pengurangan risiko bencana berada di lembaga lainnya. Kondisi tersebut membuat penanganan persoalan yang saling berkaitan tidak selalu berjalan dalam satu kerangka.

“Secara akademik mungkin mudah untuk mengatakan bahwa semua hal ini saling berkaitan. Namun, ketika berbicara tentang menjalankan sebuah negara, persoalannya tidak sesederhana itu,” ujarnya.

Hambatan serupa juga muncul dalam pendanaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Setiap sektor memiliki prioritas dan sistem kerja masing-masing, sementara penelitian lintas disiplin masih menghadapi sekat keilmuan.

Collins mencontohkan sektor kesehatan yang menurutnya tidak semestinya dipandang sebatas layanan medis. Dalam konteks pengurangan risiko bencana, kesehatan juga berkaitan dengan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial.

Tantangan bahkan lebih nyata di tingkat masyarakat. Menurut Collins, sejumlah komunitas telah mengetahui langkah yang diperlukan untuk hidup berkelanjutan dan mengurangi risiko, tetapi tidak selalu memiliki sumber daya atau ruang untuk menerapkannya.

Kemiskinan, terbatasnya akses terhadap pengetahuan dan investasi, serta persoalan kepemilikan lahan dapat membatasi kemampuan masyarakat menjalankan solusi yang sebenarnya telah mereka pahami.

“Ada masyarakat yang mengetahui apa yang perlu dilakukan untuk hidup secara berkelanjutan dan menghindari penumpukan risiko, tetapi mereka justru tidak memiliki cukup ruang atau kekuatan untuk melakukannya,” katanya.

Sementara itu, Guru Besar City and Regional Planning University of Stavanger, Norwegia, Prof. Ari Krisna Mawira Tarigan, menekankan pentingnya kapasitas adaptif dan adaptive governance dalam menerapkan Nature-based Solutions(NBS).

Menurut Ari, keberhasilan solusi berbasis alam tidak hanya bergantung pada pendekatan yang digunakan, tetapi juga kemampuan tata kelola untuk menyesuaikan diri dengan kondisi dan ketidakpastian yang dihadapi.

“Solusi apa pun yang kita bawa tidak akan berjalan jika tata kelolanya sendiri tidak adaptif,” ujarnya.

Ari juga mengingatkan bahwa NBS tidak selalu menjadi solusi murah. Khususnya di perkotaan, penerapannya dapat membutuhkan proses uji coba, penyesuaian, pemeliharaan, hingga menghadapi kemungkinan kegagalan yang membutuhkan biaya.

“Kalau kita hanya melihat NBS sebagai solusi murah, mungkin itu bukan arah yang tepat,” katanya.

Di sisi lain, Ari melihat prinsip-prinsip NBS sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Sejumlah masyarakat telah lama mengembangkan cara beradaptasi dengan lingkungan berdasarkan pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi.

Karena itu, tantangan saat ini bukan sekadar menemukan solusi baru, tetapi menghubungkan pengetahuan ilmiah, kebijakan, teknologi, dan pengalaman masyarakat dalam tata kelola yang mampu beradaptasi.

Di tengah risiko perubahan iklim dan bencana yang semakin kompleks, pengetahuan menjadi modal awal. Namun, pengetahuan tersebut baru akan berdampak jika dapat diterjemahkan menjadi tindakan dan masyarakat memiliki ruang untuk ikut menentukan serta menjalankannya.

Tags: Adaptasi BencanaIDRiM 2026Ketahanan KotaNature-based SolutionsPerubahan Iklimrisiko bencanaTata Kelola Adaptif
Previous Post

Pemprov Aceh Percepat Regulasi Pembukaan Rute Pelayaran Krueng Geukueh-Penang

Next Post

Potensi Akar Kuning Papua Barat Mulai Digali Tim Ekspedisi Patriot UI

Related Posts

BMKG Ingatkan Polusi Udara Berpotensi Meningkat Saat El Nino Kuat 2026

by Riska Zulfira
30 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat terhadap potensi memburuknya kualitas udara selama fenomena El Nino kuat...

Gampong Kota Baru Bidik Proklim Lestari, Siap Jalani Verifikasi Nasional Pekan Ini

by Redaksi
1 Agustus 2026
0

MASAKINI.CO – Gampong Kota Baru, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, bersiap menjalani verifikasi lapangan Program Kampung Iklim (Proklim) Kategori Lestari...

Indonesia Bidik Teknologi Eurasia untuk Proyek Tanggul Laut Raksasa

by Ahmad Mufti
6 Juni 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah Indonesia mengajak Rusia dan negara-negara kawasan Eurasia memperkuat kerja sama strategis dalam pembangunan infrastruktur berketahanan iklim, termasuk...

Next Post

Potensi Akar Kuning Papua Barat Mulai Digali Tim Ekspedisi Patriot UI

Harga Tomat dan Bawang Merah di Banda Aceh Turun

Discussion about this post

CERITA

Jumadin Bawa Kupiah Meukeutop Aceh Menatap Pasar Dunia

25 Agustus 2026

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

12 Agustus 2026

Sepuluh Tahun Menjaga Tradisi Merah Putih, Kisah Safura Merawat Rezeki dari Lapak Bendera

4 Agustus 2026

Liberika Tangse, Kopi Langka Beraroma Nangka

20 Juli 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co