MASAKINI.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat terhadap potensi memburuknya kualitas udara selama fenomena El Nino kuat yang berlangsung pada 2026. Minimnya curah hujan akibat El Nino membuat proses pembersihan alami atmosfer berkurang sehingga polutan dapat bertahan lebih lama di udara.
Ketua Tim Informasi Pencemaran Udara Direktorat Layanan Iklim Terapan BMKG, Dwi Atmoko, menjelaskan El Nino terjadi ketika suhu muka laut di wilayah Pasifik Tengah dan Timur lebih hangat dibandingkan kondisi normal, sementara suhu muka laut di wilayah Indonesia cenderung lebih dingin.
Kondisi tersebut menyebabkan penguapan di wilayah Indonesia menurun dan menghambat pembentukan awan, sehingga curah hujan menjadi lebih sedikit.
“Pada saat musim El Nino di Indonesia, pertumbuhan awan tidak masif sehingga hujan juga lebih jarang. Potensi kekeringan semakin besar,” ujar Dwi, mengutip infopublik.id, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, berkurangnya hujan tidak hanya meningkatkan risiko kekeringan, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas udara. Secara alami, atmosfer memiliki mekanisme untuk membersihkan polutan melalui proses pencucian oleh air hujan atau washout.
Namun, saat El Nino kuat terjadi, frekuensi hujan yang menurun membuat proses tersebut tidak berjalan optimal.
“Sumber emisi tetap aktif mengeluarkan emisi, sementara proses untuk membersihkan atmosfer tidak berjalan masif. Akibatnya, polutan akan bertahan lebih lama di atmosfer dan kualitas udara dapat menurun,” jelasnya.
Dwi menyebut BMKG terus memantau perkembangan El Nino melalui pengamatan suhu muka laut setiap 10 hari atau dasarian. Berdasarkan pemantauan terakhir pada Agustus 2026, anomali suhu muka laut sebagai salah satu indikator El Nino tercatat mencapai 2,26.
“Kalau lebih besar dari positif 2, itu menandakan El Nino kuat. Saat ini memang sedang terjadi El Nino dengan intensitas kuat hingga sangat kuat,” katanya.
BMKG memperkirakan fenomena El Nino masih berlangsung hingga sekitar Desember 2026. Dampaknya diperkirakan masih dapat dirasakan hingga Januari-Februari 2027 meskipun intensitasnya mulai melemah.
Fase Tinggi El Nino Oktober-November
Dampak El Nino mulai terlihat di sejumlah wilayah, salah satunya meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat kondisi kering.
Dwi mengatakan, kebakaran hutan dan lahan dapat memperburuk kualitas udara karena menghasilkan berbagai polutan berbahaya, seperti partikulat halus PM2,5 dan karbon monoksida (CO).
Ia mencontohkan, sejumlah wilayah di Kalimantan mulai mengalami peningkatan titik panas (hotspot). Berdasarkan pemantauan stasiun kualitas udara BMKG di Pontianak, konsentrasi PM2,5 bahkan telah berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
“Karhutla menghasilkan polutan yang berdampak langsung terhadap kualitas udara. Ini menjadi salah satu faktor yang harus diwaspadai selama kondisi El Nino,” ujarnya.
BMKG memprediksi periode September-Oktober-November 2026 menjadi fase dengan dampak El Nino yang tinggi hingga sangat tinggi. Sementara pada Desember hingga awal 2027, kondisi tersebut mulai berangsur melemah.
Meski demikian, dampak El Nino tidak langsung berakhir karena suhu laut membutuhkan waktu untuk kembali normal.
“Laut memiliki sifat lambat panas dan lambat kehilangan panas. Jadi meskipun El Nino mulai melemah, pengaruhnya masih dapat dirasakan karena suhu muka laut belum langsung kembali normal,” jelas Dwi.
Selain kualitas udara, BMKG menyebut El Nino juga berpotensi memberikan dampak terhadap berbagai sektor, mulai dari pertanian, energi, hingga ketersediaan air.
Sektor pertanian menjadi salah satu yang terdampak karena berkurangnya curah hujan dapat mengganggu produksi tanaman pangan dan hortikultura. Sementara sektor energi berpotensi mengalami tekanan akibat menurunnya debit air yang menjadi sumber bagi pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Ketersediaan air baku juga menjadi perhatian karena sejumlah daerah masih bergantung pada sumber air dari sungai, danau, maupun curah hujan.









Discussion about this post