MASAKINI.CO – Sebanyak 62 Duta Bahasa dari 31 provinsi mengikuti Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2026 di Jakarta, 14–19 September 2026. Ajang ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan peran mereka dalam menjaga penggunaan bahasa Indonesia dan pelestarian bahasa daerah di tengah perubahan pola komunikasi akibat digitalisasi.
Pemilihan tersebut digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Selain memilih duta terbaik, kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan peran generasi muda dalam menjalankan prinsip Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
Ketua Bulan Bahasa dan Sastra, Eko Marini, mengatakan rangkaian penjurian berlangsung selama enam hari sebelum ditutup melalui acara puncak di Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senayan, Jakarta.
Plt. Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Hidayat Widianto, menegaskan predikat Duta Bahasa bukan sekadar gelar yang berlaku selama kompetisi. Menurutnya, status tersebut melekat seumur hidup dan membawa tanggung jawab untuk menjadi representasi generasi Indonesia dalam bersikap terhadap bahasa.
“Tidak ada istilah pensiunan Duta Bahasa karena gelar ini melekat seumur hidup pada nama peserta. Ini bukan tugas sampingan, melainkan komitmen untuk menjadi representasi orang Indonesia yang ideal melalui sikap kebahasaan,” ujar Hidayat dalam keterangan resminya.
Ia meminta para finalis turut mengubah cara pandang masyarakat terhadap bahasa Indonesia agar tidak dianggap kaku. Bahasa Indonesia, kata dia, harus dapat tampil luwes, fleksibel, dan menarik sehingga lebih dekat dengan generasi muda.
Isu perubahan bahasa akibat digitalisasi juga menjadi perhatian peserta. Finalis asal Kepulauan Riau, Imanuel Maitri Wisan Junior, mengatakan perkembangan teknologi turut memengaruhi cara masyarakat berkomunikasi.
“Saya sendiri ikut tertarik mengikuti Pemilihan Duta Bahasa itu karena banyak sekali bahasa yang sudah dipengaruhi oleh digitalisasi,” kata Imanuel.
Ia ingin menggunakan peran tersebut untuk mengajak masyarakat dan generasi muda menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai konteks, sekaligus melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa asing.
Menurut Imanuel, penggunaan bahasa yang tepat dapat membuat komunikasi lebih efektif sekaligus mendukung peningkatan literasi masyarakat.
Sementara itu, finalis perwakilan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Rija Ulia Mayri, melihat bahasa Indonesia dan bahasa daerah memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.
“Bahasa Indonesia adalah hal yang mempersatukan kita dan bahasa daerah adalah hal yang membuat kita terlihat unik,” ujar Rija.
Selain menjalani kompetisi, para finalis juga akan dinilai untuk menentukan pemenang terbaik, pemenang harapan, dan pemenang terfavorit Duta Bahasa Nasional 2026.
Pembukaan kegiatan ditandai dengan penyematan samir kepada dua perwakilan finalis, yakni Maelewis J. R. dari Kepulauan Riau dan Rija Ulia Mayri dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.








Discussion about this post