MASAKINI.CO – Sebanyak 40 mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh belajar langsung merawat makam kuno yang menjadi bagian dari cagar budaya di Kota Banda Aceh.
Mereka terlibat dalam kegiatan “Survei dan Pemeliharaan Cagar Budaya di Kota Banda Aceh” yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh pada 4-5 Oktober 2026.
Mahasiswa dibagi ke empat lokasi, yakni Makam Syahbandar Mukhtabar Khan di Gampong Jawa, Makam Raja Reubah di Gampong Lamlagang, Makam Tuan Maqdum atau Sayed Muhammad Ibnu Sayed Al Kadir di Gampong Bitai, serta Makam Jeurat Manyang di Gampong Blang Cut dengan didampingi empat dosen, yaitu Prof. Inayatillah, Marduati, M.A., Ph.D., Dra. Munawiah, M.Hum., Ph.D., dan Asmanidar, M.A.
Kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi sebagian mahasiswa karena mereka untuk pertama kalinya berhadapan langsung dengan objek cagar budaya. Di lokasi, mereka mendapat penjelasan tentang bentuk jirat, batu nisan, ukiran, serta cara membersihkan benda bersejarah tanpa merusaknya.
Dosen SKI UIN Ar-Raniry, Marduati, mengatakan perawatan makam berusia ratusan tahun membutuhkan teknik dan kehati-hatian. Batu nisan tidak bisa diperlakukan seperti benda biasa karena ukiran dan bentuknya dapat rusak jika dibersihkan dengan alat yang tidak tepat.
“Prinsipnya, alat pembersih tidak boleh lebih keras daripada benda yang dibersihkan,” ujarnya, Senin (5/10/2026).
Prof. Inayatillah mengatakan makam-makam kuno tersebut merupakan salah satu bukti fisik yang masih bertahan dari masa kejayaan Aceh. Bentuk jirat dan batu nisan memiliki karakter yang berbeda sesuai dengan masa pembuatannya.
Menurutnya, sejumlah ukiran pada jirat dan nisan juga menampilkan motif bunga serta tumbuhan yang dekat dengan kehidupan masyarakat pada masa itu.
Setelah mendapat pembekalan, mahasiswa bersama peserta lainnya membersihkan area makam dan mengangkat lumut yang menempel pada batu nisan. Pembersihan dilakukan menggunakan teknik kering dan basah sesuai kondisi masing-masing objek.
Koordinator Penyelamatan Warisan Budaya BPK Wilayah I Aceh, Sudirman, S.S., M.Hum., mengatakan kegiatan tersebut merupakan konservasi ringan. Meski demikian, prosesnya tetap harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah kerusakan pada objek.
“Kegiatan ini kami batasi jumlah masyarakat yang terlibat, didukung peralatan yang memadai dan pendampingan tenaga ahli,” kata Sudirman.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk ikut menjaga peninggalan sejarah di daerah masing-masing.
“Ketika kembali ke kampung halaman, mereka bisa menerapkan ilmu ini untuk merawat peninggalan sejarah di daerahnya,” ujarnya.
Sudirman menegaskan makam kuno merupakan peninggalan yang tidak dapat dibuat kembali jika rusak atau hilang. Kerusakan pada objek juga dapat menyebabkan hilangnya informasi sejarah yang tersimpan di dalamnya.
Kegiatan tersebut turut melibatkan masyarakat Gampong Jawa. Geuchik Gampong Jawa Misrifun mengikutsertakan 20 warga untuk membantu proses pemeliharaan.
Misrifun berharap kompleks makam di Gampong Jawa mendapat perhatian lebih karena sejumlah batu nisan di lokasi tersebut sudah patah.
“Kami berharap makam ini bisa diperbaiki dan ditata rapi, serta dilengkapi fasilitas pendukung yang dibutuhkan,” katanya.










Discussion about this post